Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
97. Jika kau tak kembali


__ADS_3

"Rey, jangan sampai kau selingkuh." Alisa tak membalas pelukan suaminya.


"Kenapa berpikir seperti itu." Rey semakin memeluknya, wanita bule itu menghindari nafas Rey yang semakin mendekat.


"Semalam aku bangun, aku mencium bau rokok di mulutmu. Sudah pasti kau habis bersenang-senang." Alisa masih kesal.


"Oh itu, aku semalam dari rumah Aldo. Dia merokok karena sedang pusing, aku jadi ikut merokok karena aku juga pusing." Rey menjelaskan.


"Apa yang kalian pusingkan sampai harus merokok?" Alisa memicingkan matanya, dia sangat ingin tahu.


"Saat kami semua ada di Cafe, mereka sempat ribut Dev memukul Aldo. Aldo tidak membalas, dia pulang menghantarkan Reva, tapi ternyata dia kembali keluar dan menunggu di rumahnya yang lama. Mereka kembali berkelahi, Aldo balas memukul Dev." Jelas Rey.


"Lalu kau diam saja?" Alisa melirik suaminya lagi.


"Aku membawa Aldo pulang, maka dari itu aku di sana." Rey masih tak melepaskan Alisa.


"Kapan urusan mereka akan selesai?" Alisa bergumam.


"Hanya Tuhan saja yang akan menyelesaikan masalah mereka, sulit sekali menemukan jalan keluarnya, mereka sama-sama keras kepala." Jawab Rey lagi.


"Begitu. Nanti sore kita pulang sayang, Senin aku ada jadwal kerja pagi." Pinta Alisa.


"Baiklah sayang, kita akan pulang." Rey memeluk Ayra yang sudah merayap meraih baju Rey, anak itu sungguh pintar sekali.


"Kau lebih sayang siapa, aku atau Ayra?" Tanya Alisa lagi.


"Tentu sayang keduanya, kau dan anak kita. Kau cinta pertamaku, dan ini buah cinta kita." Rey memeluk keduanya. "Kau lihat bibirnya seperti bibirmu, matanya seperti aku, pipinya sepertimu, hidungnya seperti aku, dia mirip kita berdua." Ucap Rey mengecup pipi istrinya yang lembut dan halus.


"Apapun yang terjadi kita akan selamanya bersama." Jawab Alisa memeluk Rey erat sekali.

__ADS_1


"Tentu saja, kau istriku. Sekalipun papa dan mama memaksa untuk meninggalkanmu, aku tidak akan menyerah, aku akan bertahan untuk mu dan untuk anak kita. Selama ini mereka menentang kita sayang, tapi sungguh nyawa akan ku pertaruhkan untuk selalu bersama kalian." Rey menciumi Ayra dan Alisa bergantian.


"Kemarin mama meneleponku Rey." Alisa menatap wajah Rey dengan sedih.


"Lalu?" Rey terkejut dan merasa khawatir.


"Dia rindu pada ku, juga ingin bertemu Ayra." Jawab Alisa pelan, ia tampak berpikir.


"Mereka masih tidak bisa menerimaku." Ucap Rey pelan, wajah ala Timur Tengah itu terlihat bersedih.


"Mereka menyuruhku pulang tanpamu, aku tidak mau Rey." Alisa menunduk.


Rey bangun meletakkan Ayra di box bayi khusus tempat bermain, lalu duduk kembali mendekati Alisa. "Aku tak keberatan kau menemui orang tuamu, tapi yang membuatku takut jika kau tak kembali lagi Alisa. Aku tidak mau berpisah denganmu dan anak kita, aku tidak mampu untuk itu." Rey meraih wajah cantik kemerah-merahan itu mendekat, menatapnya sedih dan sendu, dia takut kehilangan.


"Aku juga tidak bisa jauh darimu Rey, aku bisa gila." Alisa meneteskan Air mata dan memeluk erat tubuh gagah Rey.


Rey diam sejenak menahan rasa yang serba salah, cintanya tak terbatas tapi restunya tak kunjung di dapat. Meski Alisa sudah ia miliki tapi masih ada hati yang merasa terhianati. Sungguh semua kisah di dunia ini tak ada yang sempurna.


