
"Dimi sayang, kita jalan-jalan sebentar nak, bersama paman ini juga." Aldo menghampiri anak kecil yang sedang asyik bermain bersama putri kecilnya.
"Tapi Ayah!" mata Dimi melihat ke arah Dev.
"Tidak lama sayang, kita beli makanan dan mainan baru untukmu." Aldo mencoba merayunya.
"Pergilah sayang, tidak akan apa-apa, jangan lupa nanti belikan mainan untuk adikmu juga." Reva ikut merayunya.
"Benar, adik belum punya mainan." Dimi tampak bahagia mendengarnya, sungguh beberapa waktu ia bersama Zahira membuatnya merasa menjadi seorang kakak.
"Iya, pergilah dan beli yang banyak." Reva memberinya semangat.
Anak itu berdiri menatap Aldo, sejenak lalu memeluknya.
Pemandangan yang membuat hati Dev terasa nyeri, membayangkan bagaimana nanti setelah Dimi ikut dengannya, apakah akan sebahagia itu?
"Ayo sayang!" Aldo menggendong bocah enam tahun itu menuju mobil, ia tahu anak itu sering mencuri pandang pada temannya, hanya berusaha menyembunyikan wajahnya di balik bahu Aldo.
"Aku ikut mobilmu saja." ucap Dev setelah di luar, ia ingin sekali dekat dengan anak kecil itu. Hanya melihatnya saja tak cukup untuk melepaskan rindu, rindu akan kehangatan memiliki seorang anak, juga rindu pada sosok wanita yang sempat mengisi hatinya dan mengandung anaknya.
"Duduk di dekat paman ya, Ayah akan menyetir." Aldo memposisikan anak itu duduk di tengah antara dia dan Dev.
Dev tersenyum melihat anak itu, tangannya mengusap kepala dan bahu Dimi, sungguh ia ingin memeluknya erat sekali.
"Kenapa ke sini ayah?" tanya Dimi melihat halaman rumah sakit yang begitu besar.
"Kita hanya akan melakukan tes kesehatan sayang, bukankah nanti kau akan sekolah?" Aldo membujuknya.
"Apa harus tes kesehatan dulu jika akan masuk sekolah?" tanyanya lagi.
"Iya, agar gurumu bisa mengisi data tentang golongan darahmu." Aldo menjawab sebenarnya, walaupun ada kebohongan yang tidak bisa ia katakan.
"Baiklah, aku sudah tidak sabar masuk sekolah." jawabnya senang sekali, di ikuti senyum di bibir tipis Dev.
Aldo menemani hingga masuk ke dalam, diikuti Dev dengan rasa harap-harap cemas di dalam hatinya. Satu sisi ia berharap Dimi adalah putranya, namun disisi lain ia khawatir, apakah Reina dapat menerima kenyataan jika dia sudah memiliki anak.
__ADS_1
Menjelang Maghrib ketiga orang laki-laki itu tiba di rumah Aldo, anak kecil itu tampak senang sekali dengan berbagai mainan yang di belikan Aldo juga Dev.
"Aku ingin segera naik ke atas menemui Zahira memberikan mainan ini." Dia langsung berlari tanpa menunggu jawaban.
"Kalau begitu aku segera pulang, terima kasih untuk waktumu aku tahu kau lelah dan sibuk." ucap Dev pada sahabatnya.
"Tidak masalah, aku harap dia memang anakmu. Paling tidak kau memiliki belahan jiwa yang sesungguhnya." Aldo tersenyum penuh pengertian, ia tahu sahabatnya merasa malu dan serba salah.
"Terimakasih, aku yakin dia anakku." jawab Dev pelan.
*
Satu Minggu sudah berlalu, Dimi sudah masuk sekolah hari itu. Dengan seragam merah putih dan topi yang sedikit besar bocah itu tampak berjalan penuh semangat.
"Paman!" panggilnya menatap sendu, langkahnya terhenti saat ia tahu yang menjemputnya adalah Dev bukan Aldo atau sopir dirumahnya.
"Sayang." panggil Dev pelan, matanya basah menahan genangan air mata yang sudah penuh. Pria itu duduk berlutut di hadapan Dimi, menatap sendu, haru dan bahagia bercampur jadi satu.
"Apa paman ini pantas menjadi ayahmu?" ungkapnya, air mata yang ia tahan-tahan akhirnya jatuh juga, tak di sangka anak kecil itu ikut menangis haru, tampak bahunya bergoyang dengan air mata yang bercucuran, tangan kecilnya mengusap-usap mata yang kabur karena linangan air mata.
Tangan kecilnya meraih sesuatu di dalam baju seragam, sebuah kalung berbentuk hati ia lepaskan dan memberikannya pada Dev.
"Apa ini sayang?" tanya Dev dengan suara bergetar.
Tak ada jawaban hanya masih menatapnya penuh rindu.
Dev membuka kalung itu dan melihat apa yang tersimpan di dalamnya, dan ia sungguh terkejut dengan sesuatu terselip di sana.
"Mey!" panggilnya bergetar, Dev semakin menangis dan segera meraih Dimi ke dalam pelukan hangatnya, begitu erat, sangat erat dengan tangis keduanya tak dapat di tahan lagi, suara tangis anak kecil enam tahun itu sangat memilukan.
"Mengapa kau tidak memberitahuku saat itu?" ucap Dev di sela tangisannya.
"Aku takut ayah tidak mau menerimaku." jawabnya dengan sesenggukan.
"Maafkan ayah nak, maafkan aku. Aku terlambat menemukanmu." ucapnya pilu.
__ADS_1
"Aku hidup sendirian Ayah, ibu pergi dengan tubuh lemah, dia sungguh menderita Ayah." dia meluapkan kesedihan yang dia pendam selama ini.
"Maaf, maaf sayang." Dev masih memeluknya.
Lama hingga sekolah itu sudah sepi, anak-anak kelas satu sudah pulang seluruhnya dan menghilang dari halaman sekolah. Kedua ayah dan anak itu baru mengakhiri kerinduannya.
"Ikut ayah ya?" tanya Dev menatap wajah polos yang masih basah dengan sisa air mata.
"Aku harus pulang dan izin dengan ibu." jawabnya polos.
"Ayah akan menghubungi ibumu." ucap Dev mengeluarkan ponselnya. "Ibumu" ah sungguh kata itu lebih tepat tapi sayangnya dia bukanlah wanita yang akan menjadi ibu untuk Dimi. Seandainya, dan lagi-lagi seandainya.
"Sudah sayang, kita pulang ke rumah Ayah berkenalan dengan ibu yang lain lagi." Dev berusaha menjelaskan.
"Apa aku punya banyak ibu sekarang?" tanya bocah itu dengan tangan masih menggenggam erat tangan Dev.
"Tentu saja, anak baik akan memiliki banyak keluarga." jawab Dev meyakinkannya.
"Ayo sayang." Dev memintanya masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Tak berapa lama mereka tiba di rumah Dev, tampak di sana Reina dan Erita sedang bertegur sapa di depan rumah mereka.
Dev turun dengan membawa Dimi di pelukannya, ia sungguh masih rindu hingga menggendong anak kecil itu begitu erat.
"Sayang, kita masuk sebentar ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ajak Dev dengan mesra.
Gadis itu tersenyum senang, namun ia heran melihat anak laki-laki dalam pelukan suaminya.
"Siapa dia?" tanya Reina sangat penasaran.
"Ini Dimi, putra kita." ungkapnya dengan tersenyum, tapi tidak dengan Reina wajahnya berkerut Deng rasa heran dan bertanya-tanya.
"Apa maksudmu?" tanya wanita itu masih tidak bisa mencerna ucapan Dev.
"Reina, anggaplah dia anak kita, bukankah kita tidak bisa memiliki anak? Dengan memiliki Dimi maka dapat mengisi kekosongan hari-hari kita." ucapnya lagi, sedikit melirik anak kecil itu duduk dengan sopan hanya mendengarkan obrolan orang dewasa di depannya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak memberitahu aku terlebih dahulu, bukankah sekarang kau sudah punya istri dan seharusnya kau meminta persetujuanku terlebih dahulu." jawabnya terlihat tidak suka.