Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
19. Kecelakaan


__ADS_3

"Apa sebelumnya dia pernah seperti ini." Aldo terlihat sangat cemas.


"Tidak." Ayu menjawab singkat, matanya tidak lepas dari mobil sang kakak.


Sedangkan agak sedikit jauh di belakang mereka Rey dan Dev ikut mengejar. "Rey, maaf!" Dev duduk bersandar di kursinya terlihat lemah dan putus asa.


"Seharusnya kau tidak boleh mengambil keputusan sendiri, jika memang Reva menyukai teman mu itu biarkan mereka memutuskannya sendiri. Jika sudah begini aku takut terjadi sesuatu pada adik ku." Rey tampak gusar.


"Ini salah ku." Dev menyesali.


Tiga puluh menit sudah berlalu, ketiga mobil itu masih saja saling beriringan, Reva tidak menambah kecepatannya tidak juga menguranginya. Membuat Ayu dan Aldo agak sedikit tenang.


"Apa kita akan terus mengikutinya?" Aldo tak sabaran.


"Lajunya stabil, kalau kita menyalipnya nanti dia malah ngebut!" Aldo mengusap kasar wajahnya.


Hingga satu jam mereka terus beriringan tiba-tiba mobil yang di kendarai Reva berhenti. Aldo turun dan mengetuk kaca mobil Reva, mengintip kedalamnya, ternyata Reva sedang menangis dan menutupi wajahnya.


"Reva buka pintunya!" Aldo terus mengetuk dan menggedor kaca. Lalu Reva menyalakan lagi mobilnya, tapi kali ini lajunya lebih kencang. Aldo kembali masuk dan kembali mengejar.


Reva terus melaju menuju Rumahnya, tapi tak disangka, Karena lajunya terlalu kencang, Reva menabrak pagar rumahnya sendiri. Pintu pagarnya Terlepas, satpam yang berjaga di rumahnya ikut terpental jauh.


"Kakak!!!" Ayu berteriak histeris mobil mereka berhenti, Aldo turun untuk menolong gadis kesayangannya.


"Reva..Reva!!" Pintunya tidak bisa dibuka.


"Kakak.." kali ini gadis yang tangguh itu menangis air matanya berjatuhan seperti butiran hujan berhamburan.


Aldo mengambil batu dan memecahkan kaca, akhirnya dia bisa membuka pintunya. "Reva!" Ucapnya bergetar.


Di raihnya tangan kecil yang masih memegang kemudi, keningnya berdarah, Aldo langsung meraih tubuh mungil yang dia cintai. Kakinya terjepit, membuatnya harus mengeluarkannya perlahan. Aldo menggendongnya, mengangkat tubuh kecil yang teramat di kaguminya. Ayu berlari kembali mengemudi, sedangkan Aldo duduk di belakang memangku gadisnya yang tak sadarkan diri.


Dengan Air mata yang terus berjatuhan, Ayu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. . sesekali ia melihat kakaknya yang begitu lemas menyandar di dada Aldo,


"Kenapa berhenti?" Aldo setengah berteriak karena Ayu tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Kau memeluknya!" Ayu balas berteriak.


"Dia yang memelukku!"


"Kau mencuri kesempatan!!" Ayu marah


"Dia mengigau memanggilku Ayah." Aldo mengatakan dengan serius.


Ayu kembali menyalakan mesinnya dan meneruskan perjalanan. Ayu masih menatap Aldo dengan sengit.


Tiba di rumah sakit. Aldo menggendong Reva membawanya masuk dan berteriak memanggil dokter, "Dokter, dia kecelakaan." Ucapnya sangat panik.


"Bawa ke ruangan UGD." Aldo mengikuti dokter dengan masih menggendongnya.


"Silahkan anda keluar, biar kami bisa menangani dengan tenang." Dokter wanita itu memintanya pergi.


Aldo keluar dengan masih menatap wajah Reva seakan tak mau meninggalkannya sendiri.


Rey dan Dev sudah di ruang tunggu bersama Ayu. Rey menatap tajam pada lelaki yang jasnya penuh darah, bahkan pipinya juga menempel darah adiknya, wajahnya tegang, matanya memancarkan kesedihan tak henti pria tampan itu memandang pintu UGD.

__ADS_1


"Inikah pria yang juga di cintai adikku?" batinnya.


Satu jam kemudian Ibu dan Alisa juga tiba, Ibu menangis memeluk Rey.


"Reva dimana? Bagai mana keadaannya??" ibu semakin menangis.


"Masih di tangani Bu, semoga dia tidak apa-apa." Rey memeluk ibunya.


Alisa duduk karena kelelahan dengan perutnya yang membuncit, dia menatap Dev penuh Amarah.


Dev mendekati Aldo yang sedari tadi hanya diam tak bicara apapun. Dia menatap sahabatnya itu, bajunya penuh darah, pipinya juga. Ada rasa iri melihatnya, berarti sahabatnya sudah memeluk Reva, itu dapat di pastikan dari darah Reva yang menempel di seluruh bagian dadanya. Dev ikut duduk menyandar didinding, mereka tak saling bicara.


"Ini, gara-gara kalian berdua!!" Alisa tiba-tiba mendekati mereka. "Kalian mempermainkan perasaannya, terutama Kau!" Alisa menunjuk wajah Dev dengan sangat marah.


