Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
96. Hartaku paling berharga


__ADS_3

Pagi-pagi sekali sepasang suami istri itu sudah bangun dan menunaikan sholat subuh, tampak wajah berseri dengan senyum selalu menghiasi wajah keduanya. Reva mencium uluran tangan suami tercinta, imam yang baik, suami sempurna dan calon ayah yang selalu setia.


"Kita jalan-jalan mau?" Ucap Aldo setelah mengecup kening istrinya.


"Mau mas, aku ingin makan ayam bakar yang di dekat taman." Ucap Reva dengan menahan ludahnya yang sudah keluar lebih banyak.


Aldo terkekeh melihat ibu hamil yang lucu dan menggemaskan, memeluknya erat menikmati wangi khas dirinya. "Istriku sudah lapar?" Aldo mengelus pundaknya.


"Bukan hanya aku, anakmu juga." Suara itu terdengar manja.


"Tentu saja sayang, kau dan anak kita adalah hartaku yang paling berharga." Pelukannya turun kebawah. "Rasanya nyaman sekali tidur di pangkuanmu." Ucap Aldo lagi, memejamkan mata dengan tangan melingkar di pinggang istrinya. Reva tersenyum mengelus rambut lurus dan rapi itu.


Sejenak dia menikmati suasana yang hangat, tapi kemudian Aldo duduk dan segera beranjak. "Ayo sayang kita beli ayam bakar kesukaanmu." Aldo meraih tangan istrinya membantu ia berdiri.


Di taman tengah kota, dengan banyak pohon dan tanaman hijau menghiasi menambah suasana menjadi sejuk. Berkeliling dengan langkah yang pelan bergandengan tangan menghirup udara pagi, dengan senyum dan tawa tak henti menghiasi. "Mas, aku senang sekali berjalan-jalan seperti ini." Reva bergelayut manja.


"Kita akan sering berjalan kaki ini baik untukmu sayang." Aldo tersenyum lebar.


"Terima kasih mas, kau selalu mengerti yang terbaik untukku." Reva menyandarkan kepalanya di bahu Aldo.


"Tak perlu berterimakasih untuk hal yang sudah seharusnya aku lakukan untukmu." Aldo mengajaknya duduk sebentar.


"Mas, bisakah kau mempekerjakan seseorang di Cafe milikmu?" Reva menoleh suami di sampingnya.


"Tentu saja, tapi siapa sayang?" Aldo merapatkan duduknya semakin dekat dengan Reva.


"Anaknya paman yang mengelola kebun kopi kita mas. Aku ingat dia memiliki anak laki-laki dan perempuan, dan dua-duanya belum ada pekerjaan. Jika tak bisa dua, satu orang saja tak apa mas." Ungkapnya lagi.


"Bisa sayang, lagi pula David tak bisa setiap hari ke Cafe lagi, karena Ayu akan sangat sibuk." Aldo tampak berpikir.


"Ah iya, salah satu pegawaimu itu ada mantan kekasih David juga mas dari kampung halamannya." Reva ingat semalam Ayu kesal sekali.


"Mungkin saja sayang, tapi setahu ku David tidak pernah memiliki pacar selama kami bersama." Aldo meyakinkan istrinya.


"Aku lapar mas." Reva melihat ke dalam restoran sudah mulai ramai pengunjung.

__ADS_1


"Ayo sayang kita makan." Aldo meraih tangan lentik itu dan menggenggamnya.


"Tunggu di sini biar aku yang pesan." Aldo meminta Reva duduk terlebih dahulu.


Tak butuh waktu lama, Aldo datang membawa dua piring makanan, di susul pegawai wanita di belakangnya.


"Mas kau mengambilnya sendiri." Reva tertawa melihat suaminya ikut membawa makanan.


"Akan terlalu lama jika menunggu, istri dan anakku sudah lapar." Jawabnya sambil meletakkan piring di depan istrinya. Pegawai wanita itu tersenyum mendengar pria tampan itu begitu memperhatikan istrinya. "Silahkan dimakan." Ucapnya sedikit membungkuk hormat.


"Terima kasih." Jawab Reva masih melihat wanita itu tersenyum seakan ikut bahagia.


"Makanlah sayang." Aldo minta Reva makan lebih dulu.


