Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
107. Manusia sebodoh diriku


__ADS_3

"Bi!" Reva memanggil-manggil bibi Tuti, tampak wanita itu berlari dari belakang.


"Iya non, ada apa?" Bibi menatapnya heran, selama ia tinggal di rumah itu Reva tak pernah memanggilnya sepagi ini.


"Aku ingat kemarin beli nangka bi, apa sudah di bersihkan?" Reva mencari di lemari pendingin tapi tidak menemukannya.


"Ada non, itu di lemari es yang di dapur." Wanita itu menunjuk ragu.


"Aku akan mengambilnya." Reva melewati bibi.


"Jangan non, biar bibi saja." Bibi menahan Reva, tapi wanita itu tampak seperti sedang kebingungan.


"Kenapa bi?" Reva menatapnya penuh tanya.


"Kalau sudah hamil besar gak boleh makan nangka non, kata orang ari-arinya bisa lengket!" ucapnya terdengar pelan dan takut.


"Tapi aku benar-benar menginginkannya bi." Reva memohon.


"Tidak boleh." Suara Aldo membuat kedua wanita itu terkejut. "Buang saja bi!" ucap pria itu lagi.


"Mas aku menginginkannya, jangan di buang." Wajah cantik itu memelas.


"Tapi itu tidak boleh, kenapa harus di langgar jika sudah di katakan tidak boleh!" Aldo tak mau di bantah.


"Mas, kasih satu aja gak apa-apa, kasihan." Bibi Tuti sungguh tidak tega.


"Tidak!" Aldo terlihat serius dengan wajah yang dingin.


"Aku benci kamu mas." Reva meninggalkan Aldo berlalu, wajah itu sangat kesal dan marah. Aldo menyusulnya menuju mobil yang memang mereka berencana untuk ke rumah sakit lebih pagi.


Di dalam mobil kedua orang itu tak terlibat pembicaraan apapun, Reva diam tak melihat Aldo sama sekali. Berbeda dengan Aldo yang tak henti melirik wanita cantik yang duduk di sebelahnya. Hingga tiba di rumah sakit Aldo mengambil parkiran yang paling sudut, tampak halaman rumah sakit yang masih sepi membuatnya leluasa memilih tempat parkir kendaraan.

__ADS_1


Aldo tak membukakan pintu, tapi duduk menyandar dengan melirik istrinya yang masih saja merajuk dari semalam. "Sayang maaf aku tidak bermaksud melarangmu memakan apapun, tapi tidak untuk hal yang akan menyulitkanmu." Aldo mencoba berdamai.


Reva tak bergeming, masih tak mau menjawab bahkan melihat.


"Baiklah." Aldo terlihat putus Asa, tapi kemudian berbalik memeluk tubuh besar itu dan menciumnya dengan paksa.


Tangan itu menolak tapi tak kuasa melawan, sudah pasti tenaganya tak seberapa. Hingga kemudian tangan itu diam, bibirnya sudah basah dan nafasnya sudah pasrah. Aldo semakin menguasai suasana, berulang kali mempermainkan bibir merah merekah itu, tak sadar jemari lentik itu sudah bergelayut mesra, wajah cantik itu begitu menikmati aroma nafas yang hangat begitu membuatnya lupa bahwa dia sedang marah.


Aldo melepaskan. "Kita masuk ke dalam." ucap Aldo menahan nafas yang memburu, matanya tak henti memandang wajah di hadapannya sedang lemas menyandar menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Reva tak menjawab hanya bergerak meraih tas di sampingnya hingga Aldo membukakan pintu menunggu ia berdiri dan meraih penggungnya berdua masuk ke dalam rumah sakit.


"Ayu, kau di sini semalaman?" Reva menatap David dan Ayu bergantian.


"Iya kak." Ayu meminta ibu hamil itu duduk di sebelahnya.


"Apa ibu sudah bangun?" tanyanya lagi seraya duduk di samping Ayu.


Reva melirik ada makanan ringan yang tergeletak di samping Ayu. "Apa itu boleh di makan." Reva menunjuk satu bungkus makanan itu.


