
Hingga sore hari Dev baru kembali ke rumah tempat ia bekerja, entah dari mana saja pria itu selama hampir satu hari tak ada satupun orang yang tau. Asisten wanita itu sudah berdiri tegak bersiap akan meninggalkan rumah dua lantai itu.
"Ibu boleh pulang." ucap Dev berlalu masuk dan wanita paruh baya itu berjalan meninggalkan rumah itu.
Dev naik ke lantai atas sedikit penasaran bagaimana keadaan gadis kecil yang mengusik pikirannya.
"Sudah sembuh?" tanya Dev ketus.
Gadis itu mengangguk, sepertinya ia enggan bicara.
"Mau makan apa?" tanya Dev lagi, ia ingat jika sore hari Mey selalu minta di belikan makanan padanya. Entah karena ia sedang ingin di manja atau sedang suka makan Dev tidak tau.
"Mie instan saja." jawabnya dengan suara lembut membuat Dev menarik nafas mendengarnya. Pria itu berlalu meninggalkan Mey yang masih menyandar di ranjang besarnya.
Mey menatap kepergiannya dengan heran, dalam hatinya bertanya-tanya apakah laki-laki itu akan benar-benar membuatkan mie instan atau malah meninggalkannya pulang? Mey menunggu dengan penasaran.
Setelah lima belas menit pintu kamar terbuka, dan benar saja yang datang adalah pria itu dengan semangkuk mie instan hangat.
Wajah gadis itu kembali ceria dengan senyum mulai mengembang sempurna. "Apa pakai cabai?" bertanya tanpa malu-malu, lupa jika mereka baru berbicara bahkan belum bisa di katakan akur.
"Iya." jawab Dev dengan malas. Jika masih benci mengapa sampai di buatkan makanan segala? Ah Dev itu percuma.
"Terima kasih." ucapnya tulus. Dia mengambil mangkuk yang berisi mie hangat itu dan segera melahapnya.
Tak butuh waktu lama mie instan panas dan pedas itu sudah habis, bibir mungilnya terlihat merona dan sedikit tebal karena menahan panas dan pedas bersamaan. Dev gemas sekali namun ia tutupi, dia berusaha untuk tidak peduli.
Sibuk dengan pikirannya tanpa mau berbicara banyak, dan pada akhirnya Dev menoleh. Gadis itu sudah tertidur nyenyak sekali, dengkuran halus terdengar di telinganya sebagai tanda gadis itu sedang berlayar jauh ke alam mimpi. Dev melihat jari-jari kecil itu memegang erat ujung baju yang di pakainya, sedikit ia tarik namun genggaman itu begitu kuat. Selalu saja ada hal yang membuat hatinya lemah dan pasrah, hingga akhirnya Dev ikut merebahkan diri di samping Mey dan ikut berlayar ke dalam mimpi.
__ADS_1
Hari-hari berikutnya mereka sedikit berdamai dan kembali memulai obrolan, entah siapa yang memulai namun akhirnya obrolan mereka kembali hangat. Walaupun Dev membatasi kedekatannya namun rasa cinta yang sudah terlanjur membara sangat sulit di padamkan, terlebih lagi pemicunya selalu memercikkan api.
"Dev, aku ingin di belikan ikan bakar?" ucapnya manja.
"Mengapa tidak memesan dengan sopirmu saja Mey?" jawab Dev mencoba menciptakan jarak.
"Aku lebih suka makanan darimu Dev." jawabnya dengan bibir mengerucut.
"Baiklah, aku akan pesankan untukmu. Jika aku harus turun kebawah sana kau akan kelaparan."
"Tapi bayar pakai uangmu." gadis itu langsung menyahut.
"Iya." jawab Dev singkat, ada rasa hangat menjalar di dalam hatinya mendengar gadis itu meminta di belikan makanan pakai uang pribadinya. Apa senikmat itu membeli makanan dengan uang orang lain? Pikir Dev tersenyum geli.
