
Satu Minggu kemudian.
Sore itu Reva sedang terburu-buru keluar menemui Seseorang yang baru saja menghubunginya. Kali ini dia pergi sendirian menuju sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya.
"Selamat sore Ibu Amelia." Reva menyapanya dengan senyum ramah.
"Selamat sore, terimakasih sudah datang kemari. Aku butuh bicara serius denganmu. Duduklah." Titahnya dengan wajah yang arogan.
"Langsung saja, aku akan mendengarkan Anda." Ucapannya begitu tenang dan halus.
"Aku dengar kau sudah menikah dengan tangan kanan suamiku, Aldo Bramastya?" Ny. Amelia menatap tajam kepada gadis yang duduk di depannya.
"Itu benar. Kami sudah menikah." Jawabnya tegas tapi halus.
"Aku tau saat ini kau sedang butuh uang, dan uangmu ada padaku. Tapi aku ingin meminta sesuatu darimu?" Ucapnya serius.
"Apa?" Reva mulai tidak tenang.
"Serahkan sekretarismu padaku, atau kau lepaskan suamimu." Pintanya dengan nada penekanan.
"Untuk apa kau menginginkan adikku, bukankah anda akan menghabisinya?" Reva menatap wajah perempuan itu kali ini.
"Aku ingin dia bekerja padaku, akan lebih baik baginya menjadi kaki ku dari pada sekretaris di perusahaan receh seperti milikmu." Ucapnya sinis.
"Dia adikku, tidak akan ku biarkan menjadi kaki yang bisa anda buat melangkah kemana saja, perusahaan ku memang receh tapi kami tidak pernah ingkar janji dan curang seperti yang anda lakukan. Dan untuk suamiku, dia mencintaiku dan akan selalu begitu." Sebenarnya dia terbawa emosi, tapi dia berusaha setenang mungkin menghadapi wanita licik seperti Nyonya Amalia.
"Apa kau tidak sadar, kau telah merebutnya dari putriku. Dia selalu bersama putriku sebelum kau hadir menggodanya. Dia menjaga dan menyayangi putriku sejak ia masih kecil. Dan saat ini putriku harus kehilangan karena dirimu." Ny. Amelia marah kali ini.
"Aku tidak merebutnya dari siapapun. Dia yang mengejar dan melamarku jadi aku berhak menerimanya. Dan sekarang dia suamiku." Reva jadi ikut meninggikan suaranya.
"Kau keras kepala, aku akan memberitahumu satu hal, Dia selalu bersama putriku bahkan disaat putriku di rumah sendirian, Aldolah yang menemaninya. Apa kau tidak tahu maksudku? Semua bisa saja terjadi jika seorang perempuan dan laki-laki berada dalam satu rumah, hanya berdua. Aku tidak mau putriku menderita kehilangan kebahagiaan karena dirimu."
Reva terdiam mendengarnya, seketika ia kehilangan kekuatan untuk berdiri. Sekelebat bayangan Bella memeluk Aldo saat ia akan melamarnya, Aldo juga menarik Bella saat di Vila dan menyuruhnya masuk ke kamar, juga di mobilnya.
__ADS_1
"Maaf, aku rasa ini sudah selesai, aku permisi." Reva meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Di jalan Reva masih memikirkan ucapan Ny. Amelia. Sekejap kembali terbayang Bella yang sangat berani memeluk suaminya, di tambah lagi pakaiannya yang selalu minim. Bukan tidak mungkin seorang Aldo akan tergoda jika mereka selalu bersama. "Apa aku harus percaya," Lirihnya, tapi kembali teringat saat-saat romantis bersama suaminya, dan itu membuat ia tak mau kehilangan.
Hingga tiba di rumah, Reva langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar lagi. Seperti biasanya, Aldo selalu pulang larut, Dia sendirian menahan gelisah, berteman bantal dan air mata.
***
"Kau ada dimana, kenapa ramai sekali?" Suara orang yang meneleponnya.
"Aku sedang diluar, bekerja dengan David." Jawabnya.
"Ini sudah larut, kau tidak pulang." Tanya pria itu lagi.
"Ini aku akan bersiap pulang. Oh iya kapan kau kembali, bukankah kau sudah mengurus kepindahanmu?"
"Mungkin Minggu depan." Jawabnya.
