
Hari itu, sore di awal pekan Reva mendatangi Erita, sudah lama tidak bertemu dengan adik sepupunya yang sedang berduka.
"Apa kabar Erita?" Reva datang bersama Zahira.
"Alhamdulillah baik Kakak." Erita mengajak Reva masuk ke dalam rumahnya.
"Tadi kau bekerja?" tanya Reva dengan suara halusnya.
"Iya, sekalian periksa ke dokter bersama Kak Dev." jawabnya pelan.
"Kalian dekat?" tanya Reva lagi, menatap wajah adiknya dengan penuh tanya.
"Kami hanya berteman, tidak lebih dari itu Kak." jelasnya juga dengan halus.
"Tak apa kau dekat dengannya, dia orang baik. Hanya terkadang orang baik sering di uji dengan soal yang berat, seperti kau juga." ucapannya sungguh menenangkan hati.
"Aku tidak sebaik itu Kakak, aku hanya wanita kotor yang awalnya tak sengaja, tapi akhirnya larut juga di dalam dosa." Erita menunduk.
"Semua orang memiliki dosa menurut bagiannya masing-masing, tak ada manusia yang terbebas dari dosa. Hanya ketika kita menyadarinya itu salah, maka jangan di ulangi lagi. Masih ada harapan Allah akan mengampuni." bibirnya tersenyum manis.
"Terimakasih, Kakak baik sekali." Erita ingin sekali memeluk kakak sepupunya, tapi dia sedang menggendong Zahira.
"Apa tidak sebaiknya kau menikah saja Erita, sebentar lagi perutmu akan membesar, kehamilanmu tak akan mungkin bisa di tutupi." Reva mencoba menasehatinya.
"Aku tidak bisa Kak." jawabnya masih sangat bersedih.
"Tapi ini sudah tiga bulan Sayang, cobalah kau pikirkan lagi." Reva mengelus tangan Erita.
"Iya Kak." jawabnya dengan sedikit cemas memikirkan ucapan Reva.
Lelah hati juga jiwa, ingin sekali istirahat dan meletakkan beban yang tak pernah ia minta. Namun sudah terlanjut bayi itu hidup di dalam rahimnya, meski tak di minta namun tuhan sudah mempercayakan pada Erita.
"Assalamualaikum Erita!" suara itu memanggil dengan sangat akrab, dan sepertinya tak menunggu jawaban langkah kaki dengan sepatu keras itu sudah masuk di ruangan depan.
"Iya." Erita beranjak sedikit terburu-buru, menoleh Reva sejenak dan berlalu.
"Aku bawakan buah untukmu." ucapnya dengan wajah penuh semangat dan senyum begitu manis.
__ADS_1
"Kau repot sekali, bukankah tadi sudah mengantarku ke rumah sakit?" Erita menatap Dev dengan heran, dan lagi ia gugup karena ada Reva di dalam.
"Dimitri memintaku membeli buah, dan aku ingat kau juga butuh buah-buahan." dia masih tersenyum, menyerahkan kantong plastik berisi buah pada Erita.
Erita menarik nafas. "Baiklah, aku akan memakannya nanti." dia mengambilnya.
"Mas!" suara lembut dan merdu itu menyapa, sungguh panggilan itu masih membuat waktu seakan berhenti, juga wajah meneduhkan itu begitu membuatnya sulit menarik nafas.
"Reva, kau di sini." Dev menyapanya dengan salah tingkah.
"Iya, hanya berkunjung melihat keadaan Erita." jawabnya sedikit tersenyum, dia memang selalu begitu.
"Bersama Aldo?" tanya Dev melihat tak ada mobil di depan.
"Tidak, tadi kami naik taksi. Mas Aldo sedang ada di kantor mungkin sebentar lagi dia sampai di sini, sebaiknya aku menunggu di dalam." Reva segera masuk tanpa menunggu jawaban.
Dev menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menjadi lebih salah tingkah ketahuan datang berkunjung ke rumah Erita.
"Apa?" tanya Erita dengan tatapan menyelidik.
"Tidak apa-apa." jawabnya, namun terlihat meragukan.
"Kau jangan sembarangan, jika suaminya mendengar aku bisa di hajar olehnya. Kau mau aku mati dan kau akan kehilangan suami." Dev menggodanya.
