Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
08. Menikahlah dengannya


__ADS_3

Akhirnya hari yang melelahkan itu terlewati. Reva sudah tiba di rumah dan beristirahat di kamarnya, hari ini Reva tidak masuk kantor dan hanya Ayu yang langsung bekerja itupun hanya mengecek keadaan kantor saja.


"Kau sangat lelah sayang ?" Ibu mendekati anak kesayangannya.


"Sedikit Bu."


"Ah baiklah, kau istirahat saja Ibu kebawah dulu." Ibu membuka tirai jendela lalu meninggalkan Reva untuk berbaring di ranjang kesayangannya.


"Iya, " Jawabnya lembut.


 ***


"Ahh rasanya lelah sekali." Sambil menggerak-gerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan.


"Baru pulang?" Dev langsung masuk, dan sepertinya ia telah lama menunggu. Tampak Aldo menoleh sebentar lalu duduk di sofa menyandarkan tubuhnya.


"Apa yang kau kerjakan di sana sampai kau lelah begitu ?"Dev ikut duduk di depannya.


"Tidak ada, hanya kurang tidur saja." Jawabnya sambil memijat pundak nya sendiri.


"Apa yang membuatmu kurang tidur?" Tanya Dev lagi.


Aldo menatap nya kesal. "Apa yang kau pikirkan?" Selidiknya.


"Tidak ada" Dev tak melihat muka sahabatnya itu.


"Kau takut aku menggoda kekasih mu?" Aldo benar-benar kesal dibuatnya.


Dev hanya melirik sedikit dan tidak menjawab apa-apa.


"Aku mau mandi, kau pulang saja." Aldo berdiri meninggalkannya menuju kamar mandi. Tak lama Aldo keluar dengan kaos putih dan celana pendek. "Kau tidak pulang juga, Bukankah aku sudah mengusir mu!"


"........." Dev bersikap seperti tak mendengar apa-apa, entah apa yang sedang di pikirkan pria itu.


"Ada apa ?" Aldo bertanya dengan malas, ikut duduk bersama sahabatnya.


"Kemarin aku cek up ke dokter." Ucap Dev pelan.


"Lalu?" Aldo penasaran.


"Dokter itu bilang, umurku tinggal 7 tahun lagi."


"Apa?" Aldo sangat terkejut. Dia memajukan wajahnya.


"Virus di dalam tubuhku sudah berkembang biak sangat banyak. Itu yang membuat daya tahan tubuhku sering turun, aku tidak bisa lepas dari obat. Bahkan jika telat meminumnya akan membuat virusnya semakin berkembang pesat. Parahnya lagi, karena kekebalan tubuh ku menurun, virus-virus lainnya bisa saja menginfeksi dengan mudah, seperti TBC dan lainnya."


Aldo masih diam tak percaya


"Aku ingin kau menjaga Reva untukku !" Ucapnya lagi.


"Aku pasti akan menjaga nya. Asal kau tau apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkanmu, dia akan melakukan apa saja asal bukan meninggalkanmu."


"Aku tau, Aku juga tidak bisa kehilangannya." Jawabnya lemah.

__ADS_1


"Kau beruntung dicintai wanita seperti dirinya."


"Kau benar, tapi dia tidak beruntung karena memilih aku." Dev terlihat putus asa.


Kau tidak boleh berfikiran seperti itu." Aldo mencoba menenangkannya.


"Aku punya satu keinginan padamu. Setelah ini aku tidak akan meminta apapun lagi."


"Kau katakan saja, aku pasti akan memenuhinya." Aldo meyakinkan sahabatnya.


"Menikahlah dengannya." Pinta Dev.


Aldo menatap tak percaya. "Itu tidak mungkin."


"Mungkin saja, tidak ada yang tidak mungkin!" Dev bersikeras.


"Tapi dia tunangan mu, kekasihmu, dan hanya mencintaimu." Aldo meninggikan suaranya


"Dia menyukaimu, percaya padamu, dan akan mencintaimu !!!" Dev juga meninggikan suaranya.


"Kau tidak akan mengerti, itu tidak akan terjadi."


"Itu pasti akan terjadi, aku melihatnya !"


"Melihat apa ?" Aldo meninggikan suaranya lagi.


"Semalam aku ada di puncak, ditempat kau dan Reva berada." Dev menjawab lirih.


"Itu tidak perlu, karena dia aman bersama mu."


Aldo mengusap kasar wajahnya, tidak habis pikir dengan semua ini. "Aku ingin istirahat, kita bicarakan saja nanti." Aldo pergi ke ke kamar meninggalkan sahabatnya duduk sendirian.


 ***


Sore yang indah, Reva berjalan-jalan sendirian di halaman rumahnya. Menatap bunga berwarna-warni tampak begitu indah dengan aroma begitu menenangkan.


