Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
172. Aku cukup tahu diri


__ADS_3

Dev menoleh hingga kedua laki-laki itu saling menatap, sejenak namun kemudian Dev tersenyum dan menunduk.


"Aku cukup tahu diri untuk menyukai adikmu, jikapun itu benar hanya hatiku saja yang merasakannya. Aku ingin adikmu mendapat laki-laki yang benar-benar mencintainya dan bisa membuatnya bahagia, dan yang pasti itu bukan aku. Tapi jika Adi mengincarnya maka aku juga akan ikut menjaganya, karena kau dan aku tahu dia bukan orang baik, meskipun aku juga bukan orang yang baik tapi paling tidak aku berusaha untuk menjadi baik." jawab Dev memahami pikir Aji.


"Maaf." ucap Aji merasa tak enak hati.


"Jika aku menjadi kau, aku juga akan merasakan ke khawatiran yang sama." Dev tertawa kecil.


"Dia benar-benar polos kak, aku takut dia jatuh cinta pada orang yang salah." jelas Aji lagi, dia sedang menegaskan kekhawatirannya.


"Aku tidak selancang itu meskipun aku menyukai adikmu. Jika saja aku sehat dan mampu membahagiakan dirinya, mungkin aku akan mati-matian menentangmu walaupun kau tidak setuju.Tapi ini berbeda, aku hanya bisa menyukai dan menyayangi dia sebagai adik saja mungkin, bukan sebagai kekasih." Dev juga sedang menjelaskan perasaannya.


Aji menoleh, dia memahami keadaannya sekaran, Dev memang menyukai Erita. Lalu bagaimana dengan Erita? Ah lagi-lagi kepala Aji jadi semakin pusing, belum lagi tentang Adi yang baru saja dia tahu pria mesum itu mendekati adiknya. Seorang Adi tak akan mau memberi tumpangan pada wanita yang baru di kenalnya jika dia tidak menyukai atau memiliki maksud lain. Aji tahu betul tentang semua itu, wajar saja jika Dev yang sudah dewasa dan berpengalaman mengatakan dia tidak baik, memang kenyataannya Adi tidak cukup baik untuk Erita.


"Terimakasih sudah memberitahu ku tentang Adi, aku akan lebih mengawasi Erita." Aji tersenyum dan menunjukkan sikap sopan pada Dev, dia tahu pria itu orang baik seperti yang di katakan Aldo padanya.


"Tidak perlu berterimakasih, aku hanya tidak ingin Bibi kesayangan putraku patah hati dan hancur karena pria itu." Dev tertawa sekalian bercanda, Aji memang tipe orang yang sopan dan serius sehingga tak pernah mendengar pria itu tertawa.


"Iya Kak, adikku juga menyukai putramu." Aji tersenyum, sejenak kemudian mereka sama-sama masuk ke dalam rumah masing-masing.


Keesokan harinya, seperti rencana awal Erita sudah bersiap untuk ikut bekerja. Wajah cantiknya terlihat bersemangat memulai hari pertama di sana bersama banyak orang yang begitu sibuk seperti yang dia lihat kemarin. Gelar D3 seharusnya dia menjadi wanita yang berkarier di kantor saja, namun untuk sementara Aji benar-benar berniat untuk membawanya belajar bekerja.


"Bibi!" panggil anak kecil yang sudah memakai tas di punggungnya itu, wajah lucunya semakin lucu dengan rambut tersisir sangat rapi.


"Hari ini, Bibi akan bekerja." Erita berkata padanya dengan sedikit mendekat.

__ADS_1


"Pulang jam berapa?" tanya Dimi penasaran.


"Sebelum Ashar sayang, kita masih bisa bermain." ucapnya penuh semangat.


"Aku menunggumu Bibi." jawabnya sangat bahagia.


"Tentu saja sekolah yang benar ya, setelah itu kita akan bermain." Erita menjauh karena ayah Dimitri sudah siap dengan seragam militernya yang terlihat gagah.


"Siap!" jawabnya mengangkat satu tangan di atas kening.


