Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
109. Kumpul bersama


__ADS_3

Sore hari, Ibu sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Reva merangkul tangan ibu masuk ke dalam rumah, di ikuti Aldo dan Ayu membawa barang-barang ibu selama di rumah sakit.


"Ibu mau mandi." ucap ibu setelah ada di kamarnya.


"Biar aku menyiapkan air hangat ibu." Reva masuk ke kamar mandi lebih dulu.


"Sayang, ibu sangat senang melihat suamimu begitu menyayangi mu. Ingat untuk tidak membantahnya, turuti saja apa yang dia katakan." ucap ibu sambil mulai meletakkan handuk di balik pintu.


"Iya Bu, aku tau mas Aldo sangat mencintaiku." Reva tersenyum mendengar ucapan ibu, tak terbantahkan jika sudah menyangkut perasaan suaminya, tak hanya di rasakan, tapi semua orang bisa melihatnya, sungguh cinta yang teramat besar itu nyata.


"Pergilah, suamimu mungkin haus sedari tadi dia pulang bekerja lalu menjemput ibu." Ibu terlihat sedang membersihkan badannya.


"Iya." Reva menurut dan keluar dari kamar ibu, mencari keberadaan suaminya.


Reva berjalan menuju ruang tamu dan benar saja Aldo sedang duduk menyandar dengan mata terpejam. Reva segera duduk di sampingnya dan meraih bahu yang bersidekap di dada. "Mas, tidur di kamar saja!" ucapnya manja.


Aldo membuka mata menarik nafas lalu menghembuskan perlahan, menoleh wajah cantik yang sedang memegang lengannya. "Ayo, aku ingin istirahat bersamamu sayang." dengan mendekatkan wajah mencuri ciuman di pipi mulus istrinya.


Reva terkekeh kecil dengan menyandarkan kepalanya di bahu hangat itu. "Sepertinya aku juga ingin tidur sebentar." Reva berkata dengan menikmati wangi kemeja di dada Aldo.


"Apa kak Rey sudah datang?" David baru saja datang dengan terburu-buru.


"Belum, mungkin sebentar lagi." Aldo mengurungkan niatnya untuk naik ke atas.


"Aku lelah sekali." David menyandar di sofa sambil memejamkan mata.


"Istirahatlah di kamarmu, aku masih butuh bicara dengan David, sekalian menunggu kak Rey datang." ucapnya pada Reva sambil mengusap-usap kepala yang terbalut hijab Coklat itu.


"Tapi kau juga lelah mas!" jawabnya lembut.


"Nanti aku akan menyusul." Aldo tersenyum hangat.

__ADS_1


Reva beranjak meninggalkan mereka, ibu hamil itu berjalan pelan menaiki tangga dengan mata bening suaminya mengekori hingga tak terlihat lagi.


"Tadi kau kemana?" Aldo menanyai David yang tidur di sofa.


"Menemui Abidzar, ada berkas yang belum ia serahkan pada Ayu, jadi aku mengambilnya." jawab David, lengan besar itu menutup matanya. Tapi kemudian dia duduk dan berubah serius. "Kau tau, Bella setiap hari mengasuh anaknya Abi." David menatap wajah Aldo dengan tatapan tak percaya.


"Lalu apa hubungannya denganku?" Aldo tak peduli.


"Tidak ada, hanya sepertinya dia betah sekali di sana. Dan Akbar tak mau berpisah lagi dengan Bella." David terlihat sedang berpikir. "Apa kita nikahkan saja mereka?" ucapnya kemudian.


"Nikahkan bagaimana? Memang kau orangtuanya?" Aldo tak habis pikir dengan sahabatnya yang terkadang bijak dan sabar.


"Maksudku mereka saling membutuhkan, dan lagi Abi masih tampan sesuai dengan Bella yang masih muda dan cantik." ucap David, dia tak sadar ada istri yang menatap tajam di sampingnya.


"Kau bilang Bella cantik, kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya?" Ayu berdiri dengan wajah dinginnya.


"Sayang, ma-maksudku bukan begitu, dia cocok dengan Abidzar." David terlihat serba salah, dan berusaha meraih tangan Ayu.


