Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
35. Tenggelam bersamaku


__ADS_3

"Ini dua meter mas, apa kurang luas?" Ucap Reva masih dalam pelukan Aldo.


"Aku butuh ruangan yang luas untuk menguasai dirimu. Dan waktu yang lama untuk membawamu tenggelam bersamaku." Aldo berbisik dengan mengelus punggung istrinya.


"Apa kita sedang berenang?" tanya Reva, Aldo jadi tertawa karenanya.


"Aku sangat menyayangimu, Reva ku..." Aldo mencium keningnya.


"Aku juga mas, sangat menyayangimu." Reva tak lagi menyembunyikan perasaannya. "Tidurlah, waktu istirahatmu sedikit sekali akhir-akhir ini!" Ucapnya lagi.


"Apa yang tadi tidak jadi?" Aldo menggodanya.


"Besok saja mas. Ini sudah jam setengah dua." Reva melirik jam tangannya.


"Baiklah, aku akan sabar menunggumu." Aldo mulai memejamkan mata. Reva hanya tersenyum lalu ikut memejamkan matanya.


Hingga pagi keduanya saling memeluk seakan takut kehilangan. Aldo bangun lebih dulu mendengar dering telepon lalu dia mengangkatnya.


"Waalaikumsalam ibu" Aldo menjawab panggilan telepon milik Reva.


"Nak, jika tidak sibuk datanglah kemari pagi ini. Siang nanti ibu akan pergi ke rumah kakakmu, karena Alisa akan kembali masuk kerja, ibu harus menjaga Ayra." suara ibu di seberang sana.


"Iya ibu, sebentar lagi kami akan menuju kesana. Reva masih tidur." Ucapnya sedikit pelan.


"Oh, baiklah." Kemudian ibu mengakhiri panggilannya.


Aldo menarik lengannya yang di jadikan bantal oleh Reva, membuat gadis yang sedang tertidur itu ikut membuka mata.


"Mas!" Panggilnya manja sekali.


"Bangunlah sayang, ibu meminta kita datang. katanya ibu akan ikut kak Alisa kerumahnya untuk beberapa waktu." Aldo mengelus pipi yang menjadi kesukaanya.


"Iya." Mereka beranjak dari tidurnya.


*

__ADS_1


Aldo selalu menggandeng dan menggenggam tangan istrinya, membuat ibu merasa bahagia ketika melihat mereka berdua masuk dengan mesranya. Ibu sangat percaya jika Reva akan bahagia. Ibu memeluk dan mencium putri kesayangannya, di ikuti Aldo yang mencium tangan ibu.


"Apa ibu akan lama?" Reva menggandeng ibunya.


"Ibu harus menjaga keponakan mu, kasihan Alisa pasti kerepotan jika mengurusnya sendirian. Jadi, sampai waktu yang tidak di tentukan." Jelasnya sambil mengajak Reva masuk ke ruangan Ayra.


"Wah cantiknya Ayra.." Reva mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya perlahan. Membawanya ke ruang tamu di mana Aldo berada.


"Baru berapa Minggu tidak bertemu, pipinya jadi bulat." Aldo menatap gemas pada bayi cantik itu.


"Iya mas dia lucu sekali." Reva sangat bahagia menggendongnya.


"Nanti malam kita akan membuatnya sayang." Ucapnya berbisik di telinga Reva, tangannya memeluk pinggang yang langsing itu.


"Mas!" Rengeknya malu-malu. Aldo jadi gemas dan semakin memeluk istrinya.


"Hey, adikku ada disini." Rey membawa barang-barang Ayra ke mobil.


"Apa masih banyak kak, aku bantu membawanya?" Aldo menawarkan bantuan.


"Sayang, David memintaku ke cafe siang ini, Dia membawa seseorang yang bisa membantu mengelola cafe." Aldo baru saja menerima telepon.


"Pergilah mas. Tapi aku masih ingin disini, apa boleh?" Reva meminta dengan halus. Aldo tersenyum melihat tingkahnya.


"Tentu saja boleh. Aku menjemputmu nanti sore." Aldo memeluk dan mencium pipinya.


"Iya." Jawabnya, dia sangat bahagia hari ini.


***


Jam lima sore barulah Aldo kembali menjemputnya. Tak seperti biasanya dia pulang dari cafe masih sore hari.


"Kak, suamimu sudah datang." Ayu memanggil Reva yang sedang duduk di ruang makan.


"Kau hati-hati di rumah, jangan kemana-mana." Reva beranjak dari duduknya sambil bicara.

__ADS_1


"Iya kak. Aku sudah besar." Jawabnya. Reva jadi terkekeh geli mendengarnya.


