
"Reina?" Adi menatap wanita yang selalu menemani hari-hari lalunya itu datang.
"Aku aku sedang bosan." Wanita itu masuk ke rumah Adi, namun Adi tak menghiraukannya, pria itu tetap di luar dan menunggu seseorang yang akan menghantarkan sertifikat rumah barunya bersama Erita.
"Adi!" Reina baru menyadari jika pria itu sedang bersiap pergi, bahkan dengan pakaian formal dan terlihat rapi.
"Kau pulanglah, mulai saat ini jangan kau temui aku lagi, aku akan menikah." Adi hanya melihat wajahnya sekilas.
"Apa? Menikah?" Reina sungguh tidak percaya.
"Ya, hari ini aku akan menikah." Adi menegaskan kembali.
"Tidak mungkin, bukankah kau tidak pernah berniat untuk menikah selama ini. Dan, mengapa tidak menikah denganku saja Adi?" Reina menarik tangan Adi hingga Adi menghadap dirinya.
"Aku tidak mencintaimu Reina, aku sudah menemukan wanita yang bisa membuat aku benar-benar mencintainya. Dan sepertinya aku harus segera pergi karena dia sedang menunggu." Adi melirik jam di pergelangan tangannya dan menuju mobil.
"Tunggu Adi, kau tidak bisa begini. Bahkan aku bercerai dengan Dev gara-gara dirimu." ucap Reina tidak terima.
"Itu sudah lama Reina, bahkan kita sudah lama tidak bertemu." Adi tetap tidak peduli.
"Tapi kau sering melakukannya denganku, apa aku kurang membuatmu puas?" tanya Reina mengingatkan.
"Bukan itu Reina, ini masalah perasaan." Adi membuka pintu mobilnya dan meninggalkan Reina.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja." tak di sangka wanita itu ikut masuk dan duduk di sebelah Adi.
"Kau! Aku ini akan menikah, dan kau tahu wanita yang akan ku nikahi itu adalah tetangga mantan suamimu!" Adi kesal sekali melihat Reina masih saja mengikutinya, dia juga tidak berniat untuk turun dari mobilnya.
"Mengapa harus dengan wanita itu? Aku tidak terima sedangkan kita sudah berpuluh-puluh kali melakukannya, bahkan kau sangat menikmati tubuhku!" Reina masih tidak menyerah.
"Turunlah!" Adi sungguh pusing mendengar Reina masih menuntut padanya.
"Tidak!" Reina benar-benar tak peduli.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak mungkin membatalkan pernikahanku hanyalah karena dirimu, jika kau mau ikut silahkan saja." Adi tetap melaju tanpa peduli Reina suka atau tidak suka.
"Adi ku mohon, kau dengarkan aku dan lihat aku. Aku ingin kita menikah!" Reina masih kukuh dengan keinginannya.
"Aku hanya akan menikahi Erita." jawabnya tegas.
"Kalau begitu aku ingin menjadi istri kedua." Reina masih tak menyerah.
"Reina aku tegaskan sekali lagi, aku sudah tidak ingin bermain perempuan. Aku ingin menikah dan hidup tenang bersama istri dan calon anakku. Jujur saja aku sedang menyadari bahwa hidup kita sudah terlalu banyak dosa, aku bahkan ragu apakah Tuhan masih bisa mengampuni kita." Adi terlihat serius.
"Kau hanya sedang galau Adi." Reina menyandar lelah. "Tunggu, tadi kau bilang calon anak?" Reina menatap Adi dengan tatapan tak percaya.
"Ya." jawab Adi singkat.
"Kau membuatnya hamil? Lalu mengapa denganku kau bahkan membuangnya, seakan kau ketakutan jika aku sampai hamil!" teriak Reina sudah sangat marah.
"Aku menginginkan anak darinya Reina, aku tidak sedang bersenang-senang melainkan ingin mendapatkannya sebagai istri." Adi tidak suka Reina meneriakinya.
"Kau benar-benar." marahnya lagi.
"Tidak aku akan tetap ikut denganmu, aku ingin kita juga menikah!"
