
"Ada apa Mey?" Dev menoleh dengan senyum manis tapi juga begitu heran.
"Papa akan pergi dalam waktu yang lama, aku rasa kita bisa bersenang-senang selama ia belum kembali." ucap Mey, mulutnya yang kecil dan imut itu terlihat begitu menggemaskan.
"Tentu saja, kita akan menghabiskan waktu berdua." jawab Dev begitu manis, semakin membenamkan Mey ke dalam pelukan hangatnya.
"Dev, jangan pernah melupakan aku jika suatu saat kita tidak bersama lagi." Mey berucap pelan dengan wajah masih bersembunyi.
"Apa tidak ada jalan untuk kita bersama Mey?" Dev mengecup pucuk kepala Mey, rambutnya lembut dan wangi.
"Entah jika tuhan yang menghendakinya Dev." jawabnya sedih.
"Bagaimana jika aku melamarmu langsung dengan papamu." Dev melonggarkan pelukannya dan menatap wajah imut itu.
"Tidak Dev, kau tidak akan mengerti masalahnya. Aku bersedia menjadi milikmu asal jangan kau beritahu papa perihal hubungan kita, kau boleh melakukan apa saja padaku." ungkapnya pelan dan tulus.
"Tapi kita sudah melewati batas Mey, walaupun aku tidak melakukan hal yang itu padamu, aku merasa bersalah karena sudah menyentuhmu." Dev menatap wajah cantik itu dengan mencari jawaban.
"Jangan Dev, kita berbeda agama. Dan aku tidak mungkin mengikuti keyakinanmu, dan lagi papa tidak akan mengizinkan aku bersamamu." gadis itu menangis kali ini, Dev sungguh tidak kuat melihat wanita yang dicintainya menangis.
"Baiklah, aku akan bersamamu, jangan menangis Mey sayang." Dev memeluknya erat sekali.
"Kita jalan-jalan di dekat sini mau?" Dev merayunya agar gadis itu tidak menangis lagi.
Mey mengangguk dalam pelukan Dev, walaupun sebenarnya Dev masih merasa banyak yang belum ia ketahui tentang Mey, tapi melihat Mey begitu tulus dan sangat ingin bersamanya Dev menjadi yakin untuk mencintainya.
"Aku mencintaimu Dev." ungkapnya lembut.
"Aku juga sayang." Dev tersenyum dengan menggandeng tangan Mey berjalan kaki menuju jalan di depan rumah itu, jalan yang masih sepi dengan pemandangan indah di bawah sana, bukit yang sejuk itu begitu indah terlebih lagi di nikmati bersama orang tercinta.
"Mey, apa kau tidak ingin menikah seperti orang-orang yang sudah hidup bahagia, itu terlihat begitu menyenangkan?" ucap Dev tiba-tiba, mereka bergandengan tangan menelusuri jalan setapak berjalan kaki.
__ADS_1
"Tentu aku mau Dev, tidakkah kau lihat aku begitu ingin bersamamu. Aku sangat ingin memiliki keluarga yang utuh, punya anak yang lucu dan menghabiskan waktu hingga menua bersama."
"Lalu, mengapa kau tidak mau ku ajak menikah? Bukankah itu ide yang bagus untuk kita."
"Tentu itu ide yang bagus, tapi tidak untuk kita bersama. Nanti kau akan tahu mengapa aku tidak bisa menikah denganmu, atau kau malah akan membenciku." ucapnya lagi, tatapannya begitu sendu.
"Apa salahmu hingga aku harus membencimu, bukankah kau mencintaiku?" Dev mengajak Mey duduk sejenak.
"Tentu saja Dev, soal cintaku padamu kau tak perlu ragukan lagi." gadis itu menunduk.
Dev merasa lelah meyakinkan Mey untuk menikah, entah harus apa lagi yang perlu ia lakukan untuk mendapatkan Mey selamanya. Atau?
Berbagai pikiran menghinggapi kepala Dev, belum pernah pacaran, belum pernah jatuh cinta, sekalinya cinta rumit dan penuh teka-teki. Pada akhirnya Dev hanya bisa menjalani hari-hari bersama Mey, ia lelah jika harus memikirkan perpisahan yang belum tentu terjadi.
