Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
58. Rayuanmu membuat bahagia


__ADS_3

"Rayuanmu membuatku jatuh berlutut dihadapanmu mas." Ucapnya tersenyum di sela pelukan hangat itu.


Aldo sedikit tertawa mendengarnya, "Akulah yang jatuh di bawah kakimu sayang, bukan sebaliknya." Aldo melihat sekilas wajah yang bersembunyi di dadanya.


"Entah kenapa aku selalu suka mendengar gombalanmu itu." Reva semakin terkekeh geli, memang begitu kenyataannya sejak mengenal Aldo dia tak pernah keberatan saat Aldo mengatakan kata-kata indah, bisa di bilang merayu dan itu membuatnya senang sekali.


"Aku tidak sedang menggombal, itu isi hatiku untukmu." Aldo sangat bahagia dapat memeluknya juga melancarkan rayuan yang selalu membuat istrinya tertawa.


"Aku merasa lelah sekali padahal baru saja berapa hari disini. Suasana baru membuatku tak nyaman." Ungkapnya sambil menghirup aroma wangi di dada Aldo. "Sedikit dipelukanmu membuatku menjadi tenang." Reva memejamkan matanya.


Aldo tidak menjawab, hanya semakin mendekap dan menciumnya. Dia berpikir harus secepatnya mengeluarkan Reva dari sana.


"Sepertinya aku sudah lumayan pulih, mungkin nanti malam atau besok pagi aku sudah kembali kedalam sana." Reva terus bercerita meskipun tidak di jawab Aldo. "Sungguh hidup ini adalah hal yang tidak terduga, kemarin kita bersama, sekarang kita berjarak, dan entah besok semoga kita akan tetap bersama." Reva menarik nafas panjang sekali.


"Aku hanya bisa berdoa agar ini cepat berlalu, aku sungguh tidak kuat harus seperti ini sayang." Aldo meletakkan wajahnya diatas kepala Reva.


"Aku juga mas." Suaranya lirih dan sedih.


***


Sementara di ruang yang lain, David sedang mengantarkan makanan untuk Ayu. Pria bertubuh lebar dan gagah itu tampak sangat khawatir dengan keadaan kekasihnya yang satu tangannya masih di balut perban dan tak bisa bergerak.


"Jangan lupa makanan ini di habiskan dan minum obatmu." David duduk dekat dengannya.


"Iya." Ayu menjawab singkat, matanya memandang wajah tampan ala bolywood itu.


"Ada apa, Apa aku ini sangat tampan?" David menggodanya .


Ayu tersenyum kecil, lalu menunduk. "Terimakasih." Ucapnya lirih.


"Untuk apa?" David mendekatkan wajahnya.


"Kau sudah membantuku, bukan hanya membantu tapi mengurusku." Ayu memberanikan diri untuk menatap mata hitam pekat itu dari dekat.

__ADS_1


"Tentu saja aku akan membantu dan mengurusmu, nanti kau akan menjadi istriku dan mengurusku beserta anak-anakku." David merapikan rambut yang menghalangi sebelah mata gadisnya.


"Aku pasti akan melakukannya." Jawabnya singkat, tersenyum sangat manis menggetarkan hati orang yang melihatnya. Membayangkan hidup bersama dengannya akan sangat bahagia dan tentu saja ingin mimpi itu segera terwujud.


"Aku akan berusaha membebaskanmu dari sini, agar kita bisa segera menikah." David membalas senyumnya. "Aku sudah tidak sabar." Tambahnya setengah berbisik.


Ayu diam membeku mendengar bisikan cinta David. Dia kembali membayangkan saat David mengganti pakaiannya, walaupun dia bilang tidak menyentuhnya, tapi sudah pasti dia melihatnya. "Ah tolooong." hatinya menjerit, wajahnya terasa panas dan sudah pasti kulit berwarna putih itu berubah menjadi merah merona.


"Jangan berfikir macam-macam. Atau kau ingin aku mengulanginya?" David setengah menakuti.


"Tidak." Jawabnya singkat. Ah sungguh itu membuatnya jinak sekali, David merasa beruntung.


"Masuklah, aku pulang dulu untuk mencari informasi tentang penjual pisang itu lagi." David menuntun Ayu di bantu petugas wanita yang berjaga. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Mama." Gadis cantik itu mendekat.


Wanita itu berbalik dengan gaya anggunnya. "Iya sayang, ada apa?" dia tersenyum.


