Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
24. Buka hatimu


__ADS_3

"Aku sudah melamarnya, aku juga sudah mendapatkan jawabannya, tapi mengapa aku jadi takut untuk melangkah." Aldo mengemudikan mobilnya dengan gelisah, antara percaya dan tidak percaya Reva sudah menerima lamarannya, benarkah itu keinginannya, ataukah dia sedang berlari dari patah hatinya. Aldo menghembuskan nafas, menyandarkan bahu di kursi kemudi. Hingga ia berhenti di depan rumahnya yang lama.


"Dev, apa kau ada di dalam?" Aldo mengetuk pintu.


Tak lama pintu terbuka, benar saja sahabatnya masih ada dan sepertinya baru saja bangun tidur.


"Ada apa?" Ucapnya.


"Aku hanya ingin tau keadaanmu, aku meneleponmu tapi hpmu tidak aktif." Aldo menatap wajah temannya itu tampak masih sedikit pucat.


"Aku tidak apa-apa. Kenapa kau kemari, bukannya waktu itu kau bilang tidak aman pulang kesini?" Ucap Dev sambil mengusap wajahnya.


"Aku rasa tidak apa-apa, masalah nya tidak separah itu." Aldo berbalik berjalan menuju rumahnya di ikuti Dev yang masih penasaran dengan sahabatnya yang tiba-tiba kembali ke rumah.


"Kau mau menginap?" Dev masuk dan langsung duduk menyandar di ruang tamu.


"Entahlah, lihat nanti." Ucapnya sambil melepas jas dan duduk menyandar.


"Sepertinya kau sedang ada masalah." Tebaknya.


"Tidak." Jawab Aldo singkat.


"Apa Reva sudah sembuh?" Tanya Dev, membuat Aldo membuka matanya.


"Dia sudah pulang, aku yang mengantarnya." Ia memejamkan matanya kembali.


Diam.


Keduanya diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kau memikirkannya?" Aldo tiba-tiba menanyakan seolah tau isi kepala sahabatnya.


"Kau juga." Dev tertawa menggeleng-gelengkan kepala. Dia merasa lucu dengan yang sedang mereka bicarakan.


"Ini konyol sekali, tapi benar aku sedang memikirkannya." Aldo menertawai dirinya sendiri.


"Memangnya ada apa, Apa dia marah padamu?"


"Tidak, dia justru menerima lamaranku." Ucapnya lemah.


Dev terdiam, ada sesuatu yang menusuk didalam hati. Ingin bahagia mendengarnya ingin juga bersedih dan berteriak sepuasnya. satu sisi hatinya bahagia dia tidak lagi menangis sesenggukan karena dirinya, tapi sisi lainnya hatinya sangat terluka."Kekasihku menerima lamaran sahabatku. Tunanganku akan menikah." Hanya bisa menarik nafas menekan rasa tak karuan di dalam dada.


"Berbahagialah, sebentar lagi kau akan menjadi suaminya." Ucapnya kemudian.


"Apa dia sedang lari darimu?" Aldo menatap sahabatnya.


"Dari awal memang sudah begitu keadaannya, dia hanya belum sadar bahwa dia juga mencintaimu, dia tidak sadar sejak mengenalmu hatinya sudah mendua tak lagi seperti dulu. Matanya begitu pasrah saat menatap mu, berbeda kepada ku, dia tidak pernah begitu, jujur saja itu membuat aku cemburu." Dev menjelaskannya.


"Aku takut hanya memiliki raganya, tapi hatinya untukmu." Aldo masih tak yakin.

__ADS_1


"Kalau kau tidak menikah dengannya, berarti Galih Anggara yang akan memilikinya." Ucapnya membuat Aldo merubah posisi duduknya.


"Kau mengenalnya?" Tanya Aldo sangat penasaran.


"Tidak, tapi aku pernah melihat foto mereka berdua. Sersan Galih sedang merangkul bahu Reva. Dia masih rajin menelepon Reva sampai saat ini, bahkan ke ibu juga." Jelasnya lagi.


"Apa alasan mereka berpisah?" Aldo jadi sangat ingin tahu.


"Entahlah, tapi Reva sempat bilang Reva tak mau menunggu, sedangkan Galih ingin mengejar kariernya dulu." Dev mengedikkan dua bahunya.


"Aku akan menikah secepatnya." Ucap Aldo yakin.


Dev menatapnya sebentar kemudian tertawa mendengarnya.


***


Empat hari berlalu. Reva sudah sembuh kakinya tidak lagi bengkak dan sakit, dia sudah bisa berjalan tanpa menggunakan kursi roda. Namun akhir pekan ini terasa berbeda, sejak hari ia menerima lamaran Aldo dia belum pernah bertemu kembali, bahkan tak ada telepon dan pesan.


"Apa dia tidak serius dengan lamarannya?" Reva mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, sedangkan tangan kirinya menopang dagu tampak berfikir dan sepertinya juga bosan.


"Sayang ada yang datang mencarimu?" Suara ibu membuatnya menoleh.