"Entahlah, aku belum mencobanya." Jawab Alisa pelan.


"Wajar jika papa tak merestui kita, aku hanya prajurit biasa yang tak punya apa-apa. Aku bahkan merebutmu memintamu masuk dalam agamaku, sudah pasti mereka marah. Kau anak satu-satunya dengan perusahaan yang mendunia, hartamu tak terhitung Alisa. Jauh sekali dengan kehidupanmu bersamaku saat ini kau menjadi orang biasa." Suara Rey terdengar bergetar.


"Tapi aku sangat bahagia bersamamu, walaupun terkadang aku merindukan papa dan mama." Alisa masih menangis.


"Apa yang harus ku lakukan? Jika melepaskanmu aku tak akan mampu." Rey menunduk menatap wajah yang sudah penuh air mata itu, pikirannya melayang jauh. Teringat kisah adiknya yang begitu rumit, sungguh jika melepas orang yang dia cintai untuk merelakan dia bahagia itu tidaklah mudah, Rey bahkan tidak mampu melakukannya. Itu sebabnya Rey tak pernah bersikeras untuk membuat rekannya itu ikhlas, karena Rey saja tidak akan bisa ikhlas jika Alisa bersama laki-laki lain dan hidup bahagia. Kini Rey paham dengan situasi yang dirasakan Dev ataupun adik iparnya, egois dengan mengatasnamakan kata cinta.


***


Di kamar bernuansa putih biru itu Ayu mengambil ponsel David dengan diam-diam, dia membuka ponselnya melihat seluruh kontak, panggilan dan pesan. Tak lupa foto yang ada di galeri ponsel itu jadi sasarannya, mengotak-atik semua yang mungkin tersimpan foto wanita yang di curigai olehnya.

__ADS_1


"Sayang." David keluar dari kamar mandi.


"Apa nama akun sosmed milikmu?" Ayu berpura-pura sedang ingin tahu akun sosial media milik David.


"Oh, sini biar aku membukanya." David meletakkan handuk dan meraih ponsel itu. "Ini." David menyerahkan ponselnya kembali.


Ayu segera mengetik di akun miliknya. "Sudah." Ayu memberikannya kembali, wajahnya masih saja tak terlihat hangat.


"Kau masih marah?" David mencoba mendekati Ayu dan memegang tangannya.


Wanita cantik semampai itu diam tak menjawab tapi tak juga menolak, membuat David berani melancarkan aksinya menggenggam tangan kecil itu dan mengecupnya.


"Kau ingin aku bagaimana sayang?" David meminta pendapat istrinya yang masih terlihat merajuk.


"Tidak." Ayu malah berbaring membelakangi David.


"Sayang, jangan marah lagi, bila kau menginginkannya aku akan memecat wanita itu." David berkata serius. Ayu tak bergeming masih menatap layar putih itu menyala.


"Baiklah, aku akan memecatnya hari ini." David meraih ponselnya dan segera menghubungi Adi. "Halo Adi!" Suara David sedang menelepon.


Ayu bangun dan meraih ponsel David. "Kau tidak perlu memecatnya!" Ayu berteriak.


"Tapi kau marah karena dirinya? Aku baru saja menikahimu dan memilikimu, apa harus ribut terus karena wanita itu?" David terlihat memohon, ingin kembali meraih ponselnya.


"Tidak perlu, aku tidak setega itu. Mungkin dia memang butuh pekerjaan." Ayu memastikan sambungan ponsel David sudah terputus.


"Dengar sayang, aku tidak peduli dengannya. Aku hanya ingin menikmati waktu bersama dirimu dengan tenang." David meraih tangan itu lagi, meyakinkan dengan sungguh-sungguh.


"Aku tau." Jawab Ayu singkat, suaranya terdengar pelan dan sudah melunak.

__ADS_1


"Aku harus bekerja hari ini, ini hari Minggu pasti ramai sekali di sana. Kau ikut bersamaku, jika bosan bisa tidur atau keluar bermain di sekitar Cafe." David mengelus pipi tirus itu dengan penuh kasih sayang.


"Iya." Jawab Ayu menurut, tentu saja ikut dengan David lebih baik baginya.


__ADS_2