Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
150. Anak tinggal di rumah mantan


__ADS_3

"Reina, tolong pelankan bicaramu." pinta Dev lembut, sedikit melirik anak kecil itu masih duduk dan menunduk.


"Kau tidak menghargai aku." ucapnya sedikit merendahkan nada bicaranya.


"Ayah, aku ingin keluar bermain dengan bibi Erita." ucapnya, seakan mengerti apa yang terjadi.


"Kau mengenalnya?" tanya Reina begitu heran.


"Iya." jawab Dimi sopan, anak kecil itu keluar dengan masih menggendong tas di punggungnya.


Reina masih menatap Dimi yang sudah menjauh dan menghilang di balik pintu, namun tatapannya kini beralih menatap Dev dengan rasa penasaran.


"Dia tinggal di rumah Aldo, sudah pasti mengenal Erita." jelas Dev, tanpa harus di tanya ia sudah tahu istrinya ingin mendengar penjelasan seperti apa.


"Oh, jadi anak itu di berikan oleh mantan kekasihmu itu sehingga kau tidak perlu meminta persetujuanku lagi." Reina berucap sinis.


"Tidak ada hubungannya dengan dia Reina, hanya kebetulan suaminya menemukan Dimi dan aku ingin dia di rawat di sini bersama kita." Dev ingin sekali menjelaskan kebenaran itu padan Reina, namun sungguh ia tidak yakin.


"Bukankah dia sudah tinggal di rumah Aldo, mengapa harus dibawa kemari? Lagi pula aku tidak punya waktu untuk mengurus anak kecil." Reina mendengus kesal, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan bibir mengerucut.


"Reina dengarkan aku!" Dev masih berteriak namun percuma wanita itu sudah menutup pintu.


Dev mengusap kasar wajahnya dan sungguh ia tidak tau bagaimana cara membujuk Reina, wanita itu sungguh keras kepala berbeda jauh dengan sikapnya saat baru pertama dekat beberapa waktu lalu. Dia berubah, bahkan sangat sulit menasehatinya, apalagi sampai membawa anak itu ke dalam rumah tangganya, Dev sangat tidak yakin.


Lama ia duduk melamun hingga akhirnya ia keluar mencari Dimi, terdengar anak itu sedang mengobrol di rumah Aldo bersama Erita, suara khas anak-anak itu membuat hatinya menghangat.


"Apa kau suka tinggal di rumah itu?" terdengar suara Erita sedang menanyainya.


"Suka Bibi, ibu sangat baik dan Ayah juga sangat menyayangiku." jawabnya polos.


"Baguslah, Bibi harap kau selalu menjadi anak baik." Erita memberinya semangat, anak yang tidak memiliki orang tua sangat membutuhkan semangat dari orang sekitarnya.


"Aku tau Bibi." jawabnya, dapat Dev dengar bahwa Dimi betah di rumah itu, sedangkan dia sebagai ayahnya malah tak memiliki tempat untuk Dimi sekedar tinggal dirumahnya sendiri.

__ADS_1


"Ayo makan Bibi sudah masak banyak, sebentar lagi kita akan pulang karena Bibi harus membantu ibumu menjaga Zahira.


"Apa Bibi tidak bekerja?" tanya anak itu dengan suara polos.


"Bibi ingin bekerja, tapi ibumu melarang karena dia sedang butuh bantuan Bibi. Dan kau tahu, dia memberi Bibi uang walaupun Bibi menolak, dia bilang untuk ongkos Bibi datang kerumahnya." mereka terus saja bercerita walaupun denting sendok dan garpu terdengar sangat ramai.


"Ibu memang baik." jawab Dimi dengan suara aneh terdengar, mulutnya sedang dipenuhi makanan.


"Sebenarnya hari ini Bibi tidak diminta datang, tapi Bibi rindu pada adikmu." Erita masih saja mengajak anak kecil itu berbicara.


Dev tersenyum mendengar ocehan mereka, ia masih saja betah duduk di teras dengan sesekali tersenyum sendiri. Tetangga barunya itu ternyata senang sekali mengobrol, padahal saat bertemu di depan rumah gadis itu terlihat pendiam dan sering menunduk jika di pandang wajahnya.


