Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
182. Maaf


__ADS_3

"Ada dua orang yang mengalami kecelakaan, satu laki-laki dan satu perempuan." seorang perawat memberi tahu David.


"Kenapa Dua orang, bukankah tadi dia hanya sendiri." David menjadi bingung, ia juga harus menemui polisi dengan segera.


Sementara ayah dan ibu Adi sedang menangis di ruangan ICU, Adi sekarat antara hidup dan mati sedangkan Reina masih bisa bicara dan sembuh tapi salah satu kakinya patah.


"Ibu!" panggilnya pelan nyaris tak terdengar.


"Adi." Ibu menangis pilu.


"Erita." ucapnya lagi.


"Biar Bapak panggilkan." ayah Adi langsung keluar menjemput Erita di ruangan lain, dan tidak berapa lama Erita muncul dengan bahunya dipegangi Aji dan ayah Adi.


Erita mendekati Adi dengan air mata menetes deras di pipinya, ia sungguh bersedih melihat pria yang akan menikahinya nyaris tak bisa bicara.


"Maaf." ucapnya pelan dengan nafas yang sambung menyambung.


"Aku mencintaimu." ucap Erita dengan menjatuhkan air mata, meraih tangan Adi, mendekatkan ke pipinya.


Adi tersenyum dengan mata semakin tak mampu terbuka, dan tak selang berapa detik matanya benar-benar terpejam, bibir yang terlihat sedikit tebal itu seakan tersenyum dengan air mengalir di salah satu sudut matanya.


"Kak Adi." panggil Erita bergetar.


Tak ada jawaban, hanya wajah yang damai terlihat di sana.


"Adi bangun, kau belum menikahi aku!" Erita menjerit dengan tangan menggoyang tubuh yang tak lagi bergerak.


"Adi kau tidak boleh pergi, kau sudah berjanji untuk menikahi aku, kau bilang kita akan hidup bersama!" Erita berteriak keras, ia menangis dan meratapi kepergian Adi.


Tangis yang sahut-sahutan itu terdengar menyedihkan, terlebih lagi Erita yang tidak sanggup menahan kesedihan harus batal menikah, dan hamil muda tanpa seorang ayah untuk anaknya.


Berkali-kali Erita pingsan di hari itu, ia menangis meraung-raung hingga nafasnya seakan terputus, dan mereka semua memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah Adi.

__ADS_1


"Erita, ada yang datang mencarimu." Aji memanggil adiknya, karena ada yang datang mencari.


Erita mengusap air matanya, keluar menuju ruang tamu di rumah baru mereka.


"Ibu Erita, ini sertifikat rumah ini, sudah di selesai di urus atas nama Ibu." pria muda itu menyerahkan map berisikan kertas.


Erita meraihnya, membuka sedikit dan benar saja di sana tertulis namanya.


"Aku tidak butuh ini." ucapnya mengamuk, melempar sertifikat rumah itu hingga menghambur di tengah-tengah ruangan itu. "Aku mau dia kembali, aku butuh suami dan ayah untuk anaknya." tangis Erita semakin tak terkendali, ia duduk jatuh di lantai dengan tak berdaya.


"Sabar Nak, ibu bersamamu, kami bersamamu." ibu Adi menangis bersamanya.


Tapi Aji sedang terkejut, matanya terbuka lebar dengan terus menatap Erita yang menangis pilu. Sejenak lalu kakinya mendekat, ia sedang berpikir dan berusaha untuk tidak marah.


"Kau sedang mengandung anaknya?" tanya Aji ikut duduk di dekat Erita dan ibunya Adi.


"Iya Nak." jawab wanita tua itu.


"Jangan marahi adikmu, dia tidak bersalah. Yang salah itu anakku, dia sudah memaksa adikmu." ibu Adi membelanya.


"Tapi jika sudah begini lalu kita harus bagaimana?" Aji semakin bingung di buatnya. Dia memang sudah heran sejak awal, Adi sangat baik sekali dengan Erita, mengejarnya, mengalah dan rela di usir adiknya, pria itu tetap tak menyerah pada Erita. Seakan ia di kendalikan dan rela menjadi bodoh demi Erita, ia bahkan memberikan segalanya pada adiknya itu, padahal selama ini Adi tidak pernah seperti itu pada wanita. Dan sekarang terjawab alasannya baru ia ketahui, ternyata Erita menyimpan benihnya, calon anak Adi yang di tutupi adiknya.


