
Dev masih terdiam melihat ponselnya, ia masih memikirkan apa yang baru saja Reva katakan, terdengar suara yang selalu lembut, sopan dan merdu itu tadi begitu emosi.
"Reina!" ucapnya geram.
Sore itu Dev pulang dengan terburu-buru ia sungguh sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah.
"Reina!" panggilnya setengah berteriak.
"Kau sudah pulang sayang." sambutnya senang.
"Apa yang kau lakukan hingga membuat Reva begitu emosi?" tanya Dev dengan wajah datar.
"Tidak ada, memangnya apa yang aku lakukan?" Reina berusaha menutupi semuanya.
"Jangan bohong, tadi dia meneleponku dan mengatakan kau terlalu ikut campur urusan keluarganya. Kau jangan macam-macam Reina!" Dev sudah tidak bisa menahan emosi.
"Aku tidak macam-macam, justru dialah yang sok tahu, sok pintar, sok perhatian dan sok baik hati. Dan dia meneleponmu mengadu kalau aku yang membuat masalah? Dia yang salah!" Reina berteriak kali ini.
"Jika dia bersalah dia tak akan mengadu padaku!" Dev balas membentaknya.
"Jelas saja dia mengadu padamu, dia ingin rumah tangga kita hancur, dia iri dengan hidup kita!" Reina tetap membela diri.
"Apa untungnya jika rumah tangga kita hancur? Bahkan dia tidak butuh orang seperti kita." Dev tak habis pikir.
"Tentu saja dia ingin merusak rumah tangga kita, buktinya dia mengadukan aku padamu, aku curiga dia masih mencintaimu dan menginginkan kembali padamu." Reina kembali berteriak.
"Itu hanya pikiranmu saja Reina!"
"Itu kenyataannya, dia yang salah mengapa kau marah padaku, harusnya kau membelaku bukan pulang dan marah-marah seperti ini. Aku istrimu!" Bentaknya tak pernah mau mengalah.
"Justru kau istriku, tingkahmu sudah membuatku malu!" Dev menunjuk wajah istrinya.
"Kau semarah ini karena wanita itu? Ingat aku ini istrimu, yang mendampingimu dan menerimamu apa adanya." Reina menangis sedih, dia sungguh sedih mendapat amukan dari suaminya.
"Tentu aku tak pernah lupa, tapi kau sudah keterlaluan. Aku ingin kau minta maaf padanya!" Dev masih bersikap tegas.
"Aku tidak mau! Dia yang salah mengapa aku harus minta maaf." jawabnya lagi, dia akan malu jika sampai meminta maaf, baginya kesombongan adalah harga dirinya.
"Aku tidak percaya, aku yakin kaulah yang salah!"
__ADS_1
"Tidak percaya kau bilang? Aku istrimu dan kau harus percaya!" pekiknya.
"Apa buktinya jika memang kau tidak salah?" tanya Dev menatap penuh selidik.
"Aku akan buktikan!" jawabnya penuh amarah, entah bagaiman membuktikannya, yang jelas tidak ada kata bersalah dalam kamus kehidupannya.
Dev mengusap kasar wajahnya, pria itu tampak bingung, pusing dan sungguh dia bisa gila jika terus begini, belum satu bulan ia berada di sana Reina sudah membuat masalah.
Dia tidak tau bagaimana cara berhadapan dengan mantan tunangannya itu, juga sahabatnya yang sudah jelas tidak suka pada Reina sejak awal. Dengan sakit yang di deritanya saja dia sudah malu dengan mereka, di tambah lagi adanya Dimitri sudah cukup menjelaskan bahwa dirinya bukanlah orang baik seperti mereka yang selalu menjaga pergaulan diri. Lalu sekarang di tambah lagi dengan adanya Reina, dia sungguh-sungguh membuat rasa malu itu semakin bertambah, jika di setiap hari masih bertahan dan berusaha bersikap biasa-biasa saja itu hanyalah terpaksa karena tidak punya pilihan. Tapi jauh di dalam hati, dia merasa sangat rendah diri.
Deritanya masih panjang.
"Ayah!" suara anak kecil itu membuat ia segera memperbaiki kerutan di keningnya.
