Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
94. Menguasainya


__ADS_3

"Akbar!" Abidzar segera mengambil anaknya, Abidzar juga meraih tangan Bella dan membawanya menjauh.


"Berhenti!" Suara Anggara juga terdengar tegas seperti perintah, membuat pukulan selanjutnya tertahan.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" Aldo bangun, menunjuk wajah Dev yang baru saja memukulnya.


"Apa yang tadi kurang jelas, kalian serasi sekali." Dev menunjuk Bella dan Aldo bergantian.


"Apa urusanmu, kau bahkan tidak paham dengan apa yang terjadi." Aldo menjawabnya dengan memegang pipinya yang terasa panas.


"Apa mau bilang yang tadi bukan dirimu lagi? Aku jijik sekali melihatmu." Dev balas menunjuk wajah Aldo.


"Hah, aku bahkan sudah lebih dulu merasa jijik denganmu. Tidakkah kau malu masih selalu ingin tahu dan ingin mendengar kabar istriku. Kau selalu saja mencari celah untuk membuat kami berpisah. Kau menyesal sudah memintanya menikah denganku dan akhirnya dia tidak mau lepas lagi." Aldo menatapnya sinis, wajah itu sungguh tak terlihat tenang.


Dev hanya diam tak bergeming, dadanya bergemuruh marah sekali.


"Atau kau sengaja meminta aku menikahinya, setelah dia hamil kau akan memintanya kembali padamu begitu? Pikiranmu itu rendah sekali. Kau ingin membahagiakan dia, mengambing hitamkan aku untuk memiliki anak, lalu setelahnya kau menyalahkan aku." Aldo meninggalkan kerumunan itu tanpa menoleh, Dev akan menyusul tapi lengannya di tahan Anggara.


Reva terdiam menyaksikan kedua orang yang bertengkar tak jauh darinya, hingga Aldo mendekat dan merangkulnya, Reva menurut tak mengatakan apa-apa.


"Kita pulang sayang." Aldo tak peduli lagi dengan siapapun di sana, di susul Anggara dan yang lain juga satu persatu meninggalkan tempat itu. Di perjalanan Reva dan Aldo masih saling diam, sibuk dengan perasaan dan pikirannya masing-masing.


Tiba di rumah seperti biasa Aldo tak melepas istrinya membawanya masuk ke kamar. Meski tak ada pembicaraan tapi Aldo tetap memperlakukannya seperti biasa, memintanya berbaring lebih dulu dan menyelimuti ibu hamil itu.


"Mas." Reva memanggilnya dengan lembut.

__ADS_1


"Iya sayang, ada apa?" Aldo menatap wajah cantik itu.


"Maaf, aku membuatmu berkelahi dengan temanmu." Reva meraih tangan yang terasa basah sehabis membersihkan diri dari kamar mandi.


"Itu bukan salahmu, seandainya waktu itu dia tidak menitipkan sepatumu padaku, kita akan tetap bertemu. Bahkan mungkin aku akan lebih berusaha mengejar dirimu." Aldo menatap wajah istrinya lebih dalam.


Reva tersenyum kecil, memandang langit-langit kamarnya. "Kapan aku bisa lepas dari semua ini, bukankah situasi ini membuatku seolah berhutang padanya." Ucapnya lembut dan lelah. "Bukankah aku juga berhak bahagia?" Ucapnya lagi, dia tak tau harus berbuat apa.


"Tentu saja, tuhan yang sudah mengatur semuanya sayang, beruntung bahagia kita ini melewati tangannya dan seharusnya dia ikhlas agar banyak pahala mengalir padanya." Aldo mengusap kening yang tertutup sedikit rambut itu.


"Apa dia terlihat tidak ikhlas?" Reva kembali menatap wajah Aldo yang sebelah pipinya merah karena pukulan.


"Itu hanya pemikiran ku saja." Aldo tersenyum sedikit, ada keraguan di sana, entah jika dia sedang berbohong.


"Jika iya, aku juga tidak mau terikat terus-menerus dengannya, sungguh ini adalah beban." Ungkapnya lagi.


"Tidak mas." Jawabnya yakin sekali.


"Baiklah, kita doakan saja yang terbaik untuknya." Aldo memeluk istrinya dan memintanya tidur lebih dulu. Hingga beberapa saat kemudian Reva benar-benar tidur dengan nyenyak sekali.


Aldo bangun dari tidurnya memastikan Reva tidak terjaga, mengambil jaket dan keluar rumah dengan mengendarai mobil hitam miliknya, Aldo datang ke rumah lama. Tiba di sana Aldo turun dengan wajah datar dan tatapan tajam melihat di sekeliling, tak ada siapa-siapa.


Lama dia menyandar di mobil miliknya hingga tiga puluh menit kemudian suara deru mobil datang memasuki halaman rumah mereka. Rey datang di rumah itu menghantar rekannya yang juga sahabat kakak iparnya. Kedua orang yang habis berkelahi itu saling menatap tajam terlebih lagi Aldo mendekat dengan wajah datarnya.


"Untuk apa kau datang kesini?" Dev tak menatap wajahnya, sedangkan Rey masih merapatkan pintu mobil yang sedikit terbuka.

__ADS_1


Tanpa bicara Aldo memukul wajahnya dengan tenaga penuh, Pria di hadapannya itu jatuh tersungkur dengan memegang pipinya yang sedikit basah, sudut bibir itu berdarah.


"Aldo apa yang kau lakukan?" Rey mendorong sedikit bahu adik iparnya, tentu itu tak menghentikan langkah Aldo.


"Aku sudah muak bersabar dengan tingkahmu." Aldo kembali memukul namun tak berhasil, tapi tendangannya berhasil mendorong tubuh Dev hingga mundur.


"Hentikan Aldo, ini tidak ada gunanya." Rey membentak kali ini.


"Kau pikir aku takut, atau kau sengaja membuat aku mengalah karena kau merasa aku dan istriku berhutang kebahagian padamu begitu?" Rey menahan Aldo agar tak mendekati Dev lagi. "Asal kau tau, tanpa kau meminta ku untuk menemui Reva waktu itu, aku akan tetap bertemu dengannya, bahkan mungkin merebutnya." Jari Aldo menunjuk lurus di wajah Dev.


"Merebut kau bilang? Ternyata kau seorang penghianat, aku sungguh tidak suka dengan caramu?" Dev menjawab, dengan posisi berdiri tegak tanpa merasa takut.


"Penghianat apa, bukankah saat ini kau sedang menjadi penghianat yang berpura-pura. Dan cara yang mana? Aku yang terlalu menyayangi istriku, atau aku yang sudah membuat istriku tak bisa jauh dariku, atau yang mana kau katakan saja aku punya banyak waktu untuk mendengarkanmu." Aldo masih terlihat menahan emosi.


"Semuanya." Jawab Dev tenang.


"Kalau begitu kaulah yang bermasalah. Asal kau tahu aku tidak akan membiarkan istriku merasa berhutang padamu, dan membiarkanmu memanfaatkan rasa itu. Jadi lebih baik kita selesaikan ini sekarang, katakan saja apa yang kau mau?" Aldo tak melepas tatapannya.


"Kau berpikir aku sedang menagih hutang?" Dev tertawa sinis.


"Bisa jadi, bukankah kau selalu merasa aku sedang berhutang padamu? Katakan saja, berapa aku harus membayarnya?" Aldo sudah hampir kehilangan kesabaran.


"Tolong bicaralah dengan kepala dingin. Aku kakak iparmu, dan rekanmu juga." Rey berbicara dengan kedua orang yang masih bersitegang.


"Kau pikir aku sedang meminta uangmu? Ah iya aku lupa, kau sedang menguasai perusahaan istrimu." Suara Dev terdengar mengejek, membuat Rey menatap tajam padanya.

__ADS_1


"Aku menguasai semuanya, perusahaannya, perkebunan miliknya, apartemennya, aset-aset lainya, dan yang paling penting aku menguasai hatinya dan TUBUHNYA!" Aldo menekan kata-kata terakhirnya, sengaja membuat lawan bicaranya memanas.


"Hentikan Aldo, Dev kalian sudah dewasa. jangan seperti anak kecil. "Rey juga ikut emosi. "Aldo ayo pulang, ini tidak akan selesai." Rey memegang bahu adik iparnya mendorongnya masuk ke mobil, memastikan Aldo mengemudi lebih dulu dan Rey ikut mengiringi di belakang meninggalkan pria itu sendirian. Hatinya kacau dan marah sekali.


__ADS_2