Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
117. Anak kita


__ADS_3

Air mata itu terus mengalir sambil beristighfar dan berzikir, sesekali berteriak dan menangis. Suami tampan itu setia berdiri di sampingnya dengan sejuta kehangatan dan segudang cinta yang sudah pasti memberi semangat untuk terus berjuang, Jihad fisabilillah. Seorang wanita sudah ditakdirkan untuk hamil, melahirkan dan menyusui. Saat hamil kasih sayang suami adalah nyawa tambahan yang begitu berarti, begitu juga saat melahirkan, rasa sakit itu tersamar ketika mendapat perhatian dan kasih sayang darinya.


Hingga hampir satu jam, wajah yang selalu terlihat cerah itu sudah menjadi pucat dan sangat khawatir, namun terbayarkan saat tangis pertama itu terdengar masuk ke dalam gendang telinga. Hatinya bergetar menyaksikan betapa bayi mungil itu adalah belahan jiwanya, buah hati dan buah cintanya bersama istri yang sungguh di cintai sepenuh hati. Genggaman tangan itu tak juga di lepas bahkan semakin erat menyaksikan bayi mungil yang sedang di gendong suster untuk di bersihkan.


"Terima kasih sayang, kau hebat sekali istriku." Air mata pria itu menetes di pipi mulus penuh keringat istrinya itu, mengecup dan menciumi seluruh wajahnya, hatinya sungguh terharu menyaksikan perjuangan bertaruh nyawa.


"Pak, silahkan anda keluar dulu biarkan kami menangani istri bapak dengan tenang." Dokter itu meminta Aldo keluar.


Aldo menatap bingung dan heran.


"Istri bapak mengalami pendarahan." Ucap dokter itu terlihat serius, meminta suster mendorong tubuh Reva menuju ruang UGD.


"Tapi dok!" Aldo mengikuti dan masih memegang tangan istrinya.


"Anda ikut saya pak, anak anda akan di bersihkan dan harus di Adzan-kan." Suster berhijab itu meminta Aldo mengikutinya ke ruang bayi, sepertinya dia sudah sangat paham dengan apa yang harus Aldo lakukan.


Aldo mengikuti suster itu menuju ruangan bayi, namun matanya masih tak berpaling dari ruangan UGD yang berlawanan arah dengannya, wajah yang cantik itu tadi terlihat pucat dengan mata yang semakin sayu.


Aldo merogoh kantong celananya meraih ponsel dan menghubungi Ayu, sepertinya dia butuh seseorang untuk menemaninya, Aldo bahkan bingung harus berbuat apa.


Tak sampai satu jam Ayu sudah tiba bersama David di depan ruangan UGD, tampak mereka sedang menunggu dengan gelisah. Begitu juga Aldo yang baru saja selesai dari ruang bayi, berjalan dengan raut wajah khawatir.


"Di mana Bayinya?" Ayu mendekati Aldo.


"Di ruangan itu, dia sedang istirahat." Aldo menunjuk ke arah berlawanan dengan posisi mereka saat ini.


"Aku akan ke sana melihat keponakanku sebentar." Ayu meninggalkan dua pria itu.


"Semua akan baik-baik saja." David menghibur sahabatnya itu.


"Aku berharap begitu." jawabnya lirih.

__ADS_1


"Keluarga ibu Revalia." Dokter memanggil.


"Iya dok." Aldo mendekat, ia begitu berharap istrinya baik-baik saja.


"Istri anda butuh donor darah O pak, pihak rumah sakit sedang tidak memiliki stok darah. Pihak keluarga mungkin memiliki golongan darah yang sama." Dokter itu bicara serius.


"Aku saja, ambil saja darahku sampai habis asal istriku selamat." ucapnya pelan. Dokter itu terdiam sejenak menyaksikan wajah memelas itu, sungguh dokter wanita itu terharu.


"Mari pak kita periksa." Suster yang sedang berdiri bersama dokter itu mengajaknya, memecah keheningan dan kekaguman dokter itu terhadap Aldo.


David melihat dokter wanita itu masih terpaku. "Dia memang begitu?" ucap David, tersenyum sedikit saat dokter wanita itu menoleh, dan kemudian berlalu.