"Ah sayang." Dev berusaha tersenyum.
"Ayah dan ibu mengapa bertengkar?" ternyata dia mendengar keributan barusan.
"Itu? Hanya masalah orang dewasa sayang, masalah kecil." Dev tersenyum.
Anak itu hanya ikut tersenyum sedikit, ia tahu ibunya memang menyukai hal yang membuat orang marah-marah. Hanya Dimi saja yang tidak terpengaruh untuk marah-marah, mungkin karena dia masih kecil, atau karena sudah terbiasa mendengarkan radio itu setiap hari.
"Ayah ayo kita keluar!" ajaknya pada Dev, mungkin dia bosan ingin bermain.
"Aku tidak ingin jalan-jalan Ayah, aku hanya ingin bermain bersama Zahira." pintanya lagi.
"Tidak sekarang ya, mungkin ibunya sedang sibuk." Dev mencari alasan, bertamu di saat seperti ini sungguh dia tidak punya nyali.
"Tadi aku bermain dengan Zahira tapi ibu melarang dan memaksaku pulang." ungkapnya kecewa.
"Apa ibumu membuat Reva marah?" Dev menatap penuh tanya.
Dimi mengangguk, wajah polos itu tak mungkin berbohong.
Dev menyandar memejamkan matanya, dia kesal, marah dan kecewa. Lelah sungguh lelah..
*
Sedangkan di rumah depan, Reva masih duduk kesal di ranjang empuknya. Wajah cantik itu tampak kesal dan sudah pasti ia sedang menahan emosi.
__ADS_1
"Ada apa Sayang?" Aldo mendekat dan merangkul istri cantiknya itu.
"Mas, apa sebaiknya kita tinggal di rumah ibu saja." ucapnya masih tak menatap Aldo.
Aldo mengernyitkan keningnya, ia bingung dengan apa yang dipikirkan istrinya. "Memangnya kenapa Sayang? Apa kau sedang bosan?" Aldo mengambil kursi di depan ranjang dan duduk berhadapan.
"Aku tidak nyaman tinggal di sini bertetangga dengan wanita stress itu mas!" jawabnya masih di penuhi emosi.
Aldo menatap tak percaya, istrinya sedang marah dan emosi. Apalagi dia marah karena tetangga.
"Memangnya apa yang dia lakukan sehingga membuatmu marah?" Aldo menanyainya lagi.
"Mulutnya itu sudah keterlaluan mas, dia seenaknya saja menilai dan mengatai orang, padahal dia tidak tahu apapun." Dia masih marah.
"Dia mengataimu?" tanya Aldo masih belum habis rasa ingin tahunya.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Lalu?"
"Dia mengataimu mas, dia mengatakan kau tidak memiliki pekerjaan, pengangguran yang menyusahkan. Aku tidak suka dan tidak terima!" Reva meluapkan rasa tak sukanya.
"Biarkan saja, aku memang sedang tidak memiliki pekerjaan sayang." Aldo tertawa melihat istrinya marah-marah karena Reina mengatai dirinya.
"Tapi kenyataannya tidak begitu!" bibir merah itu terlihat mengerucut.
"Kau sedang terpancing dengan wanita itu, sebaiknya segera istighfar, ada setan yang sedang mempengaruhimu." Aldo membelai pipinya.
"Aku rasa dialah setannya." ucapnya masih kesal.
"Kalau begitu jangan terpengaruh, jika kau terpengaruh berarti kau sedang berteman dengan setan." Aldo terkekeh menatap wajah itu masih tak mau tersenyum.
"Aku serius mas." jawabnya lagi.
"Aku juga serius sayang." Aldo memeluknya sejenak.
"Aku benar-benar ingin pindah mas!" ungkapnya lagi.
"Mengapa sampai harus pindah sayang, ini rumah kita, jika kita pindah tentu dia kan bahagia melihat kita pergi."
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa jika harus dekat dengan wanita gila itu." sungguh amarahnya masih menyala.
"Jangan keluar dari rumah kita kecuali kita jalan-jalan atau bekerja, aku akan meminta pak Dwi untuk menutup gerbang kecuali ketika mobil akan masuk dan keluar."