Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
75. Memecat Ayu


__ADS_3

Wajah cerah dan bahagia itu tak luput dari tatapan dan perhatian para bawahannya, wanita cantik yang selalu mereka hormati selalu di gandeng suami yang begitu menyayangi.


"Selamat pagi." Mereka sedikit membungkukkan badannya. Dengan senyum ramah dia membalas ucapan itu. "Selamat pagi." Jawabnya lembut.


Pria di sampingnya hanya memasang wajah datar tanpa melihat orang yang menyapa mereka, hanya berubah hangat ketika suara lembut itu memanggilnya.


"Mas." Panggilan yang selalu membuatnya merindu.


"Iya, " Pria itu menoleh, tangannya membuka pintu ruangan CEO milik istrinya.


"Wajahmu itu tidakkah bisa ramah sedikit dengan para pegawai ku?" Reva menatap wajah itu sambil menuju sofa.


"Aku laki-laki, jika terlalu ramah nanti mereka akan menganggap aku mata keranjang." Jawabnya membiarkan istrinya bersandar di sofa.


"Benarkah?" Reva menatap heran pada suaminya.


"Iya, sudah banyak buktinya. Apalagi dengan para pegawai wanita, aku tidak suka beramah-ramah dengan mereka." Jawabnya mendekati Reva. "Yang penting aku hangat terhadapmu, tak perlu aku membaginya pada yang lain." Tambahnya lagi.


Reva tersenyum senang sekali, entah dia sedang merayu atau memang begitu kenyataannya. Yang jelas Reva selalu bahagia mendengar suaminya mengatakan hal-hal yang indah. Terkadang dia takut di anggap bodoh karena selalu hanyut dalam rayuan suaminya, tapi sungguh itu dirasa indah sekali, dia tak pernah merasa jika sedang di rayu, lebih kepada suaminya sedang mengungkapkan isi hatinya.


"Aku menyukai itu." Senyumnya tak pernah memudar, merasakan jatuh cinta sepanjang hari dengan orang yang sama, menuai rindu setiap waktu dengan orang yang selalu disampingnya. Rasa itu luar biasa, sungguh dia selalu merasa istimewa.


"Hari ini kita mengadakan rapat semua karyawan, untuk memastikan alat-alat masih berfungsi dengan baik dan layak kerja, menghindari kecelakaan saat kerja di lapangan. Apalagi proyek dari Anggara cukup banyak dan kerja sama akan terjalin sangat lama, jadi kita harus memberikan yang terbaik." Aldo mulai membuka berkas dan menghidupkan laptop istrinya.


"Lakukan yang menurutmu baik mas, lagi pula Gara meminta kau melanjutkan kerja sama karena dia percaya padamu, bukan padaku." Reva hanya duduk melihat suaminya yang sedang berada di kursi kebanggaannya.


"Aku bekerja padamu sayang." Aldo mulai mengetik sesuatu.


"Tapi aku tidak sanggup memberi gaji yang fantastis seperti yang pak Hartawan berikan padamu." Reva masih memandanginya.


Aldo melepaskan aktifitas mengetiknya. "Asal jatahku di berikan setiap hari." Jawab Aldo, tersenyum nakal sambil mengedipkan matanya.


Reva terkekeh geli melihatnya. "Dasar mesum." Ucapnya.

__ADS_1


Aldo tertawa, menggoda istrinya sambil bekerja sungguh hal yang sangat menyenangkan. Membuat semangatnya berkali lipat.


"Selamat pagi kakak." Ayu langsung masuk karena memang pintunya sedikit terbuka.


"Selamat pagi Ayu. Ku pikir kau tidak bekerja hari ini." Jawab Reva.


"Mungin Minggu depan aku tidak masuk bekerja, jika sekarang sayang sekali jika hanya menganggur di rumah." Ayu membawa beberapa berkas.


"Kita rapat sebentar lagi." Aldo masih sibuk mengetik.


"Iya pak." Jawabnya, Ayu duduk di kursi dekat Aldo.


Reva hanya tersenyum melihat kedua orang yang sikapnya sama, wajah dingin dan kesombongannya sama, bahasa yang digunakan juga sama, serta cara berpikir mereka yang juga hampir sama. Apa jadinya jika mereka bekerja bersamaan, berhasilkah atau semakin kacau? Reva malas membayangkannya.


