Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
157. Jurus ampuh


__ADS_3

Aldo berusaha menenangkan istrinya, selama ia menikah ia tak pernah sampai marah seperti itu, dan sudah pasti kali ini wanita cantik itu benar-benar emosi walaupun Aldo tak tau semua sebabnya.


"Sayang, kau tidak boleh marah-marah, moodmu harus tetap terjaga agar anak kita tidak rewel, ingat kau sekarang seorang ibu dan Zahira butuh ibu yang baik dan sabar." Aldo masih berusaha meredamkan amarahnya.


Reva mendekat dan memeluk Aldo, wangi nafas pria itu membuat otaknya kembali dingin. Dan sudah tentu pria itu tak melewatkan kesempatan untuk membuatnya lupa, mendekatkan hidung mereka dan memulai aktivitas yang menyenangkan, kedua bibir merah itu bertaut dengan tangan kokoh itu melingkar di tubuh indahnya.


"Jangan di teruskan." ucap Aldo setengah berbisik.


"Mas!" rengeknya tak mau berhenti.


"Marahnya sayang." Aldo terkekeh geli, pria itu sengaja mempermainkan istrinya, menggodanya adalah hal yang paling menyenangkan dan tak pernah lupa ia lakukan.


Bukan Aldo namanya jika hanya setengah-setengah, pria itu punya banyak jurus untuk menyerang, jurus-jurus ampuh itu selalu ia perbarui untuk menaklukan lawannya yang liar. Di tambah lagi senjata ampuh yang selalu siap meluncur membuat musuh tak dapat bersembunyi, sudah pasti dia akan membuat istri cantiknya menyerah dan pasrah.


"Owaaaaa, owwwaaaa."


Suara tangis itu membuat dua orang yang sedang terbaring lelah terpaksa membuka mata, namun Reva tampak sangat lelah sehingga Aldo mengalah dan segera berdiri menggendong bayi yang mulai gendut itu.


"Sayang ada apa?" tanya Aldo dengan rambut kusutnya masih terlihat, tentu saja kusut, karena sehabis di tarik-tarik istrinya.


"Eummmmammaaa." Zahira mengoceh memasukkan tangannya ke dalam mulut.


"Oh anak ayah sedang lapar, tunggu sebentar sayang." Aldo meletakkan lagi bayi itu.


"Sayang, bisakah bangun sebentar?" Aldo menggoyang tubuh yang bersembunyi di balik selimut.


"Hem." jawabnya mulai bergerak.


"Zahira haus sayang, bangunlah sebentar setelahnya kau boleh tidur lagi." Aldo menyibak rambut yang menutup sebagian kening istrinya.


"Iya mas." Reva bangun dan segera ke kamar mandi, mandi kilat itu segera ia akhiri karena Zahira semakin menangis.


"Sini Mas." Reva duduk dan siap memangku Zahira untuk segera memberinya ASI.


"Nanti malam kita jalan-jalan, sekalian kita ke rumah David." Aldo masih memperhatikan wajah yang basah itu bahkan belum sempat ganti baju.


"Ah benar juga, aku juga sudah rindu dengan Ayu, lama tak bertemu dengan ibu hamil itu." ucapnya setuju.


"Baiklah, aku mandi dulu." tak ketinggalan mengecup pipi istrinya.

__ADS_1


"Kau mau mandi mas bukan akan pergi bekerja." Reva tak habis pikir bahwa sebelum mandi-pun harus memberikan ciuman terlebih dahulu.


"Rasanya enak sekali." jawabnya sambil tertawa.


"Aku bukan kue mas." Reva masih menjawabnya.


"Kau lebih lezat dari kue tart sayang, aku sangat menyukainya. Dengan mentega dan dan butiran coklat di atasnya, kau sungguh membuatku merasa lapar, nikmat sekali lidahku sampai tak bisa diam merasakan manisnya." Aldo tak mau kalah menggoda istrinya lagi.


"Kau sedang lapar mas, bilang saja kau sedang ingin di buatkan kue tart."


"Itu juga benar." jawabnya menghilang di balik pintu kamar mandi.