Sesampainya di rumah, Aldo sudah tidak sabar menemui istrinya yang entah masih menunggu atau sudah terlelap. Ketika pintu kamar sudah di buka, dia mendapati Reva tidur miring membelakanginya. Tidak biasa ia tidur seperti itu, hingga Aldo penasaran dan meraih bahu istrinya.
"Sayang." Aldo terkejut melihat rambut istrinya yang basah, ia meraba bantalnya ternyata juga basah. "Dia menangis" gumamnya.
Aldo mengusap dan meremas rambutnya, "Apa dia marah karena aku selalu pulang larut malam?" Batinnya, ia teringat saat terakhir melihat istrinya menangis saat mendengar sumpah sahabatnya. "Dev!" Ucapnya kemudian.
"Apa Reva menghubunginya?" batinnya lagi. Aldo segera mengambil ponsel istrinya, tapi tak menemukan panggilan atau pesan untuk sahabatnya. "Kenapa bisa kebetulan sekali, tadi Dev menelepon. Saat di Vila juga, Reva marah dan dia menelepon." Aldo jadi menduga-duga. Tapi kemudian ia segera mandi, hingga sesaat berlalu ia ikut tertidur dengan memeluk istrinya.
***
Pagi-pagi sekali Reva sudah bangun lebih dulu. Dia menatap wajah di sampingnya, wajah yang sempurna dengan lengan yang kokoh selalu setia memeluknya hingga pagi. Kembali teringat ucapan Nyonya Amelia, membuat Reva mengeluarkan air mata membayangkan suaminya berduaan dengan Bella, itu sungguh menghancurkan hatinya. "Aku tidak mau kehilangan mu mas." Ucapnya pelan sekali. Membuat pria yang memeluknya terbangun dan membuka mata.
"Sayang kau sudah bangun." Aldo mengusap matanya.
"Iya." Reva segera mengusap air mata dan bersikap seperti tak ada apa-apa.
__ADS_1
"Sayang, Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu. Aku sibuk bekerja dan hampir tak punya waktu untukmu. Aku janji, mulai besok aku akan usahakan pulang lebih cepat." Aldo menatap mata teduh istri kecilnya.
"Impianku sangatlah sederhana mas. Mampu mencintaimu dan di cintai olehmu. Hingga kita lupa bagaimana caranya berpisah, sungguh aku tidak mau jauh darimu mas." Ucapnya begitu lembut dan penuh perasaan.
Aldo tercekat mendengar kalimat sederhana yang keluar dari mulut istrinya. "Aku juga tidak mau sayang." Ucapnya kemudian.
"Aku ingin selalu bersamamu mas." Reva memeluknya, membenamkan wajah di dada yang hangat.
Aldo membalas memeluk istrinya erat sekali, menciumi kening dan pipinya yang halus. Aldo mendapatkan jawaban atas keraguannya selama ini. "Dia mencintaiku" begitu hatinya berulangkali mengucap kata yang sama. Matanya berembun sebagai luapan bahagia.
"Akhirnya aku memilikimu. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Selalu dan akan selamanya begitu." Aldo tak henti menciumi istrinya.
Ungkapan bahagia itu, menguatkan hatinya untuk tidak akan pernah melepas Aldo apapun yang terjadi. "Aku istrimu, aku akan membuatmu hanya mengingatku, hanya aku." batinnya, Reva menghembuskan nafas lega. Membiarkan Aldo memanjakan dirinya.
*
"Bi Tuti!" Reva mencarinya di dapur.
"Iya non." BI Tuti setengah berlari menghampiri majikannya.
"Apa bibi tidak sibuk hari ini?" Reva duduk di meja makan sambil meminum air putih.
"Enggak non, emangnya ada apa?" Bi Tuti ikut duduk bersama Reva, dia memang sudah tak canggung lagi dengan majikannya. Reva selalu memperlakukannya dengan baik sama seperti keluarga.
"Temani aku belanja bi, aku ingin membeli sesuatu." Ucap Reva sedikit ragu-ragu.
"Mau beli apaan sih non, sampe mau ngajak Tuti?" Bi Tuti mendekatkan wajahnya penasaran.
"Aku mau beli baju bi, baju yang pendek dan seksi agar suamiku betah di rumah." Reva menunduk malu-malu.
"Hah... Aduh non, emang non ga punya?" tanya bi Tuti. Reva hanya menggeleng saja.
"Ok. Saya siap menemani, saya tau tempat yang jual baju kaya begitu. Sekalian mau cuci mata." Ucapnya bersemangat.
__ADS_1