"Tidak Reina, sekali lagi ku katakan TIDAK!" Adi tak mau diteriaki.
"Mengapa tidak? Bukankah aku dan dia sama saja, sama-sama murahan dan merasakan milikmu." ucapnya sinis.
"Kau yang murahan, kau pikir aku tidak tahu akhir-akhir ini kau menghabiskan waktu dengan pria hidung belang. Aku tidak bodoh Reina, kau sudah tidak sepolos dulu, kau sering berburu di luar sana." Adi tersenyum menang dapat membongkar rahasia Reina.
"Aku tetap ingin kita menikah!" teriaknya penuh emosi.
"Maaf Reina, menikahlah dengan orang lain saja." Adi akan berhenti, ia sudah tidak tahan dengan wanita itu disampingnya.
Namun tak di sangka Reina meraih kemudi dan memacu gasnya. Mereka tarik-menarik setir hingga membuat mobil itu berbelok-belok kesana-kemari, bergerak meliuk-liuk di jalan yang ramai kendaraan, hingga tak bisa Adi elakkan lagi, mobil mereka menabrak sebuah truk yang sedang melaju kencang, membuat mobil mereka terseret mundur, di iringi teriakan menakutkan dari dua orang di dalamnya.
__ADS_1
*
Sedangkan di rumah Erita, mereka sudah siap duduk di posisinya masing-masing, juga Erita sudah siap duduk di kamarnya dengan cemas karena Adi tak kunjung datang. Tidak biasanya pria bucin itu telat, selama ini ia selalu datang lebih awal jika sedang ada janji dengan Erita, dia selalu menunggunya dengan sabar di manapun mereka bertemu. Tapi mengapa di hari yang penting begini malah dia tak juga muncul, membuat hati Erita sangat gelisah.
"Erita, apa Adi memberimu kabar?" Ibu Adi masuk kamar dan bertanya dengan lembut.
"Belum Ibu." jawabnya halus, wajah cantiknya terlihat khawatir.
"Ibu jadi cemas." Ibu yang sudah beruban itu tampak sedang berpikir.
"Aku juga Ibu, aku khawatir dia tidak jadi menikahi aku." ucap Erita semakin membuat ibu menjadi takut.
"Hanya kau yang akan menjadi menantu Ibu, apalagi di dalam sini sudah ada calon cucu Ibu." ucap wanita itu sungguh menenangkan hati Erita.
"Maaf Ibu, aku membuatmu malu." Erita menunduk.
"Bukan kau, tapi Ibu-lah yang harus meminta maaf, anak itu sudah kurang ajar padamu." ucap ibu lagi.
"Dia pria yang baik Ibu, dia berani mengakui kesalahannya." ucap Erita bersungguh-sungguh.
"Dia sangat mencintaimu Nak." Ibu meyakinkan gadis yang sedang gelisah itu.
"Aku juga sudah mulai mencintai anak Ibu, dia menunjukkan padaku bahwa dia benar-benar mencintaiku, dan membuat aku merasa berharga." jawab Erita tulus.
"Ibu senang mendengarnya." wanita tua itu mengelus dadanya dengan lega, lalu mengelus pipi Erita dengan lembut, ia menyukai gadis itu. Mata sayunya tak henti menatap Erita, sungguh ia berharap Adi dan Erita hidup bahagia, dia sangat yakin akan bahagia, karena sikap Erita yang lembut dan tulus. Tidak salah Adi tergila-gila hingga nekat untuk memilikinya.
Tapi tak berapa lama setelahnya, suara ribut-ribut di luar terdengar semakin jelas, membuat Ibu keluar ingin mengetahui apa yang membuat mereka heboh sekali.
"Adi kecelakaan Bu!" ucap Ayah Adi terdengar sedih.
"Apa Pak!" Ibu berteriak.
Begitu juga Erita, ia baru saja keluar dari kamarnya dengan baju pengantin yang cantik pilihan Adi, tapi malah mendengar kabar yang membuatnya hancur, ia sungguh-sungguh terkejut hingga membuat gadis itu pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit!" Aldo juga ada di sana membawa Erita bersama Aji menuju rumah sakit tempat Adi juga sedang di sana.