Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
57. Mintalah nyawaku


__ADS_3

Terduduk lemas, bukanlah pertama kali untuknya dan sudah pasti yang bisa membuatnya tak berdaya adalah tentang istrinya, apa yang harus dia lakukan sungguh dia sudah tidak tau. Aldo mengeluarkan ponsel dari sakunya menghubungi seseorang.


"Halo." Suara di seberang sana.


"Apa sudah bertemu dengan kakek itu?" Tanya Aldo lemah.


"Belum, kami sedang mencari bertanya satu persatu ke rumah penduduk." Rey menjawab seperti sedang sibuk.


"Tolong cari secepatnya kak." Ucapnya bergetar.


"Ada apa?" Rey terdengar khawatir.


"Reva demam." Jelasnya singkat.


"Baiklah, aku akan berusaha mengajak rekan yang lain untuk membantu." Rey mengakhiri sambungan telepon, Aldo terdiam menatap ponsel di tangannya.


"Aku menemani Ayu sebentar, setelahnya aku akan ikut mencari kakek tua itu." Ucap David beranjak meninggalkan Aldo yang masih tertunduk.


Sejenak dia berfikir lalu kembali berdiri menuju ruangan Reva di rawat, perlahan dia membuka pintu melihat istri kesayangan tengah tertidur pulas. Aldo mendekatinya, menatap wajah yang lelap begitu damai, memeluknya sejenak mencium pipinya lalu kemudian meninggalkannya pergi.


Aldo segera berjalan menuju mobilnya, tanpa aba-aba dia melajukan mobilnya sedikit kencang, entah akan kemana dia pergi. Hingga beberapa saat kemudian dia sudah sampai di depan rumah mewah bertingkat, dengan halaman yang luas dan taman yang indah, tampak beberapa orang pria sedang berjaga di depan pintu gerbang halamannya.


Aldo membuka kaca mobil dan memperlihatkan wajahnya, para pria yang berjaga itu langsung membuka gerbang dengan cepat, membungkukan badannya sedikit memberi hormat.


Aldo memarkirkan mobilnya dekat dengan mobil yang lain, dia turun dengan tanpa menoleh kesana kemari seperti sudah hafal sekali dengan segala yang ada di rumah itu. Masuk tanpa permisi para asisten yang melihatnya langsung menyapa hormat, hingga sampai di ruangan keluarga yang begitu besar.


"Kau sudah datang." Wanita cantik dan anggun itu menyapanya dengan bahagia sekali.


"Tentu saja aku datang, bukankah kau menginginkan aku datang memohon padamu." Jawab Aldo dengan wajah yang datar.


"Bukankah kau sangat di hormati di rumah ini, tak perlu bekerja keras dan lelah berpikir. Kau mendapatkan segalanya tapi kau memilih untuk pergi." Wanita itu duduk tanpa mempersilahkan Aldo untuk duduk.


"Apa yang kau inginkan?" Aldo langsung dengan inti pembicaraan.


"Apa yang kau minta?" Wanita itu sengaja balik bertanya dengan nada yang licik.


"Aku ingin kau mencabut laporanmu!" Aldo tidak ingin bertele-tele.

__ADS_1


"Itu mudah sekali." Jawabnya tersenyum senang.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Aldo sudah tau apa yang dia minta sudah pasti akan diminta imbalannya.


"Permintaanku masih sama Aldo, Kau tidak lihat bagaimana kau datang kemari rumah ini masih terbuka lebar untukmu." Ucapnya lagi.


"Mintalah yang lain." Aldo menunduk tidak yakin wanita itu akan menuruti keinginannya.


"Tidak ada, permintaanku hanya itu dan jika kau tidak bisa tidak apa-apa. Artinya kita sama-sama menderita, kau menderita karena istrimu, aku menderita karena anakku sangat menginginkanmu. Itu cukup adil." Wanita itu tampak bersedih lalu pergi meninggalkan Aldo.


"Mintalah nyawaku maka apapun akan ku lakukan untukmu." Teriak Aldo menatap wanita yang sedang menaiki tangga.


Wanita itu berhenti, lalu kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menoleh membuat Aldo semakin putus asa. Meremas rambutnya lalu pergi keluar meninggalkan rumah itu.