Keduanya sibuk dengan makanan di piring masing-masing, hingga selesai dengan menghabiskan semuanya tanpa sisa. "Mau di bungkus?" Aldo menawarkan.


"Mau mas." Jawab ibu hamil yang sedang membuka ponselnya. Aldo kembali memanggil pegawai wanita yang tadi bersamanya, memesan satu dan menunggu.


Sayup-sayup terdengar suara orang yang tidak asing bagi keduanya, mereka saling menatap seakan memikirkan pertanyaan yang sama. Reva menoleh mencari asal suara begitu juga Aldo.


"Mereka pacaran?" Reva setengah berbisik.


"Aku tidak tau, bahkan tidak kenal." Aldo menjawab dengan tak acuh.


"Ini pesanannya mas." Pegawai itu menyerahkan kantong berisi makanan.


"Berapa?" Aldo mengeluarkan dompet dari sakunya.


"Seratus empat puluh ribu." Jawab pegawai wanita itu, Aldo memberinya uang biru tiga lembar.


"Kembaliannya untukmu." Aldo mengajak Reva untuk segera pulang. Sekilas Reva menoleh, orang yang mereka kenal kali ini pura-pura tidak melihat. Reva tersenyum lalu melihat wajah suaminya yang juga sedang menatapnya. Aldo memeluk pinggangnya semakin erat dan meninggalkan tempat itu tanpa bertegur sapa dengan rekannya yang masih terlihat marah.


"Mas, dia marah sekali." Reva berbicara setelah berada di dalam mobil.


"Biarkan saja, aku sudah tidak peduli." Aldo terlihat kesal.

__ADS_1


"Apa dia sejahat yang kau katakan tadi malam saat marah padanya?" Reva masih penasaran.


"Aku pernah datang ke rumah saat pulang dari Cafe, malam itu dia tidak sendirian, ada temannya dan sepertinya di mabuk. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya hampir seperti itu." Jawab Aldo menoleh sejenak wajah yang masih penasaran di sampingnya.


Reva menunduk, hatinya sedikit tertusuk dengan apa yang di dengarnya. Sungguh selama ini dia berpikir ketulusannya luar biasa, tapi entah kali ini sepertinya yang di katakan Aldo adalah benar. "Dia tega sekali." Ucap Reva lagi.


"Tidak juga sayang, dia tidak jahat padamu tapi tidak suka padaku. Mungkin dia berpikir setelah kita menikah kau akan tetap mencintainya, dan dia berpikir aku tak akan menahanmu jika itu terjadi." Jelas Aldo lagi.


"Kau akan melepaskan aku mas?" Reva menatap penasaran pada suami tampannya.


"Tentu tidak." Aldo menepikan mobilnya sebentar. "Aku tidak akan melepaskanmu meskipun kau menangis ingin kembali padanya, karena kau hanya milikku." Kata-kata itu terdengar menakutkan, tapi tidak bagi Reva yang sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Mata itu menatap pria yang begitu dekat dan mengecup bibirnya dengan mesra, hingga lumayan lama Reva mendorong tubuh besar itu.


"Ini di jalan mas." Bisiknya dengan nafas memburu dan rengkuhan manja.


Aldo tersenyum dengan bibir yang basah, kembali mengatur nafas dan melajukan kembali mobil mereka.


***


"Rey semalam kau pulang larut sekali." Alisa sedang menjaga Ayra bermain di kasurnya.


"Aku bersama Aldo sayang." Jawab Rey masih berbaring di sisi ranjang agar Ayra tidak terjatuh.


"Mana mungkin sampai larut begitu." Alisa menatapnya tidak percaya.


"Apa kau sedang curiga?" Rey menggodanya.


"Tentu saja, jangan-jangan kau menghabiskan waktu bersama wanita di luar sana." Wajahnya terlihat kesal.


Rey tertawa mendekati istrinya yang cantik, modis, berisi dan memiliki body aduhai itu. "Mana ada wanita yang bisa menyaingimu!" Rey memeluknya.


"Tentu banyak." Alisa masih merajuk.


"Tapi aku hanya menyukaimu." Rey membelai dan memainkan rambut coklat milik Alisa.


"Rey aku serius." Ucapnya kesal.

__ADS_1


"Aku tak pernah bermain-main sayang." Rey merengkuhnya dengan lembut.


__ADS_2