
"Bibi, aku mau es krim rasa coklat." pinta Dimitri pada Erita, anak laki-laki itu tampak senang sekali.
"Baiklah, Bibi juga ingin yang coklat." jawabnya memegang satu es krim dan memberikan lebih dulu pada Dimitri.
"Terima kasih Bibi." jawabnya langsung menikmati es krim yang enak itu.
Erita tersenyum, ia masih meraih dompetnya di dalam tas kecil yang ia bawa, tapi belum ia sempat memberikan uang pada penjual es krim.
"Ini uangnya." suara laki-laki itu membuat Erita sangat terkejut, gadis itu menatapnya heran dan juga gugup.
"Ayah kenapa kau datang kemari?" tanya Dimitri sambil menikmati es krim di tangannya.
"Tadi kau tak membawa uang sayang, ayah pikir kau akan menghabiskan uang Bibimu." jawab Dev tersenyum, sedikit melirik gadis yang diam terpaku itu masih menatapnya dengan heran.
"Oh, ku kira ayah sengaja datang karena ingin ikut jalan-jalan dengan kami." dia benar-benar polos.
"Tidak, tadi itu harusnya ayah memberimu uang, kau suka meminta yang macam-macam jika sedang di luar." jawab Dev, dia sedang berkilah dan tak mau ketahuan mengikuti mereka.
Erita tak bicara apapun, hanya menikmati es krim di tangannya seperti Dimi, kedatangan Dev membuat gadis imut itu enggan bicara.
"Mau beli apa lagi?" Dev melihat banyak pedagang di sekitar taman.
Pemandangan sore hari memang meneduhkan di tempat itu, banyak anak muda yang datangnya bersama pasangan, ada juga yang bersama teman-teman mereka.
"Dev!" suara seseorang memanggil namanya.
"Iya." jawab pria itu menoleh.
"Tumben sekali kau jalan-jalan di sore hari?" rupanya rekan kerja Dev juga ada di sana.
"Hanya menemani Dimitri." Dev menunjuk putranya yang sedang menyandar di bahu Erita.
"Wah indah sekali, jalan-jalan di sore hari bersama keluarga. Ngomong-ngomong istrimu cantik juga!" pria yang berbadan tegap itu menunjuk Erita.
Gadis itu menoleh merasa ia di bicarakan teman Dev di belakangnya.
Dev tersenyum, ia tak menjawab.
__ADS_1
"Baiklah, aku rasa kehadiran ku ini mengganggu waktu kalian." pria itu meninggalkan Dev yang masih tersenyum manis sekali.
"Kenapa kau diam saja?" Erita menoleh dan berbicara pada Dev.
"Oh, itu_ biarkan saja, dia tak akan mengerti." jawab Dev berusaha setenang mungkin.
"Tentu saja dia tak akan mengerti jika kau tak bicara." jawab Erita kesal.
"Maaf." Dev masih tersenyum penuh arti.
"Lebih baik kau pulang saja." ucap Erita lagi.
"Jangan mengusirku, ini tempat umum." Dev tak akan mungkin mengalah.
"Aku tidak suka." Erita mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak akan mengganggu, hanya akan membayar apa yang kalian beli, karena jika ku beri uang kau tidak akan mau." jawab Dev masih dengan tenang.
Erita malas berdebat dengan pria itu, dan lagi, senyumnya yang selalu manis membuat Erita enggan melihatnya berulang-ulang.
"Tidak apa-apa." jawabannya singkat.
Dev tersenyum menang di sore yang cerah ini, dia hanya mengikuti kedua orang di depannya. Tak ikut makan di saat keduanya makan, tidak ikut bermain saat keduanya bermain, dia hanya membayar saja. Kasihan sekali..
"Ayo kita pulang, hari sudah akan Maghrib." akhirnya Dev buka suara mengakhiri keseruan kedua orang beda usia di hadapannya.
"Benar, ayