Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
105. Menjadi aku


__ADS_3

Tak lama setelah Reva masuk pria itu segera keluar, dia mendekati Aldo yang sedang duduk menyandar di kursi tunggu.


”Jangan kau marahi dia." Ucapnya ikut duduk tak jauh dari Aldo.


"Aku tidak memarahinya, kau jangan terlalu memikirkan istriku." Aldo tak menoleh sama sekali.


"Aku tidak ingin ikut campur, tapi jika cemburumu berlebihan dan sikap bengismu masih tidak kau rubah aku yakin kau bisa menyakitinya."


"Aku tidak mungkin menyakiti istriku!" Aldo sungguh kesal.


"Mungkin saja, bahkan berita berseliweran di TV pria menghabisi istrinya karena cemburu. Cemburu yang berlebihan itu sudah memasuki tahap gangguan jiwa." Ucap Dev masih tak puas dengan penjelasannya.


"Kau mengatai aku gila, atau kau sendiri yang sedang gila?" Aldo menatap tajam pada pria di sampingnya itu.


"Demi Tuhan aku ingin kau merasakan seperti apa hidupku. Andai satu hari saja kau menjadi aku, satu hari saja kau menyaksikan istrimu hidup dengan laki-laki lain, mengandung anaknya, mencintainya, dan melupakan aku. Aku rasa kau akan lebih gila daripada aku, atau bahkan sudah bunuh diri."


Aldo menoleh, entah kali ini kata-kata itu tidak membuatnya emosi, malah membuatnya berpikir bahwa tidak akan mampu menjadi dirinya. "Apa kau sedang mencurahkan isi hatimu padaku?"


"Jika kau masih punya hati, atau sudah tak punya karena kau selalu berpikir aku akan merebutnya darimu." Dev tersenyum getir.


Rey dan Reva keluar membuat pembicaraan sengit itu terhenti. Dua beradik itu berjalan beriringan mendekati Aldo dan Dev.


"Kau ajak istrimu pulang, malam ini biar aku menjaga ibu." Rey berbicara pada adik iparnya.

__ADS_1


"Tapi kakak juga lelah, bahkan belum mandi?" Reva melihat pakaian kakaknya masih berseragam militer.


"Aku bisa mandi dan tidur di sini, lagi pula suamimu juga baru saja pulang bekerja. Kau urus dia." Rey menunjuk adik iparnya masih memakai kemeja.


Reva melihat ke arah suaminya yang memang benar dia terlihat lelah. "Baiklah." Reva mengambil tasnya di ruang rawat ibu, lalu kemudian keluar dan menghampiri Aldo. "Ayo mas." Ucapnya pelan.


Aldo beranjak merangkul tubuh berisi itu. "Aku pulang dulu kak, besok pagi-pagi aku akan kembali. Atau jika ada sesuatu kakak hubungi aku." Ucap Aldo sebelum berlalu.


"Iya." Jawab Rey. Duduk menyandar di samping rekannya, sungguh dia begitu lelah.


"Kau bicara apa padanya?" Rey menoleh Dev yang masih diam.


"Hanya bilang jangan salah paham." Jawabnya ikut menyandar.


"Dia tidak pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta seperti itu, menghawatirkan." Ucap Dev menggeleng pelan, dia tak sadar orang yang dia bicarakan sedang berdiri di sampingnya.


"Itu lebih baik, dari pada sering jatuh cinta tapi akhirnya menyakiti diri sendiri." Jawab Aldo, ternyata ia kembali mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di kursi tempat ia duduk.


Rey dan Dev terdiam dengan menatap Aldo yang sudah melenggang pergi menyusul istrinya. "Apa dia sedang marah padaku?" Rey masih menatap jauh di tempat adik iparnya berjalan.


"Tentu saja padaku!" Dev kembali menyandar.


"Dev, aku harap kau menemukan kebahagian setelah ini. Jujur saja aku ingin kau hidup layaknya orang yang lain, kau harus semangat dan berhenti memikirkan bahwa hidup sudah berakhir. Kau tahu, ada pepatah mengatakan, berbuatlah kebaikan seolah ini adalah hari terakhir, dan esok tak ada lagi, itu berlaku untuk menjaga perilaku kita agar tidak melakukan keburukan. Lalu ada pepatah juga mengatakan, masih ada hari esok, artinya masih ada harapan dan kesempatan untuk melakukan yang terbaik, menikmati hidup." Rey menoleh sejenak.

