Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
142. Bertemu di pantai kenangan.


__ADS_3

Dulu, di pantai ini Dev dan Reva pernah jalan-jalan dan menghabiskan akhir pekan. Suasana sejuk menenangkan hati sungguh membuat kejenuhan atas pekerjaan bisa menghilang. Namun pada akhirnya, bukan kejenuhan saja yang harus hilang, kisah merekapun harus menghilang karena ombak kehidupan yang nyata begitu menyakitkan.


Mengenang kisa cinta yang sungguh sudah tak mungkin di selamatkan, semua yang indah itu terus mengiringi langkah seakan dapat kembali merasakannya. Namun hanya kesedihan yang abadi menemani langkahnya hingga kini.


Jika kau bertemu aku sebelumnya, tidak di saat tubuh ini berlumpur dosa dan lelah, sendiri terhukum dengan penyesalan yang tak pernah berkesudahan. Sedih, sepi, tapi tak ada yang dapat merasakannya, hanya sendiri dan sendiri saja.


Sedangkan engkau ada di sana dengan kebahagian yang sempurna, terkadang merasa tak adil tapi itulah hidup. Semua sudah di atur dengan baik oleh yang Maha Kuasa.


Dev masih terdiam menyaksikan kebahagiaan Reva dan Aldo, tampak tak jauh darinya tawa dan manja wanita yang dicintai begitu nyata. Aldo memeluk dan membelainya dengan penuh kasih sayang, tentu hatinya masih cemburu, tapi harus tahu diri dia bukanlah miliknya lagi.


Dev mencoba menguatkan diri dan mendekat, pria itu berusaha tak menunjukan kesedihan.


"Kau sudah sampai?" Aldo yang melihat kehadirannya langsung menyapa.


"Iya." Dev tersenyum manis, mensejajarkan diri dengan Aldo.


Berharap ada sedikit perhatian dari mantan tunangan atas ketampanan yang masih tersisa. Ah itu memang konyol, tapi hati tak bisa berbohong bahwa masih ingin meminta sedikit perhatian darinya.


"Kau memakai baju yang sama denganku?" Aldo melihat baju yang di kenakan Dev, kaos putih polos yang merupakan kesukaan istrinya.


"Dasar mantan, mau minta perhatian bilang saja, rasanya aku ingin merobek bajumu." isi hati Aldo, tentu penyakit cemburunya akan merajalela jika melihat hal yang sengaja seperti itu.


"Hanya kebetulan, aku memang menyukainya." Dev sengaja pura-pura tidak tahu, walau hatinya mengatakan bahwa Aldo sudah tahu.


"Bukankah kau akan menikah?" Aldo mengalihkan obrolan, sekaligus mengingatkan bahwa sebentar lagi akan menikah.


"Iya." Dev menjawab singkat, matanya melihat Reva dan yang lainnya sedang duduk bersama.


"Istriku ingin bicara denganmu." Aldo langsung saja mengatakan tujuan mereka bertemu.

__ADS_1


"Aku juga ingin bicara dengan istrimu, hanya aku tidak ingin membuatmu beringas dan marah padanya." Dev tersenyum menatap tempat yang jauh.


"Aku lebih menyayanginya Dev, kau tak perlu khawatir." Aldo mencoba tersenyum dan lebih sabar kali ini.


Dev tersenyum getir, tentu saja hatinya menentang.


"Aku tahu kau juga menyayanginya bahkan lebih dulu sebelum aku. Kau memiliki tempat khusus di hatinya, dan aku memahami hal itu." Aldo bicara lembut, sepertinya suasana di pantai membuat otaknya menjadi sejuk.


"Tapi kau pemilik hatinya." jawab Dev masih terdengar kecewa.


"Itu sebabnya aku tahu di mana posisimu, karena akulah pemiliknya. Dan aku tidak boleh egois, kau dan aku sama-sama mencintainya. Aku tak akan bisa melarangmu untuk tetap mengingatnya, kau juga tak bisa menghentikan aku untuk selalu bersamanya. Dan aku yakin, saat bersamaku mungkin saja dia masih mengingatmu, karena awal bertemu adalah dirimu. Begitupun jika aku membiarkan kau kembali bersamanya, dia tak akan bisa melupakan aku karena aku dan dia pernah bersama dan aku adalah orang yang juga selalu terikat dengan dirimu."


"Aku tidak akan mampu merasakan itu, dia lebih mencintaimu dan tidak bisa jauh darimu." Dev semakin bersedih mendengar semua kemungkinan itu.


"Bedanya hanya sedikit Dev, hanya sebatas ukuran perasaan cinta yang pernah kita berikan. Kau pernah memberikan cinta padanya, aku juga sedang memberikan cinta padanya, kita hanya mengharap balasan yang sama. Dan kau tahu, dia sudah membalas cinta kita, dia pernah menangisimu dengan begitu sedihnya, dan aku juga pernah membuatnya menangis dengan begitu sedih juga."


"Dan kau tidak pernah menyakitinya." Dev mencoba menahan rasa sakit yang bersemayam begitu sulit dimusnahkan.


"Hanya itu yang bisa ku lakukan." jawabnya pelan.


"Aku harap kita tidak perlu bertengkar lagi hanya karena rasa iri dan cemburu tak beralasan." Aldo menatap wajah sendu itu begitu lekat.


"Aku juga lelah bertengkar denganmu." jawab Dev tersenyum melihat Aldo, sungguh lesung pipi itu mengingatkan Dev dengan masa kecil yang begitu mengharukan.


Lama keduanya saling menatap seakan kembali ke masa lalu, hingga hati mereka kembali terselimuti dengan kasih sayang. Dev meraih bahu teman juga adik baginya, memeluknya erat seperti saat kecil mereka selalu bersama, berbagi semua hal termasuk sepotong roti, juga segelas susu di minum bersama.


"Aku minta maaf sudah terlalu egois" ucap Dev di ketika wajahnya berada di atas bahu Aldo.


"Aku juga, aku masih saja sulit mengendalikan emosi ku. Aku minta maaf." Aldo juga sangat terharu ketika dapat memeluk tubuh yang semakin kurus itu lagi.

__ADS_1


Hingga beberapa saat akhirnya mereka lepas dari suasana haru itu.


"Boleh aku meminjam istrimu?" Dev mulai berani mengajaknya bercanda.


"Pinjam tapi jangan diambil." balasnya.


"Kau sudah menikahi tunangan ku." Dev sedikit tertawa.


"Kau yang memberikannya." membuat mereka tertawa bersama.


Aldo berjalan mendekati istrinya yang sedang menimang Zahira, Dev juga mengikutinya karena memang dia ingin bicara.


"Sayang, sini aku saja yang menggendongnya." Aldo meraih bayi kecil itu.


"Topinya jangan di lepas mas, dia akan kedinginan." Reva merapikan topi di kepala Zahira.


"Iya sayang." Aldo tersenyum manis sekali menatap wajah istrinya. Aldo berjalan sedikit menyandar di mobil bagian depan dengan Zahira.


"Reva!" panggilan yang sudah sangat lama tak di dengar, namun masih bisa ia kenali siapa orangnya.


Reva menoleh sedikit, "Mas." jawabnya kembali memunggungi pria di belakangnya.


Dev berdiri di ujung mobil bagian belakang, Reva tetap menyandar diantara pintu mobil.


"Aku hanya ingin bicara denganmu." ucapnya pelan.


"Aku tahu, dan aku juga ingin bicara denganmu mas." Reva menatap jauh ke depan terlihat pantai sedang memamerkan keindahannya, ombak yang menyapu seluruh sisi yang yang sudah tak rapi, pasir-pasir yang sudah terinjak itu kembali rata.


"Aku minta maaf dengan semua yang sudah kita lewati, ku akui memang masih begitu sulit untuk melupakanmu, tapi sungguh aku sedang berusaha." Dev ingin sekali berbicara sebanyak-banyaknya, namun dadanya kembali sesak saat berhadapan dengan Reva.

__ADS_1


"Aku tak menyalahkan mu mas. Hanya saja aku merasa bersalah jika kau hidup dalam kesedihan selamanya, sungguh aku tidak ingin kau seperti itu. Terkadang aku merasa bersalah dengan kebahagiaan ini, sedangkan kau hanya hidup dengan sendiri menyepi dan tak ada yang menemani. Aku juga bersedih dengan keadaanmu mas, hanya tak bisa melakukan apa-apa."


__ADS_2