
"David, apa Ayu ada di kamarnya?" Reva menghampiri David, selepas kepergian orang tuanya.
"Iya. Tadi dia sedang istirahat." Ucap David berbalik mendekatinya.
"Aku ingin bertemu dengannya." Reva meninggalkan David menuju kamar mereka.
"Ayu, apa kau ada di dalam?" Reva mengetuk pintunya.
"Iya kak, masuk saja." Terdengar jawaban dari dalam.
Reva masuk perlahan dengan senyum mengembang selalu menghiasi wajahnya. Reva duduk di tepi ranjang mendekati adiknya, di lihatnya mata yang sipit itu semakin kecil karena habis menangis.
"Kau masih bersedih?" Tanya Reva dengan khas suaranya yang lembut.
"Tidak, dia tak pantas ku tangisi, hanya aku teringat kakak dan ibuku." Jawabnya masih terdengar sedih.
"Kau tidak boleh dendam padanya, bukankah dia sudah mendapatkan balasan, sekarang dia sakit dan tak bisa menikmati hidup seperti kita." Reva mencoba menasehati.
"Tapi dulu dia sering menghina ku kak, hati ku ini masih sakit sekali." Ayu kembali memperlihatkan kekesalannya.
"Biarkan saja, bukankah jika kau mau sekarang kau bisa membalas menghinanya, dia sakit, sekarat dan tak punya siapa-siapa. Itu lebih menyakitkan terlebih lagi kau mengungkit semua kesalahannya. Tapi ada yang lebih penting dari itu, balasan yang di berikan Tuhan akan lebih setimpal dari yang manusia lakukan. Biarkan dia menghinamu, karena dia sedang mengundang kehinaan untuk dirinya sendiri. Bukankah sekarang sudah terbukti? Jadi lebih baik ikhlaskan saja, ke ikhlasanmu akan di balas kebaikan oleh Allah berkali-kali lipat. Tak usah kau pikirkan hal yang membuatmu marah, sebaliknya bantulah orang yang membutuhkan bantuanmu, tak peduli dia adalah teman atau lawan, pahalanya untukmu dan untuk kebaikanmu, bukan untuk kebaikan orang lain." Reva menggenggam tangan Ayu.
"Aku akan mencobanya." Jawabnya pelan.
"Kau pikirkan saja kebahagiaanmu bersama David, dia milikmu dan ingin memilikimu. Mulailah hidup baru, bukankah ini juga adalah buah kesabaran yang kau lewati selama ini, David sangat menyayangimu, menerimamu apa adanya." Reva tersenyum manis pada adiknya.
"Kau benar kak, David menerima ku apa adanya." Ayu menatap wajah Reva dan memikirkan kata-katanya.
"Jadi berhentilah bersedih, bahagiamu ada di depan mata." Reva tersenyum cerah dan berlalu meninggalkan Ayu.
Ayu tersenyum, pikirannya beralih pada David, pria yang selalu mendampinginya, menjaganya dan menungguinya saat sakit dan masuk penjara. Sungguh dia adalah pria yang baik sekali, akan lebih baik memikirkan David saja. Ayu yakin David tak akan pernah meninggalkannya.
__ADS_1
Ayu perlahan turun dari tempat tidurnya, ingin keluar tapi dia berpikir bagaimana cara mengganti gaunnya, Reva bahkan sudah tak ada, itu membuatnya kembali duduk dan berbaring memejamkan mata.
Hingga entah berapa lama dia tertidur, David masuk melihat keadaan istrinya. Seketika kekhawatiran itu hilang saat melihat gadis semampai itu terlelap dengan gaun masih melekat di tubuhnya. Sungguh itu pemandangan yang membuatnya gemas sekali, gaun yang cantik itu sama sekali tak lepas seperti sedang menunggu David untuk membukanya.
"Sayang bangun." David mengoyang tangan Ayu, tak ada pergerakan sama sekali membuatnya kembali menyentuh pipi, menepuknya sedikit dan mengelusnya, barulah Ayu bangun dengan mengusap matanya.
"David." Ucapnya terkejut, matanya menatap heran pada laki-laki yang baru beberapa jam menjadi suaminya.
"Iya." David tersenyum manis, menatap wajah yang baru bangun tidur itu.
"Maaf, aku masih belum terbiasa." Ucap Ayu menyadari jika mereka sudah menikah.
"Sini aku bukakan bajumu." David mengulurkan tangannya meminta Ayu mendekat.
"Apa?" Ayu membelalakkan matanya, dia sangat gugup.
"Hanya membuka saja, apa tidak lelah berpakaian seperti ini. Kau harus mandi dan ganti baju." Ucap David meraih tubuh kecil itu memintanya berbalik.
"Sudah." David sedikit memeluknya membuat Ayu semakin tak karuan, tubuhnya membeku. "Kau cantik sekali sayang." David sengaja menggodanya, dia tau istrinya sudah tak mampu bicara.
Ayu beranjak dan segera ke kamar mandi, bahkan tidak menoleh David yang sedang memandanginya dengan tertawa. "Dia lucu sekali." Gumam David semakin tertawa geli melihat istrinya.
"David, bisa tolong aku?" Suara Ayu terdengar memanggilnya dari kamar mandi.
"Iya, apa yang bisa ku lakukan sayang?" David sedikit meninggikan suaranya.
"Aku tidak membawa baju ganti." Ucapnya pelan, kepalanya sedikit mengintip di pintu kamar mandi.
"Oh, baiklah, aku akan mencarikan pakaian untukmu." David membuka lemari pakaian milik istrinya, mengambil baju kaos pendek dan celana panjang berbahan lembut, David berpikir itu akan membuatnya nyaman, meskipun terlintas pikiran nakalnya untuk memberikan pakaian yang minim, tapi sungguh dia takut istrinya masih malu dan tidak nyaman.
"Ini." David mengulurkan pakaian itu di pintu, dia tidak ingin menggodanya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih." Ayu membawanya segera dan menutup pintu. Tapi David kembali mengetuk pintu.
"Sayang buka sedikit!" Suara David.
"Ada apa lagi?" Ayu mengintip tak membuka pintu seluruhnya.
David mengulurkan pakaian pribadi milik Ayu, membuat Ayu semakin terkejut dan sangat malu. Ayu segera mengambilnya dan menutup pintu rapat sekali. "Ah ya ampun, ini memalukan!" Ayu bergumam sendirian di kamar mandi.
Sementara di luar David sedang terkekeh tak bisa berhenti. "Lihat saja nanti setelah tiba di rumahku, dia tak akan mampu bersembunyi, apalagi berlari." Senyum itu mengembang sempurna dengan seringai kecil di sudut pipinya.
David menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang, sungguh dia merasa lelah dan sibuk sekali hari ini. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, David menggeleng saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo!" David menjawab panggilan ponselnya.
"Keluar, bantu aku mengangkat pot besar di halaman." Suara Aldo begitu keras membuat David menjauhkan ponselnya, dia segera mematikan ponselnya dan keluar menemui rekannya.
"Kau ini mengganggu saja." David bersungut-sungut walaupun tangannya ikut bekerja.
"Sabar, ini masih siang." Aldo mengatainya dengan senyum menggoda.
"Memangnya kau bisa sabar?" David balas mengatai Aldo dengan wajah yang kesal.
"Tentu saja, bahkan hampir satu bulan aku bersabar. Dan rasanya tidak mengecewakan." Ucap Aldo setengah berbisik.
"Yang benar saja, aku tidak yakin akan kuat menunggu selama itu." Jawab David kesal.
"Kau tidak percaya, aku berkata jujur. Aku bahkan membuat dia yang meminta padaku." Ucap Aldo lagi, dia tersenyum bangga.
"Benarkah?" David menatap rekannya itu, dia sedikit tidak percaya.
"Makanya kau harus sabar, jangan asal terobos saja, itu menyakitkan." Aldo semakin membuatnya jengah.
__ADS_1
"Melihat dari bakat mesummu aku tak yakin, tapi melihat betapa besar cintamu, bisa jadi." David tampak sedikit berpikir, tangannya melanjutkan pekerjaan mereka.