Sejenak tak terdengar obrolan apapun, tapi setelahnya Dimi keluar dengan tas di punggungnya masih menempel seperti kura-kura.


"Sayang!" Dev beranjak dan segera menghampiri anak kecil itu.


"Aku akan pulang ke rumah Ibu." ucapnya polos, tak ada yang tahu apa yang sedang ia sembunyikan di dalam hatinya, kehidupan yang sulit pernah ia lalui sendirian, tentu jika hanya membaca situasi tak nyaman dia sangat mengerti.


"Ayah akan mengantarkanmu" jawab Dev dengan tersenyum.


"Tidak masalah sayang, Ayah akan mengantarkan kalian." Dev masih berusaha tersenyum, baru saja beberapa saat yang lalu ia meminta Dimi ikut dengannya, tapi malah sekarang mengantarkan lagi ke rumah orang lain.


"Ayo Bibi!" seru anak itu sedikit berteriak.


"Iya!" jawab Erita dari dalam, gadis muda itu segera keluar dengan pakaian rapi.


"Ayah akan menghantarkan kita." Dimi tampak bahagia.


"Oh kalau begitu kalian duluan saja, biarkan aku naik taksi atau ojek" Erita jelas menolak, ada istrinya di dalam sana dan ia tidak mau di cap sebagai wanita yang tidak baik.


"Tapi kita satu tujuan Erita?" Dev benar-benar serius dengan ajakannya.


"Tidak, terimakasih atas tawarannya." Jawab Erita begitu sopan.

__ADS_1


"Baiklah, kami duluan." Dev meminta Dimi masuk ke dalam mobilnya.


Tak butuh waktu lama hanya sekitar tiga puluh menitan mereka sudah sampai dengan Erita juga sudah tiba bersama ojek online sedang berhenti di halaman rumah Aldo.


"Ayo Dimi!" ajaknya meraih tangan kecil itu.


Dev hanya menatap mereka dari teras, sungguh ia malu dengan hidupnya yang seperti sekarang ini. Memiliki istri yang egois, tidak mampu mengurus anaknya sendiri, malah anaknya lebih suka tinggal di rumah mantan kekasih. Ah, itu membuat nyalinya menciut bertemu dengan orang-orang di dalam sana.


"Darimana?" tanya Reina masih dengan wajah tak suka.


"Mengantar Dimi." jawab Dev berusaha sabar.


"Tepat sekali alasanmu mengantar anak itu dan bertemu dengan mantan kekasih." ucapnya sinis.


Dev malas berdebat, hanya melirik sekilas dan masuk ke kamar, mungkin mandi bisa mendinginkan otak dan menghilangkan lelah, sungguh lelah harus berpikir dan berpikir setiap waktu.


Makan malam di rumah itu berlangsung dengan saling membisu, hanya denting sendok dan garpu terdengar beradu. Dev berusaha tenang walau hatinya tidak tenang memikirkan Dimi, mungkin anak itu sedang kecewa dengan dirinya.


"Kau mendiamkan aku?" tanya Reina, dari tadi dia tak henti melirik suaminya namun tak sekalipun mendapat balasan.


"Hanya sedang lelah Reina." jawabnya masih berusaha biasa saja.


Hingga tidur malam itu juga dilewati dengan saling membisu, saling memunggungi dan tanpa kehangatan layaknya pengantin baru, seorang wanita pasti tidak tahan dengan kondisi seperti itu, hatinya semakin panas dan ingin sekali memarahinya.


*


Di rumah Aldo, tampak anak kecil masih duduk di ruang keluarga dengan mainan di sekelilingnya namun hanya dilihat tidak di nyalakan seperti biasa, mungkin ia tahu ini sudah malam dan hanya duduk melihatnya saja.


"Dimi?" Aldo baru saja mengunci pintu depan, ia malah melihat anak kecil itu duduk sendiri.


Dia menoleh.


"Kenapa belum tidur? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" Aldo menanyainya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tidak Ayah, aku senang sekali tinggal di rumah Ayah." jawabnya dengan mata terlihat sendu.


__ADS_2