Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
121. Datang ke rumah lama


__ADS_3

"Mengapa bertengkar, bukankah kalian selalu baik-baik saja." Rey sedikit kesal.


"Mas Aldo masih memikirkan hal itu semenjak mendengarnya malam sebelum kakak pergi, dia tampak banyak berpikir dan terkadang sedikit melamun. Aku jadi ikut berpikir tentang hal yang bukan-bukan, sampai akhirnya Dev datang dan mas Aldo melihat dia sedang memperhatikan aku. Sudah jelas adik iparmu akan kembali emosi."


"Suamimu itu terlalu pencemburu, terkadang kakak jadi ngeri membayangkan jika sampai Dev mendekatimu." ucap Rey dengan nafas berat.


"Kak, apa Dev benar-benar belum bisa melupakan aku?" Reva bertanya dengan ragu.


"Sepertinya! Tapi kakak minta padamu untuk tetap bersama suamimu, jangan pernah berpikir ada laki-laki lain yang lebih baik dari pada dia. Cukup dia saja, dialah yang terbaik untukmu." Rey meyakinkan adiknya.


"Aku tau kak, aku tak akan mengkhianati suamiku. Aku bahkan tak pernah ingat lagi dengan rekan kerjamu itu. Tapi_" Reva menjeda ucapannya.


"Tapi apa?" Rey segera menyahuti.


"Sepertinya aku harus bertemu dengan Dev. Aku ingin mengakhiri masalah ini kak, aku sudah lelah dengan hidup yang seperti sandiwara setiap kali tak sengaja bertemu dengannya. Aku juga kasihan dengan Mas Aldo, dia tak mendapat ketenangan hidup bersamaku." ungkapnya begitu panjang.


"Kakak akan mendukungmu, asal kau mendapat izin dari suamimu. Dia yang paling berhak atas dirimu bukan aku, walaupun kakakmu ini tidak akan melepaskan dirimu begitu saja." jelasnya begitu memperlihatkan kasih sayangnya.


"Iya, aku sudah meminta izin padanya walaupun untuk melakukan itu belum bisa saat ini." Reva merasa begitu lega.


"Bagus, kakak akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Yang paling penting kau bahagia." suara Rey juga terdengar begitu lega.

__ADS_1


"Terima kasih kakak, ah iya bagaimana perkembangan mertuamu di sana?" Reva hampir saja lupa dengan kabar Rey di Singapura.


"Papa masih sakit, hanya ibu sudah menerimaku. Tinggal Ayah yang belum tahu bagaimana nanti jika dia sudah sembuh, yang pasti aku kan bersiap dengan segala kemungkinan asal Alisa tetap bersamaku. Besok lusa cutiku habis, dan aku berharap papa sudah sembuh dan bisa bicara. jika dia meminta aku berhenti bekerja aku akan bersedia. Tapi jika tidak, aku akan pulang bersama Alisa."


"Oh, begitukah? Aku akan bersedih jika kakak jauh meninggalkan aku, tapi aku akan jauh lebih bersedih jika kakak tak mendapatkan restu." Reva jadi serba salah.


"Entahlah sayang, doakan kakak semoga mendapatkan yang terbaik." ucap Rey lagi


"Tentu kakak, sampaikan salamku untuk kak Alisa." Reva kembali tersenyum.


"Baiklah, Assalamualaikum adikku." Rey mengakhiri sambungan teleponnya.


"Wa'alaikum Salaam kakak." Reva melepas ponsel dari telinganya.


Hari-harinya tak lagi sepi semenjak kehadiran si kecil. Jika dulu ia sering merasa bosan di rumah dan selalu ingin ikut kemana Aldo pergi, berbeda kini dia begitu menikmati hari-hari di rumah bersama Zahira. Tangis yang nyaring itu terdengar seperti nyanyian yang merdu, dan begitu indah saat mengganti popoknya yang basah. Hingga usianya sudah satu bulan, tubuh mungil itu semakin berisi, mata yang tadinya hanya sedikit terbuka dan kembali tidur kini sudah memperlihatkan pesonanya, bening dan menghanyutkan seperti milik ayahnya, sesekali suara merdunya terdengar dengan gemas mengecup jari-jari tangannya yang sangat kecil. Bukan hanya Reva yang menjadi betah di rumah, Aldo bahkan pulang lebih cepat hanya untuk bermain lebih lama dengan putri kecilnya.


"Sayang dia sudah besar, lihat punggungnya sudah bulat dan berat, popoknya juga sudah ganti ukuran." Aldo kegirangan menyaksikan si kecil tumbuh cepat, terkadang sengaja ia pegang tangan kecil itu agar Zahira mengeluarkan suaranya.


"Tentu saja mas, dia tumbuh sehat dan memiliki kasih sayang yang cukup dariku dan darimu." Reva menunjuk dadanya sendiri lalu tengah dada Aldo.


"Benar sekali, putriku harus tumbuh sehat, cantik dan Solehah seperti ibu, jangan seperti ayah ya nak." Aldo berbicara pada gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ayah juga baik nak, dia sangat menyayangi ibu dan dirimu." Reva ikut berbicara pada Zahira yang sedang menendang-nendangkan kaki, wajah bayi kecil itu terlihat sedang bermain.


"Kalian adalah segalanya, tentu harus di sayangi." Aldo mengecup pipi ibu dan anak itu bergantian, Reva hanya membalas dengan senyum mesra.


"Sayang aku harus keluar sebentar, Adi ingin bertemu denganku di cafe kerena ada beberapa pelamar yang sudah harus di interview." Aldo menyibak rambut Reva yang menjuntai di keningnya.


"Baiklah, tapi jangan pulang terlalu larut mas." Pintanya.


"Siap sayang, bukankah ini sudah lebih satu bulan, aku rasa jatahku akan segera ku dapatkan." Aldo menggodanya, dengan tatapan nakal pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan mempermainkan bibir merah istrinya.


"Ku pikir kau sudah lupa mas." ucap Reva balas menggodanya.


"Jika urusan yang itu aku tak akan pernah lupa sayang." Aldo mengecup pipi mulus istrinya dan berlalu dari kamar itu.


Reva menoleh hingga Aldo yang tampan itu menghilang di balik pintu. Suara si kecil itu terdengar merengek, seakan dia tahu bahwa Ayahnya sudah tak ada bersamanya.


"Bobok ya sayang." ucap Reva merayu bayi yang sedang menggosok-gosok wajah dengan ke dua tangan kecilnya itu.


Segera memangku dan memberi Asi, benar-benar nikmat menjadi seorang ibu. Itu yang selalu Reva syukuri selama satu bulan lebih ini. Sesekali ia teringat perjalanan kisah mereka hingga titik ini, bahkan sempat tergoncang dengan Aldo menikahi Bella. Hatinya sedikit perih, namun satu hal yang baru ia ketahui bahwa Bella tak bisa memiliki keturunan. Semoga yang belum memiliki keturunan Allah segerakan dan di kabulkan doanya.


*

__ADS_1


Sementara di tempat lain Aldo sedang mengemudi dengan memasang wajah datarnya, pria tampan itu tampak sedang berpikir. Jalanan yang ramai dengan lampu kendaraan berkelap-kelip menerpa wajah dinginnya membuat semakin terlihat menakutkan. Tak begitu lama sekitar tiga puluh menit ia sudah berbelok masuk di sebuah lorong yang cukup luas, namun tak terlalu ramai. Dia kembali mengunjungi rumah lamanya.


Di halaman tanpa berpagar itu tak terlihat siapapun hingga Aldo memarkirkan mobil itu masuk ke dalam. Sejenak ia berdiri namun sepi, kemudian masuk ke rumah tanpa menyalakan lampu. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga membuatnya terlihat aneh, menunggu hingga beberapa waktu namun tak kunjung ada yang datang, hingg larut malam akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Namun sebelum ia melangkah keluar, tampak sebuah mobil memasuki halaman rumah di sebelahnya. Seorang pria turun dan membukakan pintu untuk seseorang yang masih duduk di dalam mobil itu.


__ADS_2