Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
17. Melamar


__ADS_3

"Perusahaan itu sudah lama berdiri, tapi pemiliknya adalah seorang militer dan dia tidak pernah kembali sibuk mengejar karier nya. Tapi sepertinya saat ini dia sudah kembali dan ku dengar dia sedang ingin mendapatkan istri. Bukan tidak mungkin jika saat ini dia sedang mengincar nona Reva." Jelasnya dengan wajah yang gembira.


Reva hanya menunduk, tidak mengatakan apapun. Berbeda dengan Aldo, dia terus saja memandangi Reva.


"Mungkin saja itu benar, karena dia memang mengenal Bu Reva." Ucap Ayu pelan.


Aldo semakin gelisah dibuatnya. "Baru saja akan melamarnya, sudah dapat saingan baru, " Batinnya, dia menghembuskan nafas kasar.


"Papa... " Sebuah panggilan mengejutkan semuanya. Bella datang dengan masih memakai seragam SMA.


Bella memeluk pak Hartawan tapi kemudian mendekati Aldo dan langsung memeluknya membuat semua orang menatap mereka.


"Ahh .. Bella tidak boleh begini." Tangan nya mencoba menyingkirkan pelukan Bella, membuat Reva menunduk menyaksikan itu, jujur saja hatinya tak nyaman. Ada rasa tidak terima di dalam hatinya.


"Saya rasa makan siang nya sudah selesai, sebaiknya kami undur diri kembali ke kantor." Ayu mengerti situasinya sudah tidak menyenangkan.


"Terima kasih atas waktunya sudah memenuhi undangan makan siang ini. Jika anda memerlukan bantuan hubungi saja aku. Aku akan mengirimkan orang kepercayaan ku." Ucap Pak Hartawan sambil tersenyum.


"Terima kasih." Reva menjawabnya lalu undur diri.


Reva masuk kedalam mobilnya terlebih dahulu, di ikuti Ayu yang akan mengemudi. Tapi tiba-tiba Aldo mengejarnya dan masuk kedalam mobil duduk di belakang Ayu.


"Heyy ada apa dengan mu, kau mau nebeng ??" Ayu menatapnya marah


"Aku ingin bicara dengannya." Aldo menunjuk Reva.


"Turun dari mobilku, kau hanya menambah beban, pertamax sedang mahal kau malah mau nebeng, kau pikir aku sopirmu ??" Ayu mengomel.


"Sudah ku bilang aku ingin bicara dengannya." Aldo meninggikan suaranya.


"Kalau begitu kau yang menyetir! Dasar Bucin"


Keduanya terus bertengkar hingga akhirnya Aldo mengalah, "Lihat saja nanti kau akan mengalami Bucin Akut, lebih parah dari pada diriku." Aldo mengomel walaupun sudah di luar mobil.


"Kau menyumpahiku ?" Ayu tak mau kalah saling menyahut padahal di tempat umum.


"Itu memang benar ! " Aldo membuka pintu dan mengambil alih kemudi. Tak peduli Ayu masih saja mengomel di luar. Aldo malah menyalakan mobil dan meninggalkannya.


"Hey .... Beraninya kau meninggalkan aku. Awas saja kalau aku bertemu denganmu, ku habisi kau !!" Ayu Sangat marah dibuat nya.


"Apa mereka sedekat itu? " Pak Hartawan sangat heran melihatnya.


"Mereka memang begitu, jika bertemu seperti kucing dan anjing." Ucap David membuat bos besar itu tertawa mendengarnya, entah mengapa dia bahagia melihat kelakuan gadis kecil itu "Mungkin dia memang putri ku." batinya.


"Aku permisi." Ucap David meninggalkan bosnya dan mengambil mobil untuk mengantar Ayu.


"Ayo !!" David mengajak ayu masuk.

__ADS_1


"Tidak mau, lihat saja teman mu itu, akan ku hajar dia nanti."


David jadi turun melihat tingkah gadisnya, "Ayo kita masuk, biar aku yang mengantarmu. Jangan begini di lihat orang." David menunjuk bosnya yang masih tertawa melihat Ayu marah. Akhirnya Ayu ikut walaupun dengan wajah yang masih memerah.


***


Sementara di dalam mobil


"Dia pasti sedang marah." Reva gelisah memikirkan Ayu kesayangannya.


Aldo mengambil ponsel dan menelpon seseorang. "Apa dia bersama mu?" ucapnya.


"Iya, dia bersama ku." jawab David di seberang sana.


