
Pagi itu Dev berangkat bekerja dengan hati tak rela, rasanya ingin sekali membawa Mey namun apalah daya itu tak mungkin terjadi. Dev bekerja dengan gelisah memikirkan kekasihnya, sesekali ia menelepon namun tak ada jawaban dari sana membuat pikirannya Sakin kacau saja.
Entahlah rasanya hari ini begitu lama, hingga akhirnya tiba di sore hari. Dev terburu menuju sepeda motor miliknya, memacunya lebih cepat karena ingin segera sampai di puncak bukit yang ia rindukan. Sungguh ia ingin sekali melihat wanita tercintanya untuk terakhir kali, walau tak mungkin di sentuh namun rasanya kerinduan itu begitu menyiksa dan hanya akan hilang jika bertemu dengan Mey seorang.
Di tengah tanjakan tebing yang meliuk-liuk itu Dua buah mobil mewah turun beriringan dan yang satunya Dev sudah pasti mengetahui yaitu milik Mey kekasih tercintanya. Dev memutar sepeda motornya dan mencoba mengikuti laju mobil itu dari belakang, samar terlihat Mey ada di mobil itu dengan menoleh melihat Dev dengan wajah imut yang terlihat sendu. Dev semakin tidak terkendali ingin sekali ia meraih Mey dan merebutnya, namun di luar dugaan mobil itu mengebut dan mobil yang satunya memperlambat gerakan Dev seolah menghalanginya. Mobil itu berhenti dan salah satu orang di dalamnya turun menemui Dev.
Dev juga terpaksa menghentikan kendaraannya, kemudian membuka helm dan mencoba berbicara pada laki-laki yang mendekatinya.
"Ini uangmu." Ucap pria itu melemparkan uang.
"Kalian akan pergi kemana? Apa aku masih bisa bekerja dengan kalian?" tanya Dev mencoba berbicara, dan tentu ia tak ingin Mey bahaya karena dia saat ini sedang mengejar gadis itu.
"Itu nanti, kami akan bicarakan pada bos kami." jawab pria itu tersenyum, tentu mereka pikir Dev masih ingin bekerja karena gaji yang mereka berikan cukup besar.
"Baiklah." jawab Dev ikut tersenyum dengan uang di tangannya. Padahal hatinya menangis karena sudah tak dapat melihat Mey lagi. Mobil itu berlalu pergi meninggalkan Dev yang masih terpaku memikirkan Mey.
Kali ini a benar-benar kehilangan Mey untuk selamanya. Dev terduduk lemas dengan nafas sesak dan ia menangis, tidak pernah ia menyangka akan sesakit ini rasanya kehilangan Mey yang menemani hari-harinya selama enam bulan. Lama ia terduduk lemas, sesekali berteriak dan mengepalkan tangannya meninju tanah tempat ia terduduk. Hingga malam hari Dev masih belum beranjak dari posisinya, jalanan yang sepi semakin membuatnya merasa sangat bersedih.
__ADS_1
Dev beranjak mencoba menguatkan diri, sejenak ia terdiam tapi kemudian melajukan motornya menuju puncak di mana ia selalu menghabiskan waktu bersama Mey.
"Mey." panggilannya lirih, berdiri di depan rumah mewah namun tampak gelap, bayangan bersama Mey menari-nari di kepalanya, suara-suara manja terus memanggil begitu dekat di telinga membuat rasa rindunya memberontak tapi tak menemukan tempat melepaskannya di sana.
"Mey!" panggilnya lagi, kali ini ia di depan pintu rumah itu, yang mana biasanya ia menatap wajah cantik itu sudah berdiri menyambut ia pulang membawa makanan. Pakai minimnya yang terkadang memperlihatkan perut langsing dan mulus langsung dapat ia rasakan hangatnya ketika menggandeng ia masuk ke dalam rumah. Dev kembali terduduk lemas di depan pintu, tak mau beranjak dengan kesedihan hingga pagi menjemput ia tertidur sejenak di teras rumah itu.