Belum juga dia beranjak orang yang mencari sudah berjalan mendekatinya, kali ini dia memakai kaos lengan panjang berwarna putih, dengan celana Abu-abu. Wajah yang selalu fresh dengan rambut yang rapi, tak lupa senyum yang manis dan tatapan penuh cinta kepadanya.


"Kenapa melamun, apa sedang memikirkan ku?" Dia berdiri dekat sekali dengan gadis berhijab itu.


"Menurut mu?" Reva balik bertanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Tidak, kaki ku sudah sembuh." Jawabnya tanpa melihat orang yang di depannya.


"Apa kita bisa jalan-jalan hari ini?" Tanyanya sangat hati-hati.


Reva menatap pria tampan itu sejenak, lalu dia masuk kedalam untuk mengganti baju. Tak butuh waktu lama Reva sudah siap.


Aldo menatapnya penuh kekaguman, tak menyangka bisa mengajaknya pergi sebagai tunangan. Selama ini Berkhayal saja ia tidak berani.


"Ibu aku pergi dulu jalan-jalan bersama Aldo." Reva meraih tangan ibu yang sedang sibuk dengan bunga-bunganya.


"Ah Iya, kalian hati-hati dijalan." Ibu menghentikan aktivitas merawat bunganya.


"Aku akan menjaganya Bu." Aldo mencium tangan ibu.


"Aku percaya padamu." Ibu tersenyum menghantar kepergian mereka.


Di jalan keduanya hening, hingga berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Aldo mengajaknya turun, Reva hanya mengikutinya. Mereka masuk mengitari tempat itu hingga tiba di depan toko perhiasan. Aldo meraih dan menggenggam jari tangan Reva membuatnya terkejut bukan main tapi Aldo tidak melepaskannya.


"Saya mencari cincin pernikahan." Ucapnya pada pegawai toko.


Belum habis terkejut dengan perlakuannya, sekarang dia lebih terkejut lagi mendengar yang dikatakan pria itu.

__ADS_1


"Kita membeli cincin?" Reva bertanya.


Aldo tidak menjawab malah ia sibuk melihat model cincin yang di hadapannya.


"Mau yang mana?" Tanya Aldo menoleh wajah kekasihnya.


"Yang mana saja." Jawabnya masih dengan tatapan heran.


"Kalau begitu yang ini saja." Aldo menunjuk salah satu.


"Kita ukur jarinya ya ."


Pegawai toko itu mengukur jari Reva dan Aldo bergantian. tak lama setelahnya semua sudah selesai. Aldo masih menggenggam tangan Reva hingga kembali masuk di dalam mobil barulah di lepasnya.


"Ku pikir kau tidak serius." Tiba-tiba Reva mengatakannya.


Membuat Aldo kembali mematikan mobil. beralih menghadap Reva yang duduk tenang di sebelah kirinya. Aldo memandanginya sedikit lama. Ia melihat tingkah gadisnya sedikit menuntut kali ini, tapi ia senang melihat itu.


"Aku masih mengurusnya, aku perlu bicara dengan ibu dan kakak juga." Jelasnya lalu menghidupkan mobilnya lagi.


Reva hanya diam di sepanjang perjalanan, Reva tidak tau Aldo akan membawanya ke mana tapi dia juga tidak bertanya. Hingga mereka tiba di pantai yang beberapa waktu lalu mereka ada di sana menghabiskan senja bersama.


Reva turun dari mobil disambut angin yang sejuk menerpa dirinya.


"Apa kau yakin akan menikah denganku?" Ucap Aldo mendekatinya.


"Aku yakin." Reva menghadap wajahnya.


"Mahar apa yang kau minta dariku?" Tanya Aldo lagi.


"Aku tidak meminta apapun, aku akan terima apa saja yang kau berikan pada ku, asal tidak menjadi beban bagimu." Ucapnya dengan suara yang lembut khas dirinya.


Aldo semakin terpana dibuatnya, dia tidak menyangka dengan apa yang di dengar dari mulut kekasihnya itu. Membuat ia berfikir tidak akan pernah melepaskannya apapun yang terjadi.


"Aku sangat mencintaimu, apapun yang kau minta aku akan lakukan bahkan nyawaku." Ucapnya bersungguh-sungguh.


"Aku akan meminta banyak hal darimu."


"Apa?" Aldo menatap matanya dalam-dalam.


"Jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi, hanya aku satu-satunya dalam hidupmu."


"Itu pasti." Ucap Aldo masih menatapnya.


"Aku mau menikah secepatnya, dan tidak ada pesta." Tambahnya Lagi, kali ini Reva mengucapkannya lalu menunduk.


"Baiklah, Aku ikut semua yang kau mau, tapi bolehkah aku meminta satu hal saja darimu?" Ucapnya penuh harap.


"Apa?" Kali ini Reva mendongakkan kepalanya menatap mata pria itu.

__ADS_1


"Aku ingin kau membuka hatimu untukku." Ucapnya mantap.


__ADS_2