
"Siapa mereka, mengapa mengejar kita ??? "Tanya Dev sambil terus berlari
"Nanti aku ceritakan." Mereka terus berlari berbelok menuju gang sempit yang gelap,. Dan tak disangka di sana sudah ada dua orang yang menghadang mereka. Aldo dan Dev berhenti. Mereka merapatkan badan saling membelakangi sadar bahwa mereka dalam bahaya.
"Sebaiknya kau ikut saja, kita berunding !" Pria yang mengejar mereka tersenyum licik.
"Tidak " Aldo menjawab cepat.
Dua orang di belakang mereka mulai menjatuhkan pukulan, Dev menghindar, Aldo pun ikut menyerang. Pertarungan tak bisa di hindari lagi.
"Bugh .. !!" Salah satu dari mereka berhasil menendang perut Aldo.
Dev yang sadar hal itu langsung mendekat,. Mereka kembali memasang kuda-kuda. "Aldo kita harus pergi !!"
Mereka kembali beradu tinju dan saling menendang, akhirnya Aldo berhasil memukul salah satu dari mereka, laki-laki berkepala plontos itu terjatuh, kesempatan itu tidak di sia-siakan Dev dan Aldo untuk kabur. Berlari menyusuri lorong gelap dan kemudian berhenti di ujung sana, beruntung di ujung gang tersebut ramai warga yang sedang duduk dan bermain catur membuat orang-orang yang memburu mereka berhenti mengejar. Keduanya menarik nafas lega.
"Kita pulang." Dev beranjak akan berdiri namun kemudian Aldo meraih pundaknya.
"Kita tidak bisa pulang malam ini."
"Lalu kita kemana?" Dev tampak pasrah dan bingung.
"Aku sudah pesan taksi, kita tunggu sebentar." Ucap Aldo dan tak lama kemudian taksi datang, mereka segera masuk dan pergi dari tempat itu.
"Ini rumah siapa?" Dev melihat sekeliling dengan heran.
"Ini Rumahku, masuklah."
"Kau membelinya?" Dev masih tak percaya melihat rumah yang di masukinya lumayan besar dan bagus.
"Iya, saat aku kembali." Aldo duduk menyandar mengatur nafas yang belum sepenuhnya terisi.
"Siapa mereka, mengapa mengejar mu?" Dev ikut duduk menghempaskan diri di kursi empuk itu.
Aldo mengusap wajahnya. "Mereka orang yang sering mengikuti atau mungkin ingin menghabisi pak Hartawan. Kemarin waktu di Vila dua orang dari mereka ada di sana, dia menginap di kamar yang bersebelahan dengan Reva. Aku melihat data dari orang yang memesan kamar dan ternyata yang memesannya adalah istri pak Hartawan itu sendiri."
"Lalu apa hubungannya dengan mu?" Dev tampak penasaran.
"Sebenarnya aku salah satu orang kepercayaan pak Hartawan." Jelasnya
"Mengapa kau sembunyikan ini dariku, ini membahayakan nyawamu. Kalau kau saja dalam bahaya bagai mana kau bisa menjaga Reva untuk ku?" Dev mengusap wajahnya
__ADS_1
"Aku rasa dia tidak akan apa-apa, dia tidak melihatnya, juga tidak bertemu dengannya, Tapiiiii.... Ayu sempat bertemu mereka. Dan itu juga yang membuat ayu curiga hingga membuatnya tidak pernah meninggalkan Reva sendirian." Jelasnya lagi
"Aku tau, Ayu memang tidak pernah meninggalkan Reva jika berada di luar, dia akan menjaganya."
"Sepertinya ayu bukan orang sembarangan, dia dapat mengetahui niat seseorang hanya dengan melihatnya."
"Kau benar. Dulu dia di temukan Reva dan Rey saat dia di keroyok empat orang laki-laki di jalanan. Dia babak belur dan penuh luka, Reva membawanya ke dokter dan merawatnya hingga sembuh. Dia juga sempat mengalami depresi. Waktu itu dia masih kuliah, dia bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Dan saat di jalan pulang itulah dia hampir kehilangan nyawanya dan beruntung bertemu Reva. Sejak saat itu dia tinggal di apartemen Reva, belajar bekerja dan Reva membiayai kuliahnya hingga selesai, jadilah dia sekarang Sekretaris Reva yang selalu menjaga dan membantu apapun pekerjaannya."
"Pantas saja dia begitu protektif." Aldo baru mengerti.
"Ya begitulah. Besok aku kembali bekerja, aku ingin kau dekati Reva selama aku tidak ada."
"Kau serius?" Aldo tak percaya.
"Tentu saja, aku sangat serius!" Dev menatap wajah sahabatnya dengan yakin.
"Aku tidak tau caranya!" Aldo terlihat malas ia memejamkan mata.
"Gunakan saja gaya sok romantis mu itu !"
"Dari mana kau tau?"
"Aku tau semuanya." Jawab Dev membuat temannya tak berkutik.
"Tolong dengar kan aku sebentar. Aku benar-benar ingin kau mendekatinya, karena cepat atau lambat aku pasti akan melepasnya. Setelah ini selesai aku ingin menenangkan diri dan bersiap untuk segala kemungkinan, karena hidupku sudah seburuk ini." Ucapnya begitu sedih.
"Tapi belum tentu dia mau menerimaku, kau tau dia hanya mencintaimu." Jawabnya.
"Itu artinya kau harus berjuang, dekati dia, rebut hatinya, nikahi dia. Kau tau, saat ini Tuhan sedang menjalankan skenarionya, kita sebagai pemainnya. Dan di dalam kisah ini kaulah pemeran utama, bukan aku."
"Omong kosong!" Aldo sedikit tersenyum tak percaya.
"Aku laki-laki, sangat faham bagaimana rasanya jatuh cinta, dan Reva adalah orang yang aku cintai, tapi saat ini orang yang mencintai nya bukan hanya aku, tapi kau juga!"
Aldo terdiam.
"Baiklah akan ku coba." Dia tidak bisa mengelak lagi.
***
"Assalamualaikum mas," Reva sedang menjawab panggilan telepon seseorang
__ADS_1
"Waalaikumsalam sayang. Apa sudah sarapan?"
"Sudah mas, kamu apa sudah sarapan?" Balasnya lembut.
"Tentu saja sudah, hari ini aku kembali masuk kerja cuti ku sudah habis."
"Ah iya, inikan sudah satu Minggu." Suara Reva terdengar pelan.
"Sayang, kau jaga dirimu baik-baik. Kalau butuh sesuatu kau jangan segan meneleponku." Ucapnya terdengar sedih.
"Itu pasti, pergilah dan hati-hati di jalan."
"Iya...maaf jika tak sempat datang ke rumahmu ."
"iya." Kini suara Reva terdengar sedih.
"Sudah ya. Assalamualaikum." Dev mengakhiri panggilan nya.
"Waalaikumsalam mas! " Lirihnya. "Aku tau kamu menjaga jarak dengan ku mas, aku tau kamu sedang hancur dan aku tak bisa berbuat apa-apa." Batinnya berkata, hatinya terluka matanya berlinang air mata. Reva mencoba tegar, menghapus air mata lalu pergi berangkat bekerja berharap sedikit bisa melupakan semua beban di hatinya.
"Bu Reva, tadi ada utusan dari pak Hartawan datang kemari, dia menyerahkan berkas yang perlu anda tanda tangani, beliau minta segera di antar, sebaiknya anda periksa terlebih dahulu." Ayu menyerahkan berkasnya.
"Baiklah, kau tunggu sebentar." Reva membaca dan membolak-balik berkas lalu segera menandatanganinya. "Biar aku saja yang mengantar berkasnya, sekalian aku ingin membicarakan pembangunan Vila yang sudah berjalan 60%."
"Kita akan ke sana." Seperti biasa Ayu akan selalu ikut dengannya.
Sesampainya di kantor Hartawan Ayu dan Reva langsung menuju ruangan Pak Hartawan untuk membahas perkembangan proses pembangunan vila.
Satu jam berlalu, Reva dan Ayu keluar dari ruangan tak sengaja bertemu Aldo. Aldo dengan gayanya yang selalu percaya diri tiba-tiba mendadak ingin putar arah karena ingin menghindari Reva.
"Tunggu ...!!!" Ayu yang tahu maksud gerak gerik Aldo langsung memanggilnya.
Aldo yang sudah membelakangi mereka memejamkan mata lalu perlahan berbalik pura-pura tidak gugup.
"Ada apa ..!!" Tanyanya.
"Tidak ada, hanya ingin tau kabarmu. Apakah jantung mu itu masih aman??" Ayu setengah mengejek.
"Sudah pasti jantung ku aman, karena aku selalu tersenyum, tidak seperti dirimu wanita bermulut pedas." Balasnya.
"Dasar Satpam gadungan!" Ayu melengos meninggalkan Aldo.
__ADS_1
Reva melewati Aldo dengan sedikit tersenyum. "Kenapa kau berkata begitu?" Reva memprotes sekretarisnya.
"Aku merasa dia bukan satpam, mana ada satpam keren begitu !" jawabnya sambil terus berjalan.