*


Malam itu Reva membawa Zahira ikut serta datang ke rumah David. Lama tak bertemu membuat keduanya merasa rindu, namun kehamilan yang semakin besar membuat Ayu enggan kemana-mana, ke kantor pun ia hanya beberapa hari saja dalam seminggu.


"Kak! Akhirnya kau berkunjung ke rumahku, aku sudah lelah menahan rindu!" pekiknya, Ayu memeluknya erat sekali.


"Wah perutmu sudah besar sekali, kau pasti kesulitan bangun tidur." Reva mengelus lembut bagian yang membesar itu.


"Itu benar kak, aku juga malas mandi." Ayu mengakui kebiasaan buruknya.


"Iya, tapi aku juga tidak menyukai semua tingkah David." keluhnya lagi.


Reva menatapnya dengan heran, berbeda jauh dengan Reva yang selalu ingin dekat dengan Aldo, ia jadi berpikir bagaimana rasanya tidak menyukai semua tingkah suami.


"Berarti temanku ini sedang menderita." Aldo senang sekali menggoda David.


"Kau pasti senang mendengar aku menderita." David menatap kesal pada sahabatnya.


"Sabar, sebentar lagi akan berakhir." ucapnya sambil terkekeh geli.


"Kau enak, istrimu sangat menyukai dirimu saat mengandung. Sedangkan aku, harus menemukan mood yang pas agar bisa mendekatinya." David mengadukan penderitaannya kali ini.


"Kau sering berpuasa?" Aldo semakin tertawa.


"Beberapa hari." jawabnya malas, pria itu tampak lelah.


"Maaf aku tidak punya ide untuk yang satu itu, jadi kau harus berjuang sendiri." Aldo sungguh kasihan melihat sahabatnya itu.

__ADS_1


Reva yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka ikut terkekeh geli, ia tak habis pikir dengan kelakuan adik angkatnya. Tak terbayangkan jika Aldo yang mengalami itu, tiga hari saja jauh darinya membuat pria itu semakin menjadi, apalagi sampai selama mengandung harus mencari mood yang tepat untuk bercinta dengannya. Ah rasanya pria itu Tak akan sanggup.


"Kak." panggil Ayu.


"Iya." Reva menoleh.


"Aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumahmu." Ayu menyandar manja di bahu Reva.


"Sebenarnya aku sedang tidak nyaman di rumah, apalagi di siang hari." jawab Reva, tangannya mengelus kepala Zahira yang sudah tertidur di sofa.


"Kenapa, bukankah di sana sangat nyaman selama ini?" Ayu jadi menatap serius.


"Kami kedatangan tetangga baru." jawab Reva tersenyum sedikit.


"Siapa?" Ayu jadi sangat penasaran.


"Dev membeli rumah yang ada di depan jalan itu, dia mengajak istrinya." Aldo menyahuti.


"Apa dia masih mengganggumu?" Ayu tak habis penasaran.


"Tidak, bukan dia tapi istrinya." Reva menjawab dengan suara lembutnya.


"Mungkin dia cemburu, atau iri denganmu kak, baiknya biarkan saja." ucap Ayu.


"Tapi mulutnya itu membuat ku tidak tahan, dia sungguh senang sekali membuat orang marah dan emosi." Reva kembali mengingatnya.


"Aku jadi penasaran, seperti apa wanita itu." ucap Ayu tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Jangan berpikir untuk menghajarnya sayang." David menebak isi kepala istrinya yang suka berkelahi itu.


"Tidak, hanya sedang membayangkan seperti apa orangnya, aku rasa dia tidak terlalu cantik." Ayu mempunyai pendapat sendiri.


"Tidak ada yang bilang dia cantik, aku bahkan tidak pernah mendengar ada yang bilang begitu." Aldo menyahuti.


"Bagi suaminya cantik mas!" Reva membelanya sedikit.


"Aku tak pernah mendengar Dev bilang begitu, lihat saja sebentar lagi, mereka akan ribut dan banyak kata-kata tidak baik yang akan terdengar." Aldo ikut menebak-nebak, sudah pasti karena dia tahu seperti apa sahabatnya. Bahkan wanita yang ia nikahi bukanlah tipe yang ia sukai.


"Tidak boleh menebak-nebak rumah tangga orang, itu urusan mereka, biarkan saja mereka yang menikmatinya."

__ADS_1


__ADS_2