Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
73. Kerja sama dengan Anggara


__ADS_3

"Ayo kita duduk di dalam saja." Abidzar mengajak rekan yang lain, karena acara makan malamnya sudah selesai.


"Sebentar aku kekenyangan." Jawab salah satu pengacara bernama Ricky tanpa malu-malu.


"Kau makan seperti kesetanan, dasar tidak tau malu!" Pengacara yang bernama Ricko mengatainya.


"Semuanya aku suka!" Jawabnya tak mau kalah.


"Semua kau suka, apa yang tidak kau suka?" Timpalnya sedikit kesal.


"Kayu dengan batu." Jawabnya mengundang gelak tawa dari semua orang.


"Sepertinya aku salah menggandeng pengacara." Gara menggeleng sambil tertawa.


"Mereka kembar!" David ikut bercanda.


"Tidak!" Mereka menjawab bersamaan, semakin menciptakan suasana ramai di rumah itu.


Aldo melirik istrinya yang juga ikut tertawa, menikmati suasana bahagia yang di ciptakan rekan Anggara. Beruntung mereka bersedia datang untuk menghangatkan suasana, sedangkan Gara terlihat lebih banyak diam dan menempel dengan Aldo, mungkin dia takut Aldo salah paham seperti saat pembangunan hotel waktu itu.


"Aku sangat menyukai hasil kerjamu." Ucap gara pada Aldo.


"Aku hanya melanjutkan pekerjaan istriku, dia sedang butuh lebih banyak istirahat." Aldo melirik istrinya sekilas.


"Kenapa tidak kau saja yang mengelolanya, kau lebih banyak pengalaman. Reva juga punya cara kerja yang bagus, rapi dan teliti. Tapi ku dengar dari Abidzar Ayu akan menikah dan sudah memiliki sebagian harta Hartawan. Jadi tenaga handal yang di miliki istrimu berkurang satu." Anggara memberi pendapat.


"Iya, mulai besok aku akan membantunya bekerja. Lagi pula hal yang terjadi kemarin membuatnya agak trauma, jadi aku akan membantunya mengerjakan semua hal." Aldo membenarkan usulan teman barunya itu.


"Aku masih banyak proyek yang butuh kontraktor, jika kau bersedia aku ingin kau menangani semuanya." Gara menatapnya serius.


"Aku tak masalah, selama kau menyukai hasil kerja ku." Aldo balas menatapnya serius.


"Baiklah, kita akan bekerja sama dalam waktu yang lama." Pria muda itu tersenyum manis sekali.


"Aku akan bicarakan dulu dengan istriku." Aldo balas tersenyum, memamerkan lesung pipi yang membuat Anggara iri.


"Nomor telepon ku ada pada istrimu." Ucapnya kemudian.


"Aku tau. Bahkan saat kau sering mengirim simbol bunga mawar putih." Aldo masih mengingatnya.


Gara menggaruk kepalanya. "Maaf waktu itu aku tidak tau kau sudah menikahinya." Gara jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Aldo terkekeh geli melihatnya.


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang. Istriku sedang menunggu." Abidzar mengajak rekan-rekannya.


"Baiklah." Gara beranjak melihat kedua pengacaranya masih duduk seperti enggan bergerak. "Kalian di sini saja tidak usah pulang" Sindirnya, Kedua orang itu langsung berdiri.


"Jika butuh bantuan jangan segan untuk menghubungi kami, kami akan selalu siap membantu." Ucapnya penuh percaya diri.


"Ah iya. Jangan lupa datang ke acara pernikahan David dan Ayu, Minggu depan di rumah ibu." Aldo mengundang mereka mewakili Ayu dan David.


"Siap, kami pasti datang!" Dua pengacara itu sangat kompak.


"Tadinya aku tidak ingin lagi mengajak mereka, tapi kau sudah mengundangnya." Gara melewati mereka berdua.


"Hey kami ini hebat saat berhadapan dengan lawan!" Ricko menepuk dadanya dengan bangga.


"Iya, tapi memalukan saat di ajak makan." Abidzar masih mengatainya.


"Tidak apa-apa, istriku jadi tertawa melihat si kembar ini." Aldo membelanya.


"Baiklah, terimakasih kami pulang dulu." Gara menundukkan sedikit kepalanya, lalu masuk ke mobil masing-masing.