Sementara dari balkon atas gadis cantik yang sedang memperhatikannya penuh kerinduan, Isabella Maharani Hartawan.


***


Di tempat lain David baru saja tiba menyusul Rey dan Abidzar yang sedang sibuk mencari keberadaan kakek tua yang di ceritakan Ayu dan Reva, sungguh seperti ditelan bumi, hilang tanpa jejak tak ada yang mengenal atau mengetahui bahwa ada kakek tua yang menjual pisang.


"Entahlah, aku sangat bingung." Rey memijat keningnya.


"Warga di sini masih sedikit, tapi kenapa kita tidak menemukannya." Abidzar ikut merasa bingung dengan berkacak pinggang.


"Begini saja, aku akan meminta temanku beserta orang-orangnya untuk berjaga di sini. Dan sebaiknya kita kembali, Reva dan Ayu butuh kalian, aku juga harus pulang sebentar, ibu akan curiga jika aku tidak pulang." Ucap Rey, dia terduduk lelah.


"Aku setuju." Abidzar sudah sama lelahnya.


David hanya mengangguk, lalu kemudian mereka pergi setelah orang-orang kepercayaan Rey tiba disana.


***


Aldo tiba di kantor polisi, seperti biasa dia akan terburu-buru untuk bertemu istrinya, dia membuka pintu.


"Suamimu sudah datang, kakak harus pulang karena ibu juga ingin pulang kerumahnya." Rey masih menatap adiknya.


"Tapi aku tidak ingin ibu tau kak." Wajahnya terlihat khawatir.

__ADS_1


"Tidak mungkin kita menyembunyikan ini. Lama-lama ibu juga akan tahu." Rey menarik nafas berat.


"Antar ibu kerumahnya kak, jangan kerumahku. Untuk sementara ibu jangan tahu dulu." Aldo mendukung Reva kali ini.


Rey mengernyitkan keningnya, sedikit heran dengan yang di ucapkan adik iparnya. "Baiklah, kalau begitu kakak pulang dulu." Ucapnya kemudian.


"Iya kak." Aldo mengangguk saat kakak iparnya melangkah keluar.


Tinggallah mereka berdua di dalam ruang itu, "Mas, pinggangku pegal." Reva memiringkan badannya.


"Mau di pijat?" Aldo mendekat dengan senyum yang hangat.


Reva mengangguk bahagia. "Rasanya aku ingin sakit lebih lama agar aku bisa bersamamu mas." Ucapnya dengan tersenyum tipis.


"Sayang jangan begitu, aku tidak ingin kau sakit." Jawab Aldo terdengar sedih.


"Aku rindu mas." Ungkapnya dengan manja.


Aldo menjawabnya dengan senyum, membelai wajah cantik yang sering membuatnya menggila, membuat tidak berhenti memikirkannya, selalu ada di setiap tarikan nafasnya. Memeluknya erat sekali, hatinya selalu berkata "Anakku, istriku." tangannya mengelus bagian dimana calon anaknya berada.


"Apa yang kau pikirkan mas?" Reva mendongak menatap wajah yang sedang mencium kepalanya.


"Memikirkan mu sayang." Aldo menatap mata teduh yang cantik itu." Tidak ada hal lain yang bisa aku pikirkan kecuali dirimu." Jawaban yang keluar dari hati yang paling dalam.


"Aku mencintaimu mas." Reva membalas pelukan hangat itu, membenamkan wajahnya semakin dalam.


"Terimakasih sudah mencintaiku sayang. Aku sangat bahagia." Suara Aldo terdengar sedih, matanya menatap ke sembarang arah hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mas." Suara itu memanggilnya sangat manja, dengan tangan yang menyelip di pinggangnya.


Aldo mengeratkan pelukannya, sambil mencium dimana saja, dia tau Reva sangat rindu sama seperti juga dirinya, rindunya sudah tidak bisa di ungkapkan lagi.


"Istriku ini manja sekali." Aldo menggodanya, mengukir tawa yang merekah sungguh dia sangat rindu melihatnya.


Sedikit waktu bersama mengurangi kerinduan yang sudah menumpuk, tak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah esok.


"Tak ada yang lebih indah di dunia ini selain dicintai dan dirindui oleh mu." Aldo menatapnya penuh cinta, rayuan maut itu selalu berhasil membuatnya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2