"Ayo Dik!" Aji sudah siap di atas motor, begitu juga Dimitri yang sudah terlihat naik di belakang ayahnya.


"Bibi pergi lebih dulu ya!" Erita sedikit berteriak saat sepeda motor Aji mulai melaju.


"Iya!" anak kecil itu juga berteriak kencang membuat ayahnya menutup satu telinganya.


Dimitri hanya tertawa senang mendengar ungkapan ayahnya.


Hari-hari berlalu dengan wajar, tak ada kemajuan dari rasa yang terpendam diantara Dev dan Erita, Dev hanya bisa melirik dan sekedar menyapa. Sedangkan Erita terus saja sibuk bekerja dan tidak begitu memikirkan rasa yang sempat menggoda hatinya.


Tapi Adi semakin gencar melancarkan aksi pendekatan pada gadis itu, pria itu benar-benar tidak bisa tenang dibuatnya hingga ia lebih sering datang di siang hari hanya untuk melihat gadis pujaan hati. Walupun Erita tak merespon pada setiap perhatian yang dia tunjukkan namun sepertinya pria itu masih tak menyerah.


"Erita, nanti kakak antat kau pulang ya?" Adi mendekati Erita yang tengah sibuk dengan makanan yang sedang di tata di piring yang berbaris di meja besar dapur Cafe itu.


"Maaf Kak, aku sudah punya langganan untuk mengantar jemput bekerja." jawab Erita halus, tentu dia harus lebih waspada dengan pria itu karena Aji sudah memberi tahunya lebih dulu.

__ADS_1


"Kau selalu menghindari aku Erita, apa kau sudah punya pacar?" tanya Adi masih terlihat penasaran.


"Tidak Kak, aku hanya sedang fokus bekerja. Ingin mencari uang sendiri dan jika nanti ada batu lonjakan untuk bekerja di kantor aku akan berpindah dari sini." jawabnya jujur.


"Atau Aji melarangmu dekat denganku?" tanya Adi lagi, dia yakin sekali bukanlah pekerjaan yang menjadi alasan.


"Tidak, kakak tidak seperti itu. Dia menyerahkan semua padaku termasuk soal siapa yang akan menjadi suamiku nanti." Erita sedikit tersenyum, dia tak ingin Adi dan Aji bermasalah.


"Kalau begitu, beri aku sela untuk mendekatimu Erita." Adi tersenyum manis, lebih mendekati Erita hingga hampir tak berjarak kening Adi dan kepala yang terbungkus hijab itu.


"Maaf kak, aku tidak bisa melihat piring-piring itu." Erita menunjuk piring di samping Adi.


Adi tersenyum, dia semakin gelisah menatap sekilas wajah mungil Erita dari dekat.


"Baiklah, jangan lupa kau makan dan minum. Kesehatan harus nomor satu." ucap Adi menahan gemas di dadanya.


"Iya." jawabnya polos.


Begitulah hari-hari yang ia lalui di Cafe tempat ia bekerja. Hingga satu hari seperti biasa ketika stok kopi menipis Aji akan pergi ke kampung halamannya untuk mengambil kopi di gudang. Kopi-kopi pilihan itu memenuhi gudang dengan kualitas yang sudah di tentukan oleh ayahnya, tentu saja buah kopi itu berasal dari kebun milik kedua kakak sepupu jauhnya, Rey dan Reva.


"Minumlah dulu, kau kelelahan." Adi menyodorkan jus jeruk untuk Erita, wanita yang amat kelelahan sejak pagi ia belum sempat duduk barang sejenak. Akhir pekan memang membuat sendi para pegawai menjadi pegal-pegal.


"Terima kasih kak." tanpa berpikir Erita langsung saja meminumnya, memang semua pegawai mendapat hidangan yang sama.


"Jika kau lelah, itu ada kamar kakakmu. Kau bisa beristirahat sejenak sementara yang lain akan menggantikan dirimu, meskipun hanya lima belas menit." jelas Adi melihat jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih kak, aku masih bisa." jawabnya masih sibuk bekerja.


__ADS_2