"Dia ingin meminta bantuan pada mama?" Jawabnya tersenyum lebar.


"Lalu?" Dia ingin tau.


"Tentu saja mama akan membantunya asal dia juga tidak menolak permintaan mama." Jawabnya senang.


"Apa yang mama minta?" Tanyanya lagi.


"Membuatmu bahagia anakku, mama tau kau tidak bisa melupakannya. Sungguh itu sangat menyiksa." Wanita itu membelai wajah gadis itu.


Bella menunduk sedih, memang benar yang katakan ibunya bahwa dia masih tidak bisa melupakan Aldo, satu-satunya pria yang ada dalam hatinya. Bukan tidak pernah dia mencoba untuk melupakan, tapi pada akhirnya dia kembali mengingatnya lagi, menginginkan dia lagi, bella meninggalkan ibunya tanpa berkata apa-apa


"Lelah, sungguh lelah aku mengingatmu. Bagiku tak ada yang bisa menandingi ketampananmu, kebaikanmu, juga perhatianmu. Terkadang aku menyesal mengapa aku dilahirkan tidak berjodoh denganmu, saat aku melihat wanita yang kau cintai sungguh aku tidak membencinya tapi sangat ingin menjadi dirinya. Bisa dicintai olehmu dan memiliki dirimu, aku ingin sekali merasakannya." Suara hati Isabella.

__ADS_1


***


Sore hari Reva masih istirahat di ruangan itu, membuat Aldo sedikit lega, paling tidak dia masih tidur di kasur yang lumayan empuk.


"Sayang aku pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju, setelah itu aku akan kembali kesini." Aldo sudah menyiapkan makan di atas meja, dia khawatir Reva akan lapar saat dia belum kembali.


"Iya mas." Jawabnya lembut. Aldo mencium keningnya lalu beranjak pulang.


Di luar dia menghentikan langkahnya, sejenak dia berpikir untuk menemui Ayu. Setelah minta izin dengan petugas akhirnya dia bertemu dengannya.


"Ada apa?" Tanya Ayu pelan.


"Jika aku tidak ada disamping kakakmu, aku harap kau menjaganya nanti." Aldo bicara dengan menunduk.


"Apa maksudmu?" Ayu menatap tajam padanya.


"Aku ingin kalian bebas secepatnya. Dan jika tidak ada cara lain maka aku akan menuruti permintaan Nyonya Amelia untuk..." Ucapannya terputus.


"Kakakku akan sangat tersakiti." Jawab Ayu, wajahnya terlihat khawatir.


"Tapi sekarang dia sakit dan menderita di dalam sini, dia sedang mengandung anakku. Dia mengatakan dia sangat tidak nyaman di dalam sini, apa aku harus diam saja? Aku merasa sangat tidak berguna!!" Ungkapnya penuh emosi.


Ayu terdiam sejenak memikirkan ucapan Aldo. "Jika aku bisa mengorbankan diriku, aku sudah pasti akan melakukannya, aku juga merasa tidak berguna, hanya menyusahkan dirinya saja." Ayu menunduk sedih.


"Kau bisa menjaganya nanti. Aku titipkan anak istriku padamu, dan aku berjanji akan berusaha kembali walaupun aku tidak tau." Aldo mengusap wajahnya.


"Sebaiknya kau operasi plastik saja, agar Bella itu tidak lagi tergila-gila pada wajahmu!" Ayu melirik pria yang sedang kusut itu.


"Benar juga, tapi terlambat jika ku lakukan saat ini. Istriku keburu melahirkan di dalam sini." Aldo tersenyum kecut mendengar gurauan putus asa dari Ayu. Mungkin saja benar gara-gara Bella mengingat wajahnya jadi sulit melupakannya. "Aku tidak yakin istriku akan menyukainya" Ucapnya lagi, dia benar-benar memikirkan apa yang dikatakan Ayu.


Ayu terkekeh kecil mendengarnya, "Sudah pergilah, jangan terlalu lama meninggalkan kakakku."


"Baiklah."Aldo beranjak meninggalkan Ayu yang masih duduk terdiam menatap punggungnya.

__ADS_1


"Apa itu benar-benar akan terjadi?" Ayu memejamkan matanya sejenak, sungguh memikirkannya saja dia tidak sanggup, bagaimana nanti jika itu benar-benar terjadi?


__ADS_2