"Katakan padanya, antar dia pulang." Reva menyela.


"Iya, aku akan mengantarnya." David langsung menjawab.


Aldo mengakhiri panggilan dan menepikan kendaraannya.


"Apa benar kau mengenal Pengusaha yang di bicarakan pak Hartawan itu?" Aldo memulai obrolannya mereka masih duduk di dalam mobil.


"Iya, aku pernah dekat dengannya." Reva menjawab apa adanya membuat Aldo tampak berfikir.


"Sekarang dia mencari mu, Apa kau akan menggantikan Dev dengannya ?" Aldo menatap gadisnya.


"Reva... Jujur saja, aku tidak ingin kau didekati orang lain. Aku tidak menyukai itu." Tatapannya mulai serius.


"Kau tidak boleh begitu, seperti kau juga dekat dengan orang lain aku tak bisa membatasinya."


"Maksudmu Bella ..??"


"Siapa pun itu." suaranya terdengar lembut sekali.


Aldo menyandarkan kepalanya di kursi kemudi. "Reva... Aku ingin mengatakan sesuatu."


"Katakan lah." Reva masih tak menatapnya.


"Aku menyukaimu, Aku serius, aku tidak meminta status apapun, tidak kekasih atau tunangan mu. Aku ingin melamarmu." Ucapnya tegas. Membuat Reva menatap matanya.


"Aku tau, aku bukan lah apa-apa jika dibanding dengan pria yang mendekatimu. tapi aku akan berusaha memenuhi apa yang kau mau."


Reva masih menatap wajah serius pria di hadapannya. Air matanya jatuh perlahan. Ada rasa Bahagia di dalam hatinya, tapi juga bersedih.


"Kau tidak boleh egois, apa kau tidak memikirkan perasaan sahabatmu?" Ucap Reva masih menangis.


"Aku sangat memikirkannya. Justru dia tau aku mencintaimu, dia meminta aku menikahimu."

__ADS_1


"Apa maksudmu ?" Reva seakan tidak percaya, nafasnya mulai tak beraturan.


"Reva jangan salah faham." Aldo mulai cemas akan apa yang dia ucapkan barusan.


"Kau mendekatiku, kau sudah bicara kan banyak hal dengan nya. Kalian sepakat untuk melepas, dan kau memungutku !?" Reva masih dengan air mata yang mengalir.


"Reva dengarkan aku, aku jatuh cinta padamu saat pertama bertemu. Sumpah demi apapun aku jatuh cinta padamu... " Aldo mencoba meyakinkannya.


"Kalian mempermainkan aku!" Isaknya pecah terdengar memilukan.


"Tidak, bukan begitu kenyataannya percayalah." Aldo memohon.


"Aku ingin pulang." Reva mengusap air matanya.


Aldo tidak tau harus mengatakan apa lagi, selain menurutinya. "Baiklah, aku antar ya ?" Aldo menatap gadisnya dengan hati yang sedih ia takut kehilangan.


***


Reva masuk ke dalam rumah tanpa menoleh Aldo yang masih memarkirkan mobil di halamannya.


"Ayu, kita pergi ke rumah kak Rey sekarang. " Ucapnya.


"Ini sudah sore kakak." Ayu mencoba mencegahnya. Karena saat ini David ada di sana dan membahas hal yang serius.


Reva mengambil Jaket di kamarnya lalu turun menuju mobil.


"Kak, tunggu. Aku yang akan menyetir." Ayu mengambil kunci dari tangan Aldo. Ia hanya diam tidak berani mengatakan apapun karena Reva sedang marah. Reva benar-benar pergi tidak peduli dengan siapa yang ada dirumahnya.


"Kau apakan dia ?" David membuyarkan lamun sahabatnya.


"Mana kunci mobilmu ?" Aldo melihat sahabatnya.


David menunjuk meja di belakangnya.


"Aku pinjam dulu, kau pulanglah naik taksi." Aldo langsung menghidupkan mobilnya dan menyusul Reva.


"Dasar Bucin." David kembali duduk dan memesan taksi online.


Rev hanya diam saja selama di perjalanan, menyandarkan kepala sesekali memijat keningnya.


"Kak, apa kau akan menemui pak Dev ?" Ayu bertanya dengan hati-hati.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Kau harus kendalikan dirimu, jangan menyalahkan siapapun. Tuhan sedang memutar arah, menunjukan jalan terbaik untukmu. "


Reva menatap adik kecilnya, yang dia ucapkan ada benarnya.

__ADS_1


__ADS_2