"Mey, kau sedang apa? mengapa kau tidak turun ke bawah, apa kau sakit?"
Di sore itu Dev melihat Mey hanya duduk menyandar di sofa besar. Gadis berpakaian minim itu tampak malas dan tidak beranjak meskipun Dev menghampirinya.
"Hanya bosan." ucapnya pelan, wajah imut itu terlihat mengerucut.
"Belum, seminggu lagi mungkin." jawabnya masih tak merubah posisinya.
"Bangunlah, matahari tenggelam di sore ini indah sekali." rayu Dev meraih tangan kecil itu.
"Tidak mau." ucapnya tersenyum.
"Kalau kau tidak bangun aku bisa khilaf Mey." Dev melirik posisi Mey sungguh memancingnya.
"Benarkah? Aku tidak percaya kau bisa khilaf." Mey sengaja menggoda dan merayunya, jari lentik Mey mulai bergerak nakal.
"Mey hentikan, itu bahaya." Dev berusaha melepaskan tangan Mey yang mempermainkan bajunya.
__ADS_1
"Aku tidak akan berhenti, kita akan menghabiskan sore yang indah ini berdua. Apa kau tidak mau?" Mey mulai merengek manja.
"Tentu saja aku mau sayang." Dev mendekati wajah yang merengek itu hingga tak berjarak, menikmati nafas yang wangi menderu hebat serta rasa saling tak ingin melepaskan membuat aktifitas mereka semakin panas, hal yang kemarin selalu saja membuat keduanya ingin mengulang dan mengulang lagi. Dan kali ini, tangan Keduanya sudah tak memiliki rem, menelusur ke semua titik mencari sesuatu yang membuat mereka merasa saling memiliki.
"Dev aku ingin kau melakukannya." suara tertahan itu membuat Dev semakin bersemangat.
"Tapi_"
"Aku mohon Dev." wajah cantik itu memohon dan meraih Dev.
Tentu seorang lelaki tak akan mempu menolaknya, bermain dengan penuh semangat dan rasa cinta yang luar biasa dan berakhir dengan saling melepaskan sesuatu yang menghangatkan jiwa. Keduanya saling memeluk di sofa besar itu akhirnya yang sering menjadi kegelisahan mereka berdua tercapai sudah. Sama-sama saling memiliki namun tidak bisa hidup bersama, lalu apa yang akan terjadi? Sepertinya saat ini mereka tidak memikirkannya.
Gadis itu merasa puas dan tanpa beban ia tidur di pelukan Dev, hingga malam hari gadis itu tak kunjung bangun. Lain halnya dengan Dev, ada sesal yang menghinggapi hatinya, namun untuk apa di sesali sedangkan Mey sangat menginginkannya. Dev mengelus pucuk kepala Mey, memperhatikan wajah cantik itu dengan saksama. Begitu ia tak habis pikir dengan yang sudah terjadi dan Mey tak sedikitpun merasa khawatir.
Merasa di sentuh rambut dan pipinya gadis itu menggeliat terbangun dari tidur yang sudah dua jam.
"Dev." panggilnya begitu lembut.
"Iya." Dev tak banyak bicara.
"Terima kasih." ucapnya diam dan menatap Dev dengan penuh haru.
"Untuk apa Mey?" tanya Dev lembut dan pelan.
"Sudah menjadi milikku sore ini." ucapnya tersenyum tapi meneteskan air mata.
"Mengapa menangis, Bukankah kau senang?" tanya Dev lagi.
"Aku bahagia, sangat bahagia Dev." jelasnya lagi.
"Bagaimana jika kau mengandung anakku?" tanya Dev dengan khawatir.
__ADS_1
"Aku akan merawatnya, anak kita." Mey semakin menangis. Dev ikut terharu dan kembali memeluk gadis itu, entah mengapa ia begitu bahagia membayangkan ucapan Mey, Dev merasa dirinya sangat berharga untuk Mey. Juga sebaliknya Mey sangat berharga untuknya apalagi Mey bersedia mengandung anaknya.
"Jangan menangis, yakini saja kita akan bersama, dan lupakan perpisahan. Kita akan menghabiskan waktu bersama, kau milikku dan aku milikmu." Dev meyakinkan Mey, bersedih bukanlah pilihan yang terbaik.