Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
135. Bersabar


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu, sore itu sebagian dari para militer sudah bersiap untuk kembali ke rumah orang tua, rindu akan keluarga adalah alasan utama untuk pulang walaupun hanya satu atau dua hari saja.


"Rey aku ikut denganmu!" Dev masuk ke kamar Rey dengan membawa tas ransel yang sudah berisi pakaian.


"Kau pulang sendiri saja." Rey sengaja memancingnya.


"Tidak, aku ingin di bonceng." Dev duduk di samping tas ransel milik Rey yang masih terbuka.


"Mana ada orang menumpang tapi pilih enaknya saja." Rey menatap rekannya itu sekilas.


"Baiklah, kau duduk di belakang." Dev mengalah, jelas alasannya ikut dengan Rey adalah ingin bertemu gadis cantik pujaannya.


Sore menjelang Maghrib mereka sudah tiba di kediaman Rey, dengan hati yang sama gembiranya mereka berdua turun dari sepeda motor dan langsung masuk ke dalam rumah itu, tampak ibu keluar menyambut kedatangan kedua orang berseragam militer itu.


Rey memeluk ibunya dengan penuh kerinduan, begitu juga Dev menyambut tangan ibu dengan penuh hormat dan senyum mengembang. Beberapa menit duduk di ruangan itu tapi gadis yang di tunggu tak juga muncul, hingga akhirnya Dev pulang dengan perasaan kecewa.


"Kakak duluan saja, aku dan ibu akan sholat di halaman mesjid." teriakan halus di pagi hari itu terdengar dari luar rumah.


"Tapi lebih nyaman di dalam, lebih khusyuk." Rey masih menunggu.


"Di dalam penuh Kakak." suara lembut itu membuat seseorang yang mendengar tersenyum-senyum sendiri.


Rey berjalan keluar lebih dulu dengan sarung dan kopiah yang terlihat rapi.


"Hey, sejak kapan kau ada di sini?" Rey melihat sahabatnya sudah berdiri di teras.


"Aku diminta ibu membeli kue, ini satu untukmu." Dev memberikan satu kotak kue dan meninggalkannya pergi.


"Kau tidak sholat?" Rey setengah berteriak, sahabatnya sudah menyalakan kendaraan roda duanya.


"Sholat di sana." Dev menunjuk ke arah yang berlawanan.


Rey menatapnya dengan heran, lalu kemudian kembali masuk untuk meletakkan kue di meja besar.

__ADS_1


Malam hari selepas isya, semenjak kembali dekat dengan rekannya Dev menjadi lebih rajin sholat. Seharian menahan perasaan untuk tidak mengunjungi rumah temannya membuat Dev tidak berkonsentrasi dalam hal apapun. Malam ini pria muda itu sudah bersiap datang bertamu ke rumah rekannya untuk menemui gadis pujaan hati.


"Rey, aku di luar." Dev menelepon rekannya saat dia sudah ada di halaman.


"Masuk saja." jawaban dari dalam membuat pria itu melangkah masuk.


"Ku pikir kau tidak akan datang setelah tadi pagi kau langsung pergi." Rey mengajaknya duduk.


"Aku hanya diam di rumah menemani ibu." jawab Dev duduk menyandar.


Gadis cantik itu turun dari lantai atas sedikit tersenyum dan berlalu menuju ruang keluarga, walaupun hati ingin selalu dekat tapi sudah tentu tak mungkin ia lakukan mengingat ada Rey yang selalu menjaganya.


"Kau menyukai adikku?" Rey sudah tidak tahan melihat kelakuan rekannya yang semakin tidak terkendali.


Dev tersenyum sekilas menoleh sahabatnya. "Aku memang menyukai adikmu. Aku harap kau tidak melarangku untuk mendekatinya."


"Aku akan melarangmu jika hanya mendekatinya, adikku bukan objek wisata yang bisa kau nikmati kapan saja." Rey sedikit kesal, wajah tegasnya jelas terlihat kali ini.


"Kau pikirkan lagi, adikku baru saja masuk kuliah, dan baru akan memulai karier membuka perusahaan. Jika kau siap menunggu?" Rey menjelaskan semuanya.


