
"Boleh aku bertanya padamu?" Wanita yang memakai dress selutut itu menatapnya.
"Silahkan saja." Dev melihatnya sekilas.
"Wanita yang berhijab tadi itu kau mengenalnya?" Rena terlihat penasaran, ia mengingat hal kecil sekalipun yang berhubungan dengan laki-laki itu.
"Oh, mantan kekasihku. Tadi dia sedang bersama suaminya." Dev menjawab dengan tak suka.
"Masih menyukainya?" Rena masih tak cukup bertanya.
Dev tersenyum, "Kau sangat ingin tahu, apa itu penting untukmu?." Dev menatap wajah Rena dengan lebih dalam.
"Aku hanya penasaran." Jawabnya seperti tak peduli, tapi hatinya penasaran setengah mati.
"Dia adalah wanita yang di sukai ibu, dia baik dan lembut." Jawab Dev sedang mengingat hal yang sudah lalu.
"Dia yang kau ceritakan waktu malam itu?" Tanya Rena lagi, kali ini dia mendekatkan wajahnya.
"Iya." Dev tersenyum kecut, sudah tentu dia sedang kecewa.
"Oh, dia tak terlalu cantik, biasa saja." Ucapnya seperti tak berdosa, Dev hanya melihatnya sekilas, tak merespon apapun.
"Kau menginap di kota ini dengan siapa?" Dev bertanya pada gadis itu, dia heran perangainya yang terlihat santai sekali.
"Sendirian, aku hanya bosan." Jawabnya.
"Benar, jika sedang bosan rasanya ingin pergi, tapi aku bingung harus ke mana." Dev membuang jauh pandangannya.
"Apa kau sedang putus asa? Kau bahkan tidak mau bangkit dari rasa itu. Hidup ini singkat, apa harus menyesali yang sudah terjadi selamanya." Ucapnya, terkadang ucapannya perlu di dengar dan itu membuat Dev tertarik.
"Aku harus bagaimana?" Dev ingin tahu jawaban gadis itu.
"Jatuh cinta lagi." Jawabnya polos dan singkat.
"Kau tidak tahu siapa aku, aku ini pria sakit yang tinggal menunggu waktu. Aku tidak bisa memiliki keturunan, aku juga tidak akan menikah, karena menikahi seseorang bagiku sama halnya mencari istri untuk di sakiti." Dev terlihat putus asa.
"Memangnya kau sakit apa?" Rena tak henti dengan rasa penasarannya.
"Aku terinfeksi HIV." Dev menatap wajah itu, dia berharap wanita itu terkejut dan kabur. Tapi berbeda dengan kenyataannya, dia seperti tak terpengaruh.
__ADS_1
"Kalau begitu kau harus mencari wanita yang bisa menerimamu apa adanya." Jawab Rena, dia tak khawatir.
"Itu tidak ada!" Dev meninggikan suaranya, bahkan dia tak peduli wanita itu akan pergi atau tetap mau menjadi teman mengobrolnya.
"Kau belum mencoba." Ucapnya lagi, dia tersenyum manis.
"Mungkin, atau mungkin orang sepertimu bisa menerimaku." Dev menatap wajah itu, tersenyum penuh arti dengan tatapan ingin memiliki.
"Jika kau ingin mencoba." Jawabnya. Wanita itu berlalu dengan seulas senyum, ia pergi kembali ke hotel tempatnya menginap.
"Dia tidak mengerti, atau sedang tidak mampu berpikir?" Dev juga beranjak dari tempat mereka mengobrol, dia sudah lelah tentunya ingin tidur istirahat di rumah.
Jika memang cinta itu buta tidak memandang harta dan rupa, lalu bagai mana dengan orang seperti dirinya? apakah ada manusia sebuta itu di dunia ini? Dia tidak percaya.
***
"David ini ramai sekali." Ayu mendekati David yang sedang berdiri melihat para pegawainya sibuk dengan tugas masing-masing.
"Iya, terkadang mereka tak sempat makan." David merangkul Ayu, tidak mengizinkan dia kembali cemburu.
"Pantas saja Adi menambah jumlah pegawai setiap Minggu." Ayu menyandarkan kepalanya di dada David, entah mungkin ia sengaja memperlihatkan kemesraannya pada wanita pegawai David yang hari ini juga sedang masuk kerja.