Teringat kala itu, saat pertama ia bertemu dengan pria yang begitu lembut dan manis. Dia berdiri tegap dengan matanya tak henti menatap Reva yang saat itu sedang merawat bunga ibu. Sementara Rey masuk menemui ibu ia mendekatinya dengan perlahan, sekilas Reva meliriknya dan senyum meneduhkan itu begitu jelas terukir.


"Kau menyukai bunga?" Tanyanya masih dengan mata yang sulit berkedip.


"Iya." Reva menjawab sedikit, dengan sebuah pot bunga mawar di tangannya.


"Bunganya sangat cantik, sama seperti pemiliknya." Ucapnya lagi.


"Ini bunga milik ibu." Jawab Reva lagi, dengan suara halusnya. Pria itu mengusap tengkuk terlihat sangat serba salah karena rayuannya meleset.


"Tapi benar, kau sangat cantik." Ucapnya lagi terbata-bata.


Sejak saat itu dia lebih sering datang bersama Rey, mencuri pandang dan mencuri kesempatan untuk berkenalan. Hingga satu sore di akhir pekan memiliki kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Reva, sebenarnya aku menyukaimu." Ungkapnya dengan terlihat sangat gugup, seorang militer tampak begitu salah tingkah di hadapan seorang Reva.


"Tapi aku masih kuliah." Reva hanya menjawab singkat.

__ADS_1


"Tidak masalah, setelah kau selesai aku akan melamarmu." Ucapnya lagi begitu yakin.


"Apa tidak terlalu cepat kau mengatakan hal itu?" Tanya Reva lagi.


"Tidak, aku sudah yakin kau adalah calon istri yang baik untukku." Jawabnya semakin berani, sungguh ungkapan itu membuat Reva berharap sepenuh hati.


Tapi, itu sudah pupus bersama kepulangannya. Semua harapan itu telah patah di ujung janur yang siap melengkung, menunggu sekian lama akhirnya sia-sia. Kenyataan ini begitu menyakiti.


 ***


Aldo keluar dari kamar, dia melihat sekeliling sangat gelap karena kelelahan tidurnya menjadi sangat lama, di ruang tamu tidak ada orang. Dia berjalan menuju dapur membuka lemari, ternyata makanan instan yang biasa dia simpan sudah habis. Lalu membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan juga tidak ada .


Jam menunjukan pukul 8:00 malam Aldo keluar dan pergi ke rumah Dev. "Pintunya tidak di kunci?" Gumamnya. Aldo masuk langsung menuju dapur melewati Dev yang sedang menonton TV.


"Kau mau kemana?" Dev melihat sahabatnya itu dengan sangat heran.


"Aku lapar!" Jawab Aldo tanpa melihat.


"Tunggu!" Dev langsung mengejar dan menghalangi Aldo yang akan membuka lemari pendingin.


"Sudah ku bilang aku lapar!" Aldo menyingkirkan tangan yang menghalanginya.


"Tidak. Kau tidak boleh mengambil makanan ku!" Teriaknya.


Membuat Aldo menganga tak percaya, kemudian Aldo berbalik akan menuju rak piring, tapi Dev juga menghalanginya.


"Kau juga tidak boleh memakai piringku!!"


Aldo menatap Dev dengan Gusar. "Kau ini, Kenapa jadi pelit sekali piring saja tidak boleh di pakai apa maksudnya?"


"Aku tidak memiliki makanan, aku juga tidak mau piringku menjadi kotor aku malas mencuci nya." Dev tampak gugup.


"Dasar Aneh." Aldo pergi meninggalkannya duduk di ruang tamu menyandarkan tubuhnya lemas, lelah dan lapar.


"Aku temani kau beli makanan, Ayo kita pergi." Dev mengambil kunci motor dan Aldo mengikutinya dengan malas.


"Berapa hari kau tidak makan?" Dev heran dengan porsi makan sahabatnya .


"Dari pagi aku belum makan," jawabnya sambil mengunyah


"Pantas saja kau rakus sekali."


"Kau tidak makan?" Tanya Aldo


"Tidak, kau habiskan saja . Nanti kau temani aku ke ATM, uang ku habis." Dev menyandar di kursi dengan kedua tangan di dada. Tapi tak sengaja Dev melihat dua Orang yang sedang mengawasi mereka. Dev jadi khawatir.


"Cepatlah habiskan makanan mu, kita harus pulang." Bisiknya pada Aldo


Aldo yang tidak mengerti langsung menatap Dev dan mengikuti pandangan mata sahabatnya itu. Aldo sangat terkejut, dia meminum air putih mengeluarkan uang dengan tergesa-gesa.


"Kita pergi sekarang!" ajaknya


Mereka berdua langsung pergi berlari dan kedua orang di belakang nya ikut mengejar.

__ADS_1


__ADS_2