Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
110. Ibu


__ADS_3

"Kalian sedang mengobrol, sepertinya seru sekali." Ibu datang dengan senyumnya yang lebar.


"Ibu duduk di sini saja." Alisa meminta ibu duduk di antara dia dan Reva.


"Ah, baiklah. Cucuku yang cantik belum mengantuk?" Ibu langsung duduk dan menggendong Ayra. Tampak gadis kecil itu memegang pipi ibu dan tertawa senang sekali.


"Ibu, Akhir pekan nanti aku dan Alisa akan ke Singapura mengunjungi papa dan mama." ucap Rey menatap ibu.


"Mengapa di Singapura?" Ibu menatap heran padanya.


"Papa sakit ibu, tadinya mama tak mau mengaku sampai Aldo dan David yang memberi tahu. Dan akhirnya tadi sore mama mengaku jika papa sedang di rawat. Aku rasa mama sedang bingung dan butuh bantuan." jelas Alisa, ia menunduk kali ini.


"Benar ibu, aku dan David berhasil meretas situs perusahaan orang tua kak Alisa dan beberapa situs saham lainnya yang berhubungan dengan perusahaan kak Alisa." Aldo ikut menjelaskan.


Ibu masih terlihat bingung.


"Ibu tak perlu khawatir, aku tidak sendiri ada mereka berdua membantuku dengan informasi yang mereka punya. Lagi pula papa sedang sakit tidak mungkin papa akan membunuhku ibu." Rey meyakinkan, walau dengan tersenyum tapi dia benar-benar serius.


"Aku tak akan membiarkan itu terjadi, aku tidak mau menjadi janda dengan anak yang masih sangat kecil." ucap Alisa, wanita itu memang selalu berkata sesuai isi hatinya tanpa ragu atau di tutup-tutupi.


"Kalau Ayra sudah besar?" Rey menatap tajam pada istrinya.


"Tetap tidak mau." jawabnya tak peduli, mengundang gelak tawa dari adik-adik mereka. Ternyata seorang Rey yang tidak pernah marah bisa juga kesal dan cemburu.


"Ibu hanya bisa berdoa untuk kalian semuanya, anak-anak ibu. Ibu bahagia kalian selalu kompak saling membantu dan menyayangi. Jangan lupa untuk terus seperti ini, ini membuat ibu sangat bahagia. Ibu sangat menyayangi kalian semuanya, sama tak ada yang berbeda." ucap Ibu, hatinya sedikit lega.


"Aku tahu ibu, kau juga menyayangiku." jawab Ayu tiba-tiba wajahnya terlihat sendu dan sedih.


"Tentu saja, kau andalan ibu. Jika Reva bersamamu ibu tak pernah merasa khawatir." Ibu meraih tangan kecil Ayu dengan mesra.

__ADS_1


"Kau cengeng sekali, ingat kau sudah punya suami." Aldo mengatai Ayu, padahal tadi sore mereka terlihat akur.


"Aku perempuan, wajar jika sering terbawa perasaan, dari pada kau, sudah tua masih saja seperti ABG menjadi budak cinta." Ayu menatap sengit pada Aldo.


"Kau pikir aku tidak tau, kau juga sama." Pria itu terkekeh, membuat Ayu semakin kesal saja.


"Kau selalu saja mengatai istriku." David membela Ayu.


"Kau mau cari kesempatan, bilang saja membelanya hanya ingin berbaikan." Aldo juga menyudutkan David, membuatnya mati kutu.


"Lama-lama aku bisa darah tinggi dekat denganmu." David memutar balik arah duduknya, merasa kesal dan malas menatap wajah Aldo.


"Rasa-rasanya, aku membutuhkanmu untuk berdebat dengan papa. Dia akan menemukan lawan yang pas." Alisa menatap Aldo dengan antusias.


"Itu benar sekali." Rey ikut menimpali seraya tertawa melihat wajah adik iparnya itu.


"Kakak sedang memuji atau mengejekku?" Aldo menjadi bingung.


Ibu ikut tertawa dengan mengernyitkan keningnya. "Ibu masih merasa pusing, sebaiknya ibu istirahat lebih dulu." Ibu memberikan Ayra pada Alisa sebelumnya wanita itu menciuminya dengan gemas sekali.


"Aku akan menemanimu ibu." Reva ikut beranjak, sekilas mata teduh itu menatap suaminya, yang dibalas dengan senyum dari wajah tampan itu.


"Aku juga." Ayu beranjak mengikuti ibu dan Reva menuju kamar, tanpa menoleh siapapun wanita itu masih membiarkan suaminya merana.


Hingga malam itu terlewati, Reva terbangun di subuh yang sejuk, suara mengaji di mesjid tak jauh dari rumah ibu terdengar mengalun merdu membangunkan semua muslim yang akan menunaikan sholat dua rakaat. Reva beranjak dengan sedikit memiringkan badannya yang terasa semakin berat, duduk sejenak di kasur yang luas. Niat hati ingin membangunkan Ayu, lalu Ibu, tapi di akhir tangannya menyentuh lengan wanita istimewa di sampingnya itu Reva merasa khawatir, tak ada jawaban, tak ada respon dan...!


"Ibu, bangun." Reva mulai menangis, jantungnya kembang kempis meraba nadi di tangan ibu, mendekatkan telinganya di dada ibu, menepuk pipi dan meraba nadi di leher ibu.


"Ibu.....!!!!!" Reva menjerit histeris dengan air mata turun tanpa permisi, ibunya sudah pergi.

__ADS_1


"Kakak." Ayu terbangun dengan wajah terkejut, Reva sedang memeluk ibu dan menangis meraung-raung membangunkan seluruh penghuni rumah.


"Ada apa?" Rey dan Alisa juga yang lain ingin segera masuk ke dalam kamar.


"Ibu." Reva terus menangis pilu, menggoyang-goyangkan tubuh ibu yang terlihat sedang tidur nyenyak dan wajah yang begitu tenang. Rey mendekat dengan perasan tak karuan hingga terduduk lemas dengan air mata sudah mengalir, meraih lengan ibu dan menciumnya dengan di basahi air mata.


Aldo mendekati istrinya yang masih meraung-raung tak terkendali, mencoba menenangkan dan memeluknya. Sungguh kehilangan seperti itu sudah pernah ia rasakan, menyisakan hidupnya yang hanya sebatang kara di dunia ini.


Siang itu jenazah ibu sudah akan di mandikan, sementara Reva masih terlihat lemas dan tak henti menangis.


"David, bisakah kau urus pemakan ibu, aku takut meninggalkan Reva dalam keadaan seperti ini." Aldo tidak tega melihat istrinya yang hanya menangis.


"Baiklah, kau tak perlu khawatir aku akan mengurusnya." David segera beranjak.


"Reva adikku, jangan menangis berlebihan. Ikhlaskan kepergian ibu, walaupun kakak juga sangat bersedih. Kita akan memakamkan ibu siang ini." Rey mendekati Reva yang masih tak terkendali, tubuhnya lemas dalam pelukan Aldo.


"Ibu kak." ucapnya sesenggukan.


"Iya sayang, ibu sudah tenang meninggalkan kita. Bukankah semalam ibu sangat bahagia?" Aldo mencoba menghibur istrinya.


"Itu benar, berhentilah menangis, itu membuat ibu bersedih." Rey mengelus kepala berhijab itu lalu ia berdiri. "Kita akan menyolatkan ibu di mesjid, kau ikut bersama ku." Rey meminta Aldo.


Aldo mengangguk, tangannya masih sibuk memeluk dan mengelus tubuh istrinya. Kemeja pria itu sudah basah dan kusut karena air mata yang tak henti mengalir dari wajah cantik kesayangannya.


"Ayu, Apa sudah di mandikan?" Aldo bertanya pada Ayu yang terlihat sudah berganti pakaian.


"Sudah kak, sebentar lagi akan di bawa ke mesjid." Ayu mendekati Reva yang memang di larang memandikan ibu, dia sedang mengandung dan emosinya sedang tidak stabil.


"Bisakah kau menemani Reva, aku harus ke mesjid." Aldo menatap Ayu yang masih berdiri.

__ADS_1


"Iya." jawab Ayu singkat melihat Reva yang masih sangat bersedih.


"Sayang aku tak akan lama, kau harus kuat dan ingat di dalam sini ada anak kita, yang juga akan ikut bersedih jika kau menangis." Aldo mengecup kening yang terasa panas.


__ADS_2