"Sayang apa sudah siap?" Aldo menghampiri istrinya.


"Sebentar mas, bajuku ketinggalan di atas." Reva menaiki tangga menuju kamarnya.


Aldo melihat Ayu yang duduk dengan santainya. " Besok kau kosongkan semua jadwal istriku." Ucapnya tanpa nada.


"Besok tanda tangan kontrak untuk pembangunan hotel." Jawab Ayu datar.


"Yang jelas dia tidak akan bekerja besok pagi." Aldo tak mau tau.


"Hey, kami sedang butuh uang. Kami tak punya uang gara-gara dirimu." Ayu jadi kesal.


"Gara-gara kau juga. Yang jelas aku tidak akan mengizinkannya keluar." Aldo tak mau kalah. membuat Ayu diam dengan muka tak berdaya.


"Ayo sayang." Aldo langsung menggandeng Reva yang baru saja turun, berlalu tanpa peduli Ayu sedang kesal setengah mati.


Setibanya di rumah. Reva langsung mandi dan sholat. Malam ini dia memakai gaun berwarna merah dengan belahan dada sedikit terbuka, duduk dengan cantik menyisir rambutnya di meja rias. Dia tidak tau ada sepasang mata sedang memperhatikannya, menatapnya dengan senyum penuh cinta.


"Sayang..." Ucapnya tepat di telinga, mencium pundak istrinya yang terbuka. Membuat Reva meremang hingga ke ujung kaki. Reva menoleh wajah tampan yang sedang memeluknya. Aldo menciumi pipi halus itu dengan nafas yang menghembus kasar, tarikannya sudah tak beraturan. Reva memejamkan mata menikmati sentuhan yang hangat di pipinya, perlahan turun dan menggumuli bibirnya yang cantik.


"Sayang aku menginginkanmu." Ucapnya di sela-sela ciuman hangat, berbisik tepat di telinga, mengelus pinggang yang langsing membuat Reva tak karuan. Aldo kembali menciumi bibirnya dengan lembut sekali membuat aliran listrik di sekujur tubuh gadis yang cantik dihadapannya. Tangannya mulai ke sana kemari mencari menyusup di tempat yang tidak rata, dia mulai bermain di sana.


"Mas ...." Rengekan yang selalu ingin di dengarnya, membuat Aldo semakin menggila. "Aku mau sekarang mas." Reva semakin tak terkendali. Aldo menggendong istrinya menuju kasur yang empuk. Dia menatap mata yang teduh itu sudah di selimuti kabut gairah. Reva benar-benar terbakar nyala api yang di ciptakan suaminya. Lagi dan lagi mencium dan menggigit bibirnya yang merekah, "Aku mencintaimu." Ucapnya semakin membuat Reva jatuh terbuai dalam rayuan maut. Pemanasan yang sangat lama, menyusuri setiap lekuk tanpa terlewatkan hingga satu jam Aldo mulai melakukan inti dari kegiatan panas itu. Gadis cantik itu menangis menahan sakit dan bahagia. Mahkota yang dia jaga kini sudah di petik pemiliknya. Tangis bahagia menikmati malam dengan orang yang amat dicintai, sakit perlahan berubah menjadi indah, permainan lembut dan halus yang di ciptakan Aldo membuatnya terbuai lupa waktu sudah berapa lama hingga akhirnya benih cinta sudah menghambur pada lahan yang subur. Bersama mencapai puncak kenikmatan surga dunia.


"Terimakasih sayang.. Aku mencintaimu, aku mencintaimu, akan selalu mencintaimu." Aldo menciumi istrinya yang sudah sangat lelah.


Reva menatap wajah tampan didepan wajahnya, air matanya menetes dengan sendirinya.


"Sayang, kenapa menangis, apa ada yang sakit." Aldo mengelus tubuh polos istrinya, wajahnya begitu khawatir.


Reva menggeleng, lalu memeluknya erat sekali. "Aku mencintaimu mas." Ucapnya kemudian. Aldo memeluknya dengan rasa bahagia yang luar biasa. Hingga ia tertidur di dalam dekapan hangat, dia kelelahan menahan serangan yang berlangsung satu jam kakinya lemas seperti mati rasa.


Aldo masih setia mengelus dan menciumi istrinya yang sedang mengarungi mimpi. Menggeser dan meluruskan kaki Reva yang setengah ditekuk, sudut bibirnya tertarik keatas tersenyum melihat bercak lendir bercampur darah perawan mengotori seprei halus berwarna putih. Betapa ia sangat bangga sudah memetiknya dengan penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2