"Ini_" Ayu tak melanjutkan kata-katanya, tapi melirik pria yang sejak tadi diam duduk berjarak dengannya.


"Apa kau belum makan?" tanya Dev tersenyum. Dia meraih kantong plastik berisi makanan lalu memberikannya.


"Tidak perlu, dia akan makan di kantin saja." Aldo melirik Ayu sekilas.


"Ah baiklah, semenjak mengandung kakak memang lebih suka makan nasi di pagi hari agar tidak mudah lemas." Ayu beranjak, tersenyum lalu mengajak Reva untuk pergi ke kantin rumah sakit.


Dev menatap pria yang masih berdiri, tangannya kembali meletakkan kantong plastik berisi makanan itu di sampingnya. "Makanan dariku tidak mengandung penyakit!" ucapnya kesal.


"Aku tau, tapi dia memang butuh makanan berat." Aldo tak mau melihat teman bicaranya.

__ADS_1


"Aku tidak sedang meminta perhatian pada istrimu, aku disini karena saat ibuku sakit dan meninggal Rey dan istrimu selalu ada bersamaku. Jadi alangkah tidak sopan jika aku tidak peduli saat ibunya juga sakit." Dev terlihat sibuk memakai jaket miliknya.


"Aku tidak bermaksud begitu, hanya istriku sedang sering merajuk dan tadi tidak makan karena kesal padaku." Aldo merasa sedikit tak enak hati.


"Orang sepertiku tidak untuk bersaing padamu, juga tidak akan menang jika dibandingkan denganmu, kau tak perlu khawatir akan kehilangan istrimu. Juga tak akan meminta dia kembali padaku, Aku sudah tau dia tak akan mau." Dev berlalu.


Aldo menarik nafas dalam-dalam, memejamkan matanya dengan perasan lelah.


"Kapan kalian akan berdamai jika terus seperti itu?" David menatap wajah sahabatnya yang akhir-akhir ini terlihat sangat egois.


Aldo berbalik mengejar rekannya yang mungkin belum jauh, dan benar saja pria itu berjalan pelan tak pernah terburu-buru.


"Kita perlu bicara." Aldo membuat pria itu menghentikan langkahnya. Dia tak berbalik, hanya menunggu kalimat apa yang akan di dengarnya di pagi buta ini.


"Katakanlah." jawabnya singkat.


"Kita harus mengakhiri keadaan ini." Aldo mensejajarkan diri di samping temannya.


"Apa kita harus berkelahi hingga babak belur untuk menyelesaikan semua ini?" ucapnya pelan.


"Apa kau merasa itu perlu?" ucap Aldo balik bertanya, kedua orang itu menatap lurus ke depan menyaksikan halaman rumah sakit yang masih gelap.


"Apa pukulan ku waktu itu masih kurang?" Dev tersenyum sinis.


"Aku masih belum puas membalas mu!" Aldo membuang pandangannya ke samping.


"Karena seorang wanita hubungan persahabatan dan persaudaraan kita berakhir." Dev masih menatap lurus tak merubah posisinya.


"Jika dia wanita biasa, tentu aku akan memilihmu. Tapi aku terlalu mencintainya, dan melupakan hubungan antara aku dan dirimu." jawab Aldo.


"Aku-pun terlalu mencintainya hingga ingin kau menikahinya dan berharap dia tidak melupakan aku. Tapi sungguh itu keliru, aku sudah menggali luka di tubuhku sendiri, dan obatnya tak bisa ku dapat di mana-mana. Aku kira melihatnya bahagia bersamamu akan membuat ku turut bahagia, tapi ternyata malah membuat hatiku menangis di sepanjang sisa hidup ini. Dan ku harap tak ada manusia sebodoh diriku, yang memberikan wanita tercintanya pada orang lain, itu sungguh menyakitkan." Dev berlalu meninggalkan Aldo sendiri, dia sengaja tak menoleh karena membuatnya semakin sakit.

__ADS_1


Merasa tersakiti walau tak ada yang menyakiti, merasa di lupakan walau tak ada yang melupakan. "Aku yang menyakiti, aku yang ingin melupakan, dan Tuhan membalikan keadaan." batinnya berkecamuk penuh penyesalan.


__ADS_2