"Kau lupa dia mantan istrimu!" David terlihat kesal dan ingin sekali memarahi rekannya itu.


"Aku tidak pernah merasa." jawabnya seperti tak berdosa, semakin membuat David emosi.


"Kau!" David melempar Aldo dengan bantal.


"Tidak usah menyalahkan orang lain, sudah jelas kau yang mata keranjang." Ayu menatap sengit padanya.


"Tapi kenyataannya tidak seperti itu!" David menarik-narik tangan kecil Ayu memintanya duduk bersamanya, walaupun yang di tariknya tak peduli dan itu semakin membuat Aldo terkekeh geli. Hingga tak mereka sadari Rey dan Alisa sudah datang membawa Ayra.


"Hay sayang, ini baru gadis yang sangat cantik." Aldo menepuk tangannya, ingin segera menggendong Ayra.


Dengan senang hati Rey memberikan Ayra pada adik iparnya dan membiarkan anak gadisnya di cium habis-habisan oleh Aldo. Sedangkan Ayu tampak masih membuang muka tak mau menatap David.

__ADS_1


"Kenapa?" Rey menatap wajah David dan Ayu bergantian.


"Ini gara-gara adik ipar kakak yang sok tampan ini." David menunjuk Aldo yang pura-pura tak mendengarkan.


Ayu tak peduli, melenggang pergi meningkatkan ketiga pria tampan di ruangan itu, membiarkan mereka berdebat dan bergosip ria.


Rey menggeleng-geleng melihat bocah dewasa itu masih saling bertengkar. "Bagaimana? Informasi apa lagi yang kalian dapatkan tentang Ayah mertuaku?" Rey sudah tak sabar mendengar penjelasan kedua adik iparnya itu.


"Ayah mertua kakak setiap bulannya menerima laporan kebangkrutan, saham merosot dan lain sebagainya. Padahal itu tidak pernah terjadi, Saham itu di ambil alih perlahan oleh orang terdekat yang juga menguasai seluk-beluk perusahaan mertuamu, aku tidak tau itu siapa, tapi nama yang tertulis di sini adalah nama yang hampir sama dengan ayah mertua kakak, kemungkinan dia adalah saudara. Itu membuat ia jatuh sakit dan sepertinya itu memang keinginan orang-orang terdekatnya." Aldo menjelaskan kembali hal yang sempat ia jelaskan di telepon.


"Aku akan bicarakan ini pada Alisa, jika itu terjadi berarti aku benar-benar harus menemani Alisa menemui mertuaku." Rey akan beranjak menemui Alisa.


"Rey, mama menelepon lagi." Alisa menatap wajah suaminya.


"Aku akan bicara pada mama, kita harus menemui mereka, Minggu nanti cuti kerjaku di mulai."


"Iya." Alisa dan Rey masuk ke dalam kamar mereka, entah apa yang sedang mereka bicarakan dengan ibu mertua yang sering menelepon belakangan ini.


"Kita bantu saja walaupun dari sini, setidaknya memberikan informasi penting akan sangat berguna untuk kak Rey." ucap David, setelah Rey meninggalkan mereka.


"Benar." Aldo menjawab singkat, dia sedang memikirkan sesuatu.


Hingga malam hari, ketiga pasangan itu tampak terlibat obrolan yang menyenangkan dengan berbagai macam canda dan gurauan yang terkadang saling menggoda dan mengatai. Terlebih lagi Ayu masih memasang wajah kesal saat berhadapan dengan David, membuat suaminya itu bingung setengah mati.


"Ini gawat." ucapnya berbicara pada diri sendiri, dia tidak tahu Aldo mendengarnya.


"Kau bisa di usir dari ranjangmu." Aldo berbisik di telinga sahabatnya itu, terdengar sangat menyebalkan.


"Ini gara-gara kau, dari semalam aku tak mendapatkan jatahku, kau malah memanas-manasi. Jika terus begini kapan dia akan mengandung anak ku?" David bersungut-sungut dengan sesekali melirik Aldo di sampingnya.


Aldo terkekeh geli mendengar ungkapan sahabatnya, wajah Bolywood itu sungguh menggelikan.

__ADS_1


__ADS_2