__ADS_1


"Aku juga ingin begitu, tapi entahlah sepertinya aku belum menemukan apapun." Dev menatap ke arah yang jauh tak terbatas.


"Kau masih rutin berobat?" Rey bertanya lagi.


"Masih, tapi seperti yang kau tahu, sakitku ini tak ada obatnya." Dev terlihat putus asa.


"Tapi ada solusinya." Rey menatap wajah itu. "Kau tahu masih ada peluang jika kau mau berusaha, aku pernah membaca bahwa orang yang menderita HIV masih memiliki kesempatan untuk punya anak jika pasanganmu sehat. Tapi aku tidak tahu pasti dan ku harap kau konsultasikan pada doktermu. Lagi pula dunia ini sudah modern, banyak cara yang bisa di lakukan dokter." Rey memberinya semangat.


"Terima kasih kau masih setia menjadi temanku, aku akan berusaha bangkit dari semua ini. Kau tahu aku sangat lelah dengan kenyataan ini, aku sendirian tanpa orang tua, tanpa keluarga, tanpa banyak teman bahkan sebagian besar dari mereka menjauhi aku. Hanya kau saja yang tidak meninggalkan aku, aku selalu kesepian dengan berbagai penyesalan di masa lalu. Itu membuat aku sulit melupakan adikmu, dia begitu sempurna untuk ku lupakan, dia begitu lembut untuk pernah ku tinggalkan, walaupun itu awalnya untuk kebaikan dirinya, tapi akhirnya aku yang tersiksa karena tidak bisa berpaling dari bayang-bayangnya. Apalagi saat aku melihat dia begitu mencintai Aldo, aku merasa tersakiti, aku sungguh tidak siap untuk di lupakan." Suaranya terdengar menyedihkan.


"Kau dengarkan aku, kau memintanya menikah dengan temanmu itu, kau juga yang meminta Reva untuk bahagia bersamanya. Kau ingat saat itu dia tidak mau, kau lupa dia menangisi dirimu hingga terlihat sangat menyedihkan. Apa kau tidak kasihan? Dia juga sama sepertimu, berjuang untuk melanjutkan hidup dengan bahagia seperti yang kau minta. Dia juga kesakitan, hanya beruntung dia di dampingi Aldo yang tanpa lelah mencintainya. Jika kau tidak siap dilupakan mengapa kau menyuruhnya pergi darimu dengan paksa. Dan Aldo menjadi seperti itu karena dia merasa sangat sulit mendapatkan adikku, dia takut tersaingi dengan ingatan bersamamu, dia menyaksikan bagai mana adikku menderita karena dirimu, dan berusaha sekuat tenaga membuat adikku lupa padamu. Apa dia salah?" Rey menjelaskan banyak hal pada rekannya yang masih terlihat sulit menerima.


"Aku tau, dan ku sadari yang cemburu itu bukan hanya dirinya, tapi juga aku." Dev menyandar dengan kepala menengadah menatap langit-langit rumah sakit, mencari hal yang sulit dia temukan, pikirannya semakin tidak karuan.


"Dev, bukalah hatimu untuk orang lain. Ku rasa itu akan lebih baik." Ucap Rey lagi.


"Aku tidak yakin bisa mencintai wanita yang baru." Jawabnya masih menengadahkan kepalanya.


"Kau belum mencobanya tapi sudah menyerah. Tidak kah kau melihat adikku, dia awalnya tidak mencintai Aldo, hingga akhirnya dia begitu lengket dan tak mau berpisah. Cinta akan datang jika kau berusaha menerima dengan sepenuh hati." Rey menjelaskan lagi, sedikit tersenyum melihat rekannya selalu putus asa.


"Adikmu itu sudah menyukai Aldo, tapi dia tidak menyadarinya waktu itu." Dev tak mau kalah.


"Kau sudah cemburu sejak awal." Rey terkekeh menggoda temannya yang tampak frustasi.

__ADS_1


__ADS_2