"Kau pikir adik ku apa hah? dia gadis baik. Banyak yang mau jadi suaminya, dia bukan gadis yang tak laku sehingga kau bisa jodoh-jodohkan dengan orang lain!" Alisa melirik Aldo. "Mulai saat ini, aku tidak mau lagi melihat kalian, pergi dari sini dan jangan pernah menemui Adik ku lagi!!" Ucapnya Tegas.


"Alisa Aku minta maaf!!" Dev berdiri.


"Aku tidak butuh maafmu, sudah jelas kelakuanmu menyakiti adikku!!" Alisa berbalik meninggalkan Dev, tapi Aldo mengejar dan menghadangnya.


"Kak, aku mohon, izinkan aku disini." Aldo memohon, suaranya terdengar lirih. "Setidaknya sampai Reva sembuh. Aku mohon kak!!" Aldo menangkupkan tangannya di depan dada, menatap wajah Alisa dan Rey bergantian.


Rey melihat tangan Aldo luka dan berdarah, sepertinya terkena goresan kaca. "Obati dulu luka di tanganmu itu." ucap Rey singkat lalu meninggalkannya.


Aldo melihat tangannya, ternyata benar dia terluka bahkan tidak merasakan sakit sama sekali.


Dokter keluar dari UGD. Ibu langsung menghampirinya.


"Bagai mana anak ku Dok?" Ibu sangat cemas


"Syukurlah, terima kasih dok." Ucap ibu penuh haru.


"Iya, sama-sama." dokter itupun berlalu.


"Ini resep nya, silahkan di urus di bagian Administrasi." Suster memberikannya pada ibu.


"Biar aku saja Bu, ibu masuklah melihat keadaan Reva?" Rey pergi meninggalkan mereka.


Tiba di depan kasir Rey menanyakan biaya Administrasi adiknya. "Saya ingin membayar administrasi atas nama adik saya Revalia Azzahra. ??"


"Tunggu sebentar pak." Suster mengetik. "Sudah di bayar pak, baru saja." Ucap susternya.


"Siapa yang membayarnya?" Tanya Rey penasaran.


"Bapak Aldo Bramastya."


Rey tercekat sejenak dia mencerna siapa orangnya. "Bagai mana ciri orang nya?" tanya Rey lagi.


"Putih, Tinggi , tadi tangannya terluka!" Jelas suster itu lagi.


"Baiklah terima kasih." Rey kembali ke ruang tunggu UGD.


Alisa dan ibu Ani baru saja keluar dari ruangan Reva dirawat. "Bagai mana keadaannya?" Rey merangkul istrinya yang sedang hamil besar.


"Dia sudah sadar, hanya kaki nya sakit." Alisa menjelaskan. Alisa memutar badannya, mata nya mencari seseorang.

__ADS_1


"Ada apa sayang?" Tanya Rey.


"Reva ingin bertemu Aldo." Ucapnya sambil duduk di kursi tunggu membuat Rey jadi heran.


Aldo datang dari salah satu ruangan. Dia berjalan sambil menatap perban di punggung tangannya. Darah yang menempel di wajahnya sudah tak ada lagi hanya di jasnya dan sepertinya sudah mengering.


"Adik ku ingin bertemu dengan mu." Rey mengucapkannya tanpa menatap wajah Aldo.


"Iya kak." Jawabnya .


Aldo berjalan perlahan membuka pintu, melihat gadis cantik pujaan hatinya ada di dalam sedang terbaring. Ada rasa bersalah yang menghujam dadanya, jika dia tidak menyatakan perasaannya Reva tidak akan jadi begini.


"Reva." panggilnya pelan. Reva menatap pria yang sudah berdiri disampingnya. Matanya sendu, pria tampan yang memiliki segudang percaya diri, kini tampak lesu, jasnya kotor bernoda darah.


"Terima kasih." Ucap Reva lemah. Melihat darah yang mengering di jas nya, Reva ingin sekali mengusap dan membersihkannya. Tangannya perlahan dia gerakan, jarinya terangkat.


Melihat Tangan gadis itu Aldo menggenggam jarinya. Tangan yang sangat halus, lembut sekali. Keduanya saling menatap.


Mereka tidak tau jika pintunya tidak tertutup. Dari luar, Dev melihat genggaman tangan keduanya.


"Aku belum pernah melakukannya." Gumamnya. Dia keluar perlahan melangkahkan kaki, rasanya berat sekali.


"Aku tidak menyangka akan sesakit ini merelakanmu Reva ..."


Aku masih ada di sini


Masih dengan perasaanku yang dahulu


Tak berubah dan tak pernah berbeda


Aku masih yakin, nanti milikmu


Aku masih di tempat ini Masih dengan setia menunggu kabarmu


Masih ingin mendengar suaramu


Cinta membuatku kuat begini


Aku masih di dunia ini melihatmu dari jauh bersama dia


Walau pasti ku terbakar cemburu tapi janganlah kau ke mana-mana


Aku merindu


ku yakin kau tahu


Tanpa batas waktu


Ku terpaku Aku meminta walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata, tapi dekat di doa


Aku merindukanmu........

__ADS_1


__ADS_2