"Jangan marah lagi ya sayang." David menoleh istrinya yang sedang bermanja, ini hal yang baru pertama dia lakukan, membuat hati David sungguh sedang berbunga-bunga.
"Indahnya pengantin baru, serasa dunia milik berdua." Aldo berlalu melewati mereka.
"Ku pikir kau tak akan datang." David tertawa.
"Aman, istriku sudah mendapatkan jatahnya." Aldo terkekeh, tangannya sibuk dengan laptop dan kertas di atas meja.
"Pak, Kopi dari perkebunan sudah datang. Gudang kita penuh." Adi mendekati Aldo, duduk di depannya.
"Kau atur pengelolaannya, sengaja ku bawa semua karena panen besar akan berakhir. Kwalitasnya akan menurun jika tidak sedang musim kopi." Aldo menjelaskan.
"Baik pak." Adi mengangguk mengerti. "Saya kembali bekerja." Adi beranjak kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Hey, apa semalam kau langsung pulang? aku tidak percaya jika kau sebaik itu?" David mendekati rekannya.
"Tidak usah kepo." Aldo masih berkutat dengan laptopnya.
__ADS_1
"Hahah, apa kau memukulnya?" David masih tidak tahan ingin menggodanya.
"Ah, aku tidak sejahat itu." Kilahnya sedikit tertawa.
"Sudah ku duga." David duduk di sebelah rekannya dia menyandar melihat istrinya keluar Cafe sedang berdiri di lobi.
"Aku akan sangat sibuk mulai besok." Aldo menatap David sekilas.
"Aku juga sepertinya harus membantu Ayu mulai besok, kau tahu sendiri perusahan itu masih butuh tatanan baru." David tampak berpikir.
"Semoga Adi bisa di andalkan. Ah iya kemarin Reva meminta lowong untuk anak paman yang di perkebunan, laki-laki dan perempuan." Aldo memberitahu David.
"Masukkan saja, jika memungkinkan salah satunya untuk rekan Adi. Jadi kita bisa membantu istri kita masing-masing." David terlihat senang.
"Bilang saja kau tidak mau jauh dari istrimu." Aldo mengatainya, dia tahu persis karena dia juga begitu.
"Apa lagi, aku ingin dia cepat hamil seperti istrimu." David tertawa.
"Artinya anak kita akan tumbuh bersama, aku yakin anakku perempuan." Aldo terlihat senang sekali membayangkannya.
"Aku ingin anak laki-laki." Jawab David tak kalah bahagia.
"Artinya anakmu yang akan menjaga putriku, aku yakin dia akan tumbuh hebat seperti ibunya yang suka berkelahi." Aldo terkekeh geli.
"Lalu bagaimana putrimu, apa dia akan menjadi budak cinta seperti dirimu?" David menggoda rekannya lagi.
"Oh tidak. Dia akan menjadi seperti istriku, baik lembut dan pandai menjaga diri. Akan ada banyak pria yang menggilainya." Aldo menyombongkan diri.
"Benarkah? Lalu bagai mana jika putraku menyukai putrimu?" David tertarik dengan candaan mereka.
"Biarkan saja, asal kau siap melihat anakmu jadi budak cinta." Aldo semakin tertawa mendengarnya.
"Itu terdengar menyenangkan, aku jadi menginginkan hal itu terjadi." David menatap jauh keluar.
"Semoga saja, aku bisa tenang jika putriku bersamamu." Ucapnya terlihat serius.
"Hahah, bahkan mereka belum lahir." David tertawa geli memikirkannya.
"Kalau begitu segeralah membuatnya, jika umurnya terlalu jauh aku tidak mau berbesan denganmu." Ucap Aldo seperti tak memikirkan apapun.
__ADS_1
"Ish kau ini, kau pikir aku tidak sedang berusaha. Aku bahkan berusaha sangat keras." Jawab David meninggikan suaranya.
Aldo terkekeh geli, mendengarnya saja dia sudah bisa membayangkan betapa tersiksanya Ayu yang semampai itu. Aldo menyandar sejenak, memikirkan istri tercinta di rumah, sedang apakah dirinya? Sungguh merindukannya sudah membuat ia tersenyum, apalagi saat bersamanya, itu sangat membuat bahagia.