"David!" Ayu memangil David, melambaikan tangannya meminta David mendekatinya.


David beranjak, berjalan menuju ruangan bayi itu. Ayu menggandeng tangannya untuk segera masuk. "Ada apa?" David bertanya menolehnya sejenak.


"Kau lihat David, bayi Kakak cantik sekali." Ayu begitu antusias.


"Iya." Ayu menggandeng lengan David sambil menatap bahagia.


"Sayang kandunganmu sudah dua bulan, lalu kapan bisa melihat jenis kelaminnya?" David mantap Ayu dengan rasa penasaran.


"Nanti setelah tujuh bulan mungkin." Ayu menjawabnya sambil satu tangan mengelus perutnya yang masih rata.


"Ah, itu masih lama sekali." David tampak kecewa.


"Memangnya kau ingin anak perempuan yang cantik seperti ini?" Jari kecil Ayu menunjuk kaki bayi yang berada di dalam box itu.


"Tidak, aku tetap ingin anak laki-laki. Tapi aku juga menyukai bayi kecil ini." David menyentuh pipi yang sangat halus itu.


"Dasar egois, yang ini saja masih sebesar jagung, kau sudah ingin meminta dua." Ayu menunjuk perutnya sendiri.

__ADS_1


"Kita akan membuatnya lagi, kau tenang saja aku akan berusaha." ucap David dengan wajah tanpa dosa.


"Kau tidak lihat kakakku sedang berada antara hidup dan mati karena melahirkan anaknya. Sedangkan kaum laki-laki hanya sibuk membuatnya saja." Ayu menatap kesal pada suaminya.


"Tentu tidak sayang, kau tahu Aldo sedang mendonorkan darah untuk kakakmu dia kekurangan darah O." David merangkul wanita yang sangat mudah merajuk itu.


"Ayo kita keluar, mungkin Aldo sudah selesai." David mengajak Ayu beranjak dari ruangan itu.


Lama David dan Ayu duduk di ruangan tunggu hingga akhirnya Aldo muncul dengan wajah yang pucat, pria itu duduk di samping David dengan lemas.


"Kau minum dulu." David membukakan botol air mineral.


"Sudah, aku minum susu." jawabnya menyandarkan bahunya di dinding, David menutup kembali botol air mineralnya.


"Putrimu cantik sekali." David menghiburnya.


Aldo menoleh, tersenyum sedikit namun tentu membuat hatinya menghangat karena mengingat bayi kecil itu begitu ia nantikan. "Aku ingin sekali bertemu istriku." ucapnya pelan, matanya melihat pintu ruangan UGD masih tertutup rapat.


Namun tak lama setelahnya dokter sudah keluar bersama suster mengiringi, Aldo berdiri ingin segera tahu keadaan istrinya. "Bagaimana dok?"


"Kami sudah menanganinya sebaik mungkin, tapi istri anda belum sadar." Dokter itu terlihat tegang.


"Maksudnya?" Aldo terlihat panik.


"Anda boleh menemuinya sebentar sebelum kami kembali masuk Sepuluh menit lagi." dokter itu melirik jam tangannya.


Aldo segera masuk ke ruangan UGD, menemui istrinya yang masih memejamkan mata.


"Sayang." Aldo memanggilnya dengan suara bergetar, gemuruh di dadanya begitu hebat.


"Bangunlah sayang, kau belum menggendong anak kita." ucapnya lagi, matanya sudah berembun. "Sayang maafkan aku tadi membentak mu, memarahi mu, aku egois. Harusnya aku lebih memanjakan mu akhir-akhir ini, aku suami yang jahat telah membuatmu berpikir dan menahan perasaan, aku salah sudah membuat beban di hatimu. Aku tau tekanan darahmu tidak pernah tinggi, dan itu gara-gara aku." Aldo menangis, memeluknya begitu erat.

__ADS_1


"Sadarlah sayang, aku sangat mencintaimu." Aldo mengusap air matanya, dan sejenak mengecup kening yang begitu halus. Dia sudah harus keluar karena dua orang dokter sudah memasuki ruangan bersama dua suster lainnya.


__ADS_2