Aldo dan David tersenyum ramah, dan mengangguk mengantar kepergian mereka semua.


"Jika membenci sesuatu janganlah terlalu membencinya, bisa jadi itu amatlah baik bagimu. Jika menyukai sesuatu janganlah terlalu menyukainya, bisa jadi itu amatlah buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak." Reva menimpali.


"Ah istriku pintar sekali." Aldo merangkulnya.


"Aku pernah membaca di dalam Al-Qur'an mas." Reva menoleh wajah suaminya.


"Masuklah duluan sayang, aku masih ingin mengobrol dengan David." Aldo membujuk sambil mengecup pucuk kepala istrinya.


"Iya." Jawabnya melepas tangan yang masih melingkar di bahunya itu.


Aldo melepasnya dengan mata yang tak mudah berpaling, masih mengekor hingga tubuh yang sudah berisi itu hilang di balik pintu. Barulah Aldo pergi ke depan duduk bersama David.


Aldo mengeluarkan ponsel di sakunya, lalu menelepon seseorang. Lama panggilan itu tersambung tapi tidak di angkat, Aldo mengulang kembali hingga panggilan ke tiga barulah di angkat.


"Ada apa?" Jawaban yang singkat.


"Tadi kau ada di depan rumahku, kenapa tidak masuk?" Aldo bertanya serius.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya kebetulan lewat." Jawabnya kembali seperti sedang malas.


"Tadi kami sedang makan bersama, harusnya kau masuk saja." Aldo mencoba menekan egonya.


"Aku tidak di undang, nanti malah aku mengganggu acara kalian." Dev menjawab masih dengan nada tak suka.


"Jangan seperti anak kecil." Aldo mulai terpengaruh.


"Justru aku sedang berusaha bersikap dewasa, bukankah sudah benar aku mengalah, orang yang sakit sepertiku tidak terlalu bagus di jadikan teman." Ketusnya lagi.


"Dev aku tidak menganggapmu seperti itu." Aldo benar-benar kesal bicara dengannya.


"Sudah lah, aku ingin istirahat, dan jangan salah paham tadi itu benar-benar kebetulan sedang lewat di depan rumahmu. Ada rekanku yang baru pindah di sekitar situ." Dia langsung mengakhiri teleponnya.


Aldo menatap layar ponsel yang sudah terputus itu, menari nafas berat dia sedang kesal tentunya.


"Kalian masih disini." Ayu keluar ikut duduk di samping David.


"Tentu saja, mana mungkin pulang tanpa melihatmu terlebih dahulu." David mulai merayu.


"Ish kau ini, aku tidak suka di rayu!" Ayu membuang pandangannya.


David tertawa melihatnya, "Aku berkata jujur sayang." Dia semakin menggodanya.


"Ayu, aku ingin bertanya sesuatu?" Aldo bicara serius.


"Apa?" Ayu menoleh.


"Saat Reva pulang bersamamu dan Dev, apa yang mereka bicarakan hingga mereka bertengkar hari itu?" Aldo menatap Ayu sangat ingin tahu.


"Tidak ada, hanya Pak Dev kesal denganmu karena menikahi Bella." Jawab Ayu.


"Bukankah dia sudah tau alasannya, kenapa dia marah?" Aldo tampak berpikir.


"Dia kesal karena melihat kakak menangis tanpa henti." Ayu menjawabnya lagi.


"Lalu?" Aldo semakin penasaran.


"Dia tidak suka kau menyakitinya, tapi kakak membelamu dan balik menyalahkannya, jadi mereka saling menyalahkan. Hingga akhirnya kakak meninggalkan dia naik ke atas, dan pak Dev mengejarnya." Ayu berhenti bercerita.


"Terus apalagi?" Aldo menatap tajam, sudah terpengaruh emosi.

__ADS_1


"Dia masih tidak terima, lalu kakak melemparnya dengan buku. Dia masih melihat kakak menangis sepertinya sangat ingin menenangkannya. Kak Rey melarang dan memintanya pergi." Ayu menatap Aldo ragu-ragu, takut pria itu emosi.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang kau dan istrimu hidup tenang di rumah ini. Hindari apa saja yang membuat istrimu bersedih, jaga dia baik-baik dan jangan membahas apapun tentang yang sudah berlalu." David mencoba meredam emosi sahabatnya.


__ADS_2