"Aku tidak mau rumah, aku tidak mau uang, aku mau dia kembali Ibu!" teriaknya pada ibu Adi.


"Maafkan Ibu Nak." wanita tua itu semakin menangis.


Aji sungguh kesal sekali sore ini, lepas memakamkan calon adik iparnya ia jadi semakin galau, ia sungguh-sungguh bingung harus bagaimana, juga bagaimana jika ayahnya sampai mengetahui.


"Aji, David ingin bicara denganmu." Aldo memanggil Aji yang masih menahan emosinya, namun akhirnya pria itu ikut dengan Aldo.


"Duduklah." David sudah tahu jika Aji sedang marah.


"Aku tahu ini bukan saatnya kita membahas hal ini, tapi jika tidak sekarang lalu kapan lagi. Kami sudah tahu perihal kehamilan adikmu, dan Adi mengakuinya jika dia memaksa Erita, bukan atas suka sama suka. Jadi ku harap kau jangan menghukum adikmu, dia tidak bersalah." jelas David dengan tegas.

__ADS_1


"Lalu adikku harus bagaimana Pak David?" Aji menunjukan kekhawatirannya.


"Erita bisa bekerja menggantikan Adi di Cafe kita, sementara dia hamil, jika belum bisa bekerja boleh istirahat saja dulu." David menjawabnya.


"Maksudku bagaimana anak itu Pak, kami tidak mungkin menyembunyikannya." Aji masih terlihat bingung.


"Rumah ini atas nama adikmu Nak Aji, Erita juga masih ada tabungan dari Adi walaupun sebagai mahar untuknya, tapi tentu kami tidak akan lepas tanggung jawab, kami akan mengirimkan uang untuk Erita dan anaknya." kali ini ayah Adi yang berbicara.


"Aku tidak menghawatirkan hal itu Pak, tapi _" Adi sudah tidak tau harus berbicara apa.


"Aku mengerti Nak." ayah Adi menunduk, ia tahu apa yang sedang di khawatirkan Aji, anak itu tidak akan memiliki ayah.


"Jika salah satu saudara kami di kampung mau menjadi ayahnya apa kalian akan setuju?" ucap ayah Adi ragu-ragu.


"Belum tentu Erita akan setuju, apalagi jika ia tidak kenal." Aji masih memijat kepalanya.


Mereka sejenak terdiam, sayup-sayup masih terdengar tangisan gadis itu di dalam sana, hingga sore keesokan harinya, Erita pulang ke rumahnya dengan lemas dan sedih sekali.


Di kamar itu, mereka pernah melakukannya dengan sadar, pria itu begitu hangat dan lincah sekali membuat Erita tak bisa lari dari dirinya. Awal yang ia benci namun pada akhirnya ia menikmati dengan sepenuh jiwa.


Air matanya kembali turun dengan deras sekali, sesaknya dada Erita seakan ada batu yang menghimpit di sana. Ia tidak kuat membayangkan kebersamaan yang singkat itu.


Erita berjalan keluar di halaman belakang, duduk di bawah pohon mangga besar itu dengan tanpa alas di tanah yang kering. Duduk melamun dengan mata sayu dan pikiran entah kemana.


"Kau tahu, aku pernah berada di posisi dirimu." suara pria itu membuatnya menoleh, senyum manisnya terlihat sedikit menghibur.


Erita masih tak bicara, hanya menikmati air mata hangat yang terus jatuh di pipinya.


"Dia pergi meninggalkan aku, tanpa ku tahu ada Dimitri di dalam perutnya." sambung Dev ikut duduk di sampingnya.


Erita menoleh.


"Rasanya aku ingin mati, bertahun-tahun aku bahkan tidak bisa melupakannya. Hingga akhirnya aku bertemu Kakak sepupumu, dia yang berhasil membuatku melupakan ibu Dimitri." Dev tersenyum hangat memandang wajah sembab itu dari dekat.

__ADS_1


__ADS_2