"Ah senangnya, aku jadi bebas beristirahat dan kalian yang bekerja." Reva menggoda Ayu yang nampak seperti obat nyamuk duduk di dekat Aldo.


Ayu bahkan tidak tersenyum. "Aku ke ruangan rapat saja bersama yang lain." Ayu beranjak meninggalkan mereka.


"Jangan lupa kau rinci semua pekerja yang sudah biasa kalian pekerjakan." Aldo berkata dengan sedikit keras, karena Ayu sudah di ambang pintu.


Baru saja Reva memikirkannya sedikit, sudah terjadi di depan mata, mereka seperti Tom and Jerry.


"Dia itu terlalu liar untuk ukuran sekretaris atau asistenmu." Aldo mengatai Ayu.


"Kau juga sama mas." Reva mengatai suaminya dengan jujur sekali.


"Aku akan memecatnya." Ucap Aldo tiba-tiba.


"Apa?" Reva melotot mendengar ucapan suaminya.


"Dia itu bos dari perusahaan besar, mana mungkin dia jadi sekretarismu." Aldo menjawabnya dengan tenang.


"Tapi jangan di pecat juga mas!" Reva tidak terima.

__ADS_1


"Jika tidak di pecat dia tidak akan mau meninggalkanmu." Aldo tak terpengaruh.


"Mas!" Reva masih tidak terima.


Aldo berdiri mendekatinya, menatap mata yang masih melotot itu, lalu menciumnya sedikit lama. "Dia akan dilema jika kita tidak melepaskannya." Aldo meninggalkan istrinya keluar menuju ruang rapat.


*


Di ruang rapat, satu jam pembahasan sudah berlalu. Hingga di akhir rapat Aldo meminta perhatian semua orang dan mengumumkan sesuatu. Dan itu cukup membuat semua orang tercengang, terutama Ayu.


"Kau memecatku?" Ayu tak percaya.


"Lebih tepatnya memintamu mengundurkan diri, mulai saat ini kau bukan lagi sekretaris istriku." Jawab Aldo tegas.


Ayu tertunduk, ada rasa kecewa yang luar biasa harus meninggalkan Reva dan perusahaan yang sudah memberinya hidup selama ini. "Beri aku waktu satu Minggu." Ucapnya lirih, wajahnya pucat, dengan tangan yang bergetar.


"Baiklah. Kurasa rapat hari ini selesai, silahkan kembali bekerja." Aldo berdiri meninggalkan ruangan dengan semua orang masih duduk terdiam tak percaya.


"Dia sedang meringankan bebanmu. Kau bisa kembali dengan proyek kerja sama, jadi jangan bersedih." Pak Rudy menepuk pundak Ayu yang masih tertunduk lemas.


"Jangan lupakan kami Bu Ayu." Staf wanita itu memberanikan diri berbicara dengan sekretaris yang galak dan di segani itu.


"Kau yang terbaik." Yang lain ikut menyahut.


Ayu diam tak menyahut, perasaanya kacau sekali. Ternyata akan ada waktu berpisah meski kehendak hati ingin selalu bersama, sungguh ini membuatnya sedih dan terluka. Saat dulu Reva menolongnya di jalanan, penuh luka lebam dan sangat tersiksa, dia begitu tulus merawat dan menyayanginya. Depresi yang dia alami karena terlalu banyak menderita yang mengguncang jiwa, Reva tak pernah lelah dan menyerah. Sungguh Ayu tidak ingin meninggalkannya, tapi keputusan ini?


"Ayu." Reva menghampiri Ayu yang masih terpaku.


"Kakak." Dia menangis, air matanya mengalir deras sekali.


"Maafkan suamiku." Reva memeluknya erat sekali.


"Tidak kak, dia memang benar, aku tak akan mampu pergi darimu, sekalipun aku sudah di berhentikan dari sini aku tetaplah akan datang dan menjadi orang yang selalu membutuhkanmu." Ayu sesenggukan kali ini, dia tidak peduli dengan siapa saja yang mendengar atau melihatnya.

__ADS_1


"Kau tetap adikku, hanya kau tidak bisa mengabaikan apa yang di berikan ayahmu. Kau harus mengelolanya dengan baik, kau pasti bisa." Reva memeluknya dengan lembut.


Ayu tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya tangis sedih yang dia keluarkan hingga sesenggukan dia masih tidak bisa berhenti.


__ADS_2