Dan benar saja sopir pribadi itu datang membawa ikan bakar pesanan Mey, Dev langsung merogoh kantong celananya dan memberikan selembar uang merah.
Dan karena ia kekenyangan akhirnya Mey tidur di kursi tempat ia makan, sikap Mey yang semakin aneh itu membuat Dev tidak tega membencinya. Dev mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya ke kamar atas, namun di kasur empuk itu rasa rindu dan cinta kembali meningkat, Mey terbangun dan memeluk Dev tak mau di lepas dan akhirnya hubungan mereka kembali ke awal lagi.
Sampai pagi tangan kecil itu tak mau menyingkir hingga akhirnya mereka bangun bersama. "Dev." rengeknya semakin manja.
Dev menarik nafas dalam-dalam sambil memandangi wajah yang baru saja bangun tidur.
"Mey." Panggilnya pelan, bola mata hitam itu menatapnya menunggu kata apa yang selanjutnya akan ia dengar.
"Jujur saja aku tidak bisa membencimu. Tapi aku minta kau tinggalkan tempat ini dan ikutlah bersamaku, aku akan membebaskanmu." ungkap Dev serius.
"Tidak mungkin Dev, aku sudah pernah mencobanya namun tidak pernah berhasil." ungkap Mey.
__ADS_1
"Tapi berbeda kali ini, aku seorang militer Mey, aku punya kuasa dan banyak rekan. Aku bisa melindungi mu." jelas Dev sangat berharap.
"Aku tahu Dev, tapi kau harus tau hal yang lainnya, awal mula aku menjadi simpanan papa adalah saat ayah ibuku terlilit hutang dan terancam penjara, dan sampai saat ini ibuku sakit dan butuh uang. Aku bertahan karena Mereka Dev, kau memang bisa membantuku tapi tidak akan mampu membayar hutang ayah ibuku. Jika aku pergi dari sini biaya perawatan ibuku akan berhenti dan ayah akan masuk penjara." Mey menangis di pelukannya.
"Berapa hutang ayahmu?" tanya Dev penasaran.
"Triliunan Dev, papa menjerat mereka dengan saham perusahaan hingga akhirnya kami jatuh miskin dan terlilit hutang." jelasnya lagi.
"Bagaimana jika aku menculikmu Mey?" tanya Dev serius.
"Kalau papa sampai menemukanmu kau akan di habisi Dev, aku tidak mau kau mati sia-sia karena aku. Jadi ku mohon, beri aku waktu bersamamu. Hanya itu saja permintaan dari wanita menjijikkan ini." suaranya terdengar pilu.
"Jangan menangis Mey." pinta Dev dengan mengelus kepala dan memeluknya erat sekali.
Perpisahan hanya tinggal menunggu waktu sepuluh hari lagi mereka akan meninggalkan rumah itu dan sudah pasti Mey dan Dev akan berpisah, waktu yang singkat itu tidak pernah di sia-siakan oleh mereka untuk melepas rindu dan mereguk manisnya cinta. Tak menyia-nyiakan kesempatan dan sampai pada hari terakhir.
"Mey, jaga diri baik-baik, aku berharap bisa menemukanmu suatu saat nanti." ucap Dev sedih.
"Iya, aku akan bertahan untukmu Dev, percayalah aku akan baik-baik saja." ungkapnya tersenyum manis.
Dev meraba perut gadis itu tak terlihat membesar namun entah mengapa rasanya Mey sedikit gendut.
"Kau benar-benar tidak hamil Mey?" tanya Dev pelan dan khawatir, selalu itu ia tanyakan.
Mey menggeleng dengan menitikkan air mata, entah apa yang ia rasakan sesungguhnya hanya ia saja yang tahu.
"Baiklah, kau masih hafal nomor ponsel ku kan? Jika kau mengandung anakku kau hubungi aku Mey, aku sangat mencintaimu." ucap Dev lagi.
__ADS_1
"Aku juga Dev." Tangis gadis itu pecah tak terbendung lagi.