Hari-harinya habis dengan memikirkan Mey seorang, tak ada semangat apa lagi yang namanya bahagia tak pernah lagi menghampiri kehidupannya. Dev sempat jatuh sakit hingga berbulan-bulan dan itu membuat tubuh gagahnya merosot drastis, dirawat di rumah sakit hanya sesekali di temani rekan kerjanya saja.
Berbulan-bulan itu juga ia hanya menghabiskan waktu memandangi ponsel yang tak kunjung berdering, berharap ada nomor baru yang menghubunginya dan itu adalah Mey. Tapi jauh sudah tahun juga telah berganti ia juga tidak mendapat kabar darinya.
Hingga satu hari ia mendapat pemberitahuan bahwa ia akan di pindahkan ke Batalyon lainnya di kota yang lebih dekat dengan tempat tinggal ibunya, sedikit harapan di sana akan membuat ia melupakan Mey, sungguh ia sudah bosan dengan kesedihan yang membuat hidupmu semakin hancur.
"Apa kabarmu Dev, lama tidak bertemu kau lebih kurus?" Rey melihat tubuh rekannya tak berisi seperti dulu.
"Tapi masih tampan?" tanyanya dengan senyum seperti biasa mereka bercanda.
"Ah kalau yang itu masih." Rey tak membantahnya, dia memang sosok teman yang sopan dan baik, dan rajin beribadah. Dev berharap dekat dengan Rey akan memperbaiki hidupnya yang sudah melangkah terlalu jauh dari jalan yang benar, bahkan sudah melupakan ibadahnya sejak lama.
__ADS_1
Benar saja setelah hampir satu tahun mereka kembali bersama membuat Dev lebih baik, pikirannya tak lagi kacau dan sudah ikhlas dengan yang sudah berlalu. Tentunya ikhlas dengan yang sudah ditakdirkan Allah padanya.
"Dev aku akan pulang menemui ibu, kita akan memasuki bulan puasa jadi aku ingin sekali makan sahur pertama bersama ibu dan adikku." Rey sedang menyiapkan pakaiannya.
"Aku juga, aku ikut denganmu ya?" ucapnya beranjak dari duduk santai dan meraih pakaian untuk di bawa pulang.
"Baiklah, sebentar lagi kita berangkat." Rey keluar meninggalkan Dev yang masih berkemas.
Sore itu mereka pulang menaiki motor, perjalanan satu jam itu mereka lalui dengan tak banyak bicara hingga akhirnya mereka tiba di rumah Rey dengan selamat.
"Assalamualaikum ibu." Rey masuk setelah melepaskan helmnya, meninggalkan Dev masih berdiri di teras.
Dev menoleh ke sana-kemari melihat sekitar rumah Rey, menikmati suasana sejuk yang di hadirkan tanaman hias begitu banyak. Semua tampak rapi, terawat dan indah sekali. Tapi ada yang lebih indah dari bunga-bunga itu, gadis berkerudung panjang dengan jari-jari lentik itu sedang merawat bunga-bunga mawar dengan bermacam-macam warna.
Dev tak berkedip di buatnya, diingat gadis kecil yang waktu itu sudah beranjak dewasa, wajahnya begitu meneduhkan seperti melihat air pada saat sedang dahaga. Gadis itu menoleh Rey yang sedang sibuk melepas rindu di ruang tamu, dia berjalan dengan pelan, senyumnya mengembang sempurna menatap kakak laki-lakinya baru saja pulang.
"Adikku sayang." panggil Rey, sejenak melepaskan pelukannya dari ibu. Langkahnya yang lebar segera mendekati adiknya yang cantik di depan pintu.
__ADS_1
"Kakak." panggilnya, suara yang pelan itu terdengar sangat merdu menusuk telinga Dev.
Rey memeluknya erat sekali, hijabnya yang lembut itu ikut mengerat bersama pelukan Rey padanya, melihat itu Dev jadi berkhayal sedang memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang.