
Tiba di kantor kontraktor milik Reva, Aldo masuk ke dalam mengambil beberapa berkas untuk segera di bawa ke lokasi pembangunan proyek 1 (satu) Anggara. Rekan bisnisnya itu sungguh adalah seorang konglomerat, Proyek yang di berikan pada Aldo saja ada Lima belas, tak terbayangkan berapa banyak keuntungan yang akan di peroleh Aldo jika lima belas proyek itu sudah selesai.
"Apa sudah siap?" Anggara sudah berdiri di depan mobilnya ketika Aldo keluar dari kantor.
"Sudah, kau ikut aku, atau aku ikut denganmu?" Aldo mendekati pria muda itu.
"Kau saja ikut denganku, lagi pula nanti kita akan ke Restoran milik almarhum ibuku." Anggara melirik jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah, ayo kita berangkat." Aldo menuju pintu mobil Anggara, dua pria sama tampan itu melaju dalam satu mobil, menuju lokasi dimana mereka sedang bekerja sama.
"Apa kabar Zahira?" tanya Anggara membuka obrolan, tangan pria itu sibuk memutar kemudi sedikit ke kiri dan ke kanan.
"Dia sedang tidur saat aku berangkat bekerja, tadi subuh dia minta di gendong, waktu tidurku jadi berkurang." Aldo bercerita dengan wajah di penuhi kebahagiaan.
Anggar menatap lurus ke depan melihat lalu lalang kendaraan, namun bibir tipisnya tertarik melengkung mendengar cerita tentang gadis kecil itu.
"Dia membuatku selalu ingin bertemu." ucapnya tiba-tiba.
"Kau seperti sedang jatuh cinta saja." Aldo mengajaknya bercanda.
"Benar juga." Pria itu ikut tertawa.
"Kalau begitu segeralah menikah, kau pasti akan merasakan kebahagiaan yang sempurna. Memiliki anak yang lucu seperti Zahira." Aldo memprovokasi Anggara.
"Aku belum memiliki calon istri." Anggara jadi salah tingkah.
"Ada banyak wanita di luar sana, kau hanya perlu memilih yang baik untukmu. Itu tidak mudah, tapi aku yakin kau akan menemukannya." Aldo memberi semangat.
"Semoga saja." ucapnya, sedikit menoleh dan tersenyum.
Aldo memperhatikan wajah pria yang sedang menyetir itu, hidung mancung dengan mata coklat, kulit putih kemerah-merahan, bibir tipis dengan rahang tegas. Wanita mana yang tidak menyukainya, di tambah lagi dengan penampilan yang selalu sempurna di tubuh tinggi dan gagah khas seorang tentara muda, dia begitu sempurna. Belum lagi di tambah nilai plus dari seorang Anggara, pemilik dari perusahaan besar dengan cabang di mana-mana, sekali tunjuk sepuluh wanita cantik akan bersedia menjadi kekasihnya.
Aldo menggeleng pelan memijat keningnya. "Apa dia masih belum move on dari istriku?" tentu saja itu hanya ada di dalam hatinya. Apa iya harus sepercaya diri itu?
__ADS_1
"Kita makan dulu, sekalian melihat Restoran ibuku, aku sedang merindukannya." ajak Anggara setelah sampai di sebuah restoran yang lumayan besar.
"Tak masalah, tadi aku juga belum sempat sarapan." Aldo ikut turun bersama pria itu menuju ke dalam restoran.
"Pesanlah apa saja, aku akan memesan bebek goreng kesukaan ibuku." Anggaran melihat seluruh ruangan masih tersusun rapi dan bersih terawat.
"Sama saja." Aldo memberikan daftar menu makanan pada pelayan restoran itu.
"Apa restoran ini sudah berdiri lama?" Aldo melihat suasana yang sejuk dan begitu nyaman.
"Iya, ibuku yang mendirikan ini, tapi sayang setelah beberapa tahun ibuku meninggal." Anggara menunduk seperti sedang kembali ke masa ia kehilangan ibunya.