"Aku akan menunggu hingga ia siap, aku tidak akan melepaskan dia lagi jika sudah mendapatkan izin darimu." Dev bersungguh-sungguh.


"Kau yakin adikku mau denganmu, sainganmu berat Dev?" Rey menatap wajah sahabatnya namun pria itu terlihat yakin.


"Aku tau, aku hanya menunggu izin darimu." ucapnya mantap.


"Baiklah, tapi jangan sesekali kau menyentuhnya. Aku harap kau menjaganya hingga kau menikahi adikku, dan menjalani semuanya dengan wajar." tegas Rey lagi.


"Aku janji." Dev tersenyum sangat lega, akhirnya dia tidak akan berkhayal lagi bisa mendengar suara gadis itu. Tangannya langsung meraih ponsel Rey dan menyalin nomor ponsel adik kesayangan sahabatnya itu. Meskipun mendapat lirikan maut dari calon kakak ipar tapi itu tidak di cegah, membuat hati Dev kembali bersorak ria.


Hari-hari berlalu hingga akhirnya bertemu dan menyatakan cinta, proses yang lama itu membuat Dev semakin merasa ingin memiliki dan langsung melamar untuk menjadi istrinya, dan ternyata cintanya di terima.


"Mas, besok aku wisuda." suara gadis itu dalam sambungan telepon.

__ADS_1


"Artinya kita sudah bisa menikah." jawab Dev begitu bahagia.


"Apa kau benar-benar sudah memilihku?" tanya Reva dengan suara halusnya.


"Untuk apa kau tanyakan lagi sayang, bukankah sudah jelas bahkan aku rela menunggumu dua tahun lebih." jelas Dev meyakinkannya.


"Baiklah, kalau begitu aku sudah harus bersiap untuk menjadi istrimu." ungkapnya bahagia, rasa cinta yang sudah dipupuk sejak lama kini mulai berbunga dan akan berbuah, sungguh tujuan dari sebuah hubungan yang baik adalah pernikahan.


"Aku mencintaimu." Dev selalu mengatakan itu setiap kali mereka bicara.


"Aku juga mas." jawaban yang menggemaskan, ingin rasanya Dev terbang dan membawa kekasihnya itu bersamanya.


"Aku sudah tidak sabar menjadikanmu istri dan menggigitmu." Dev kehabisan cara menahan rasa rindu dan gemas hanya memandangi fotonya saja.


"Aku tidak mau digigit mas." jawabnya semakin membuat pria di seberang sana menggila.


"Kenapa tidak mau?" Dev memancing sikap manja yang tersimpan jarang sekali terlihat.


"Sakit mas." jawabnya polos.


"Tidak, aku akan pelan-pelan." Dev semakin menggodanya.


"Mas!" jeritnya malu dan kesal, mengundang gelak tawa di ujung sana.


"Maaf sayang aku hanya bercanda." Dev masih tertawa. "Memangnya apa yang sedang istriku pikirkan?" lagi dia menggodanya.


"Bukan aku, tapi kamu mas!" jawabnya masih kesal dan sudah dapat Dev bayangkan wajah cantik itu sedang memakai blush on alami.


Dev semakin tertawa, menggodanya menjadi hal yang sangat menyenangkan baginya, gadis polos itu terdengar salah tingkah setiap kali ia memancing kemanjaan yang tetap ia simpan rapi. Tak jarang Dev berharap gadis itu merespon godaannya, namun lagi-lagi Dev di buat penasaran sendiri dan akhirnya kata-kata yang keluar adalah "Aku sangat mencintaimu."


Namun hal tak terduga saat sehari sesudah wisuda, Rey juga Dev mendapat kabar bahwa batalyon mereka akan ikut mengirim pasukan yang akan berangkat ke Papua, sehingga rencana pernikahan mereka harus di tunda.


Usai proses latihan yang sudah satu bulan mereka jalani, hari itu Dev dan Rey pulang ke rumah masing-masing guna berpamitan pada ibu masing-masing. Dan tak terkecuali Dev berpamitan pada kekasih hati, yang sejak lama di idam-idamkan menjadi istri tapi kini harus bersabar lagi.

__ADS_1


__ADS_2