"Hah! Aih kau percaya diri sekali." Erita sungguh jengah menatap pria itu.
"Bagaimanapun juga dia butuh ayah." Dev menunjuk perut Erita sambil duduk di sofa.
Sedangkan Erita tampak berpikir dengan memegangi perutnya. Entahlah, dia jadi tidak karuan jika sudah membahas ayah dari calon anaknya.
"Mana ada orang yang mau menjadi ayah anakku." Erita menunduk sedih.
Dev meraih tangan Erita untuk duduk di salah satu kursi empuk tak jauh darinya. "Bagaimana yang kau inginkan? Jika sendiri lebih nyaman kau bisa saja mewujudkannya, tapi jika kau menginginkan keluarga yang lengkap tentunya kau harus menikah. Ayah yang baik untuk seorang anak adalah ayah kandungnya, Erita! Juga buatku, ibu yang baik untuk Dimitri adalah ibu kandungnya. Tapi kita sama-sama kehilangan mereka, hanya sedikit orang yang tulus yang bisa menerima anak-anak kita dengan baik, dan terkadang orang baik itu malah tidak mungkin kita dapatkan." jelas Dev, dia tentu sudah berpengalaman.
"Tidak semua wanita itu jahat, aku bahkan menyayangi Dimitri walaupun aku bukan ibunya." Erita tidak mau di samakan dengan mantan istrinya yang malah menjadi penyebab meninggalnya Adi, beruntung wanita itu sudah di tahan polisi. Dia jadi mengingat wanita itu.
"Tentu saja tidak termasuk dirimu, dan dirimu tidak mungkin ku dapatkan." jawab Dev tersenyum manis melihat wajah Erita yang sedang di tekuk.
__ADS_1
"Kau merayuku?" tanya Erita kesal.
"Sedikit." jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Sana pulang!" Erita tidak suka mendapat rayuan dari Dev.
"Kau mengusirku?" Dev tak merasa tersinggung.
"Iya." jawab Erita tak peduli.
"Baiklah. Aku hanya ingin memberitahumu jika aku akan pergi bertugas bulan depan. Sebenarnya aku tidak di izinkan karena penyakitku, tapi aku merasa tidak berguna jika hanya berdiam saja, aku ingin meninggal dengan hormat, tidak hanya berdiam sia-sia." Dev menatap wajah Erita dengan serius, ada sebuah rasa yang sulit di urai di dalam sana.
"Kau serius?" tanya Erita, ia cukup terkejut mendengar kata-kata itu.
"Iya." jawab Dev pelan.
"Mengapa baru mengatakannya sekarang, bukankah harusnya itu sudah di rencanakan sejak lama." tanya Erita sedih.
"Satu bulan kemarin aku pergi latihan sehingga aku tidak mengunjungi mu." jelasnya.
"Bagaimana dengan Dimitri?" Erita jadi memikirkan anak itu, anak yang selalu datang ke rumahnya dengan wajah yang menggemaskan.
"Dia sudah biasa hidup sendiri, usianya sudah Tujuh tahun. Mungkin aku akan meminta jasa seorang ART yang sudah berumur untuk menyiapkan kebutuhannya." Dev tersenyum sedikit.
"Biarkan dia tinggal disini bersamaku, aku juga butuh teman di saat-saat seperti ini." Erita tidak tega membayangkan anak itu tinggal sendirian tanpa siapapun, Jika masih dekat seperti dulu mungkin Erita tak perlu khawatir, lagi pula dia masih terlalu kecil.
"Itu akan merepotkanmu." Dev tersenyum manis, ia senang mendengarnya, tapi juga tak mungkin ia lakukan.
"Aku serius." ucap Erita.
"Aku juga serius." Dev memang terlihat tidak main-main.
"Ah, kau ini." Erita jadi lelah memikirkan banyak hal.
"Aku pulang." Dev beranjak dari duduknya, tapi di depan malah bertemu Aldo dan mengobrol dengan sahabatnya.
Sedangkan Erita masuk kedalam dengan masih menoleh pria itu membelakanginya, ia akan merasa kehilangan jika dia pergi.
__ADS_1
Oh Erita, dia belum pergi! Mendadak pikirannya lebih kacau dari hanya memikirkan bayi Adi.