"Kita sama saja, bahkan aku lebih malang darimu. Aku yatim piatu sejak masih kecil, harus hidup di jalanan untuk menyambung kebutuhan hidup. Dan itu juga yang menjadikan aku begitu berani dan sedikit kejam, terlebih lagi saat bekerja dengan pak Hartawan." jelasnya mengenang masa itu.
"Aku sudah tau, aku banyak mendengar tentangmu dari sepupuku Abidzar." Anggara tersenyum.
"Ku dengar dia sedang dekat dengan Bella putri pak Hartawan." Aldo mengingat percakapannya dengan David.
"Iya. Dia mantan istrimu." Anggara terkekeh geli.
Namun setelahnya pesanan mereka sudah datang membuat obrolan keduanya harus terhenti. Tak butuh waktu lama, mereka sudah selesai menghabiskan hidangan bebek goreng kesukaan Anggara. Mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi pembangunan.
*
Sementara di rumah, Reva begitu menikmati status barunya sebagai seorang ibu. Reva memandikan Zahira dengan sangat hati-hati, sesekali di bantu bibi Tuti untuk memberi shampo di kepala mungil itu.
"Udah non, jangan kelamaan nanti masuk angin." Tuti meminta majikannya mengakhiri mandi si kecil.
"Iya bi, bisa minta tolong di bukakan handuknya?" Reva mengusap rambut si kecil yang masih basah.
"Nih non, langsung di peluk saja biar anget!" Bi Tuti begitu paham cara mengurus bayi, dia begitu gemas melihat Zahira mulai menangis.
"Makasih ya Bi." Reva beranjak dari duduknya segera mengganti pakaian Zahira menuju kamar bayi. Ia sibuk memasangkan pakaian si kecil dengan begitu hati-hati, sesekali ia mengajak Zahira bicara walaupun yang di ajak bicara masih belum bisa apa-apa.
__ADS_1
"Non, ada telepon dari mas Rey." Bibi masuk membawa ponsel milik Reva yang sudah tersambung.
"Makasih bi." Reva memangku Zahira untuk di berikan ASI, dengan satu tangannya memegang ponsel mengarahkan ke telinga.
"Assalamualaikum kakak." Reva begitu bahagia mendapat telepon dari Rey.
"Wa'alaikum salaam adikku, bagaimana kabar keponakan ku?" suara Rey di seberang sana.
"Dia baru selesai mandi kak, dia tidak rewel hanya suka bangun lebih awal." Reva berbicara dengan penuh antusias.
"Itu biasa, dulu saat Ayra masih bayi malah lebih suka begadang dan menangis." ucap Rey sambil tertawa mengenang Ayra saat masih bayi.
"Iya, aku masih ingat saat kakak tidur bergantian!" Reva ikut tertawa.
"Itu benar sekali, Alisa selalu bangun dengan mata panda, aku kasihan sekali melihat kakakmu." lanjutnya lagi.
"Untungnya Zahira tidak begitu, mas Aldo juga selalu bangun lebih awal menemani Zahira. Aku jadi punya waktu untuk beristirahat." Reva bercerita banyak.
"Aku percaya dia akan menyayangimu sepenuh hati, itu sebabnya aku tak terlalu menghawatirkan mu." suara Rey terdengar serius.
"Iya kak, dia sangat menyayangiku, kakak tak perlu cemas." jawabnya begitu yakin.
"Apa Dev pernah datang?" akhirnya Rey menanyakan hal itu.
"Pernah Kak, satu Minggu yang lalu saat hari aku akan melahirkan." Suara Reva terdengar sedang memikirkan sesuatu.
"Lalu?" Rey jadi penasaran.
"Hanya sebentar setelahnya dia pulang." Reva diam sejenak. "Kak, apa aku boleh bertanya?" Reva melanjutkan ucapannya.
"Boleh adikku sayang, katakan saja." Rey terdengar kembali bersemangat.
"Apa Dev pernah bicara tentang janjiku padanya?" Reva bertanya dengan ragu-ragu.
__ADS_1
"Aldo sudah bercerita rupanya." Rey menarik nafas." Benar." lanjutnya kemudian.
"Itu membuat pertengkaran antara aku dan mas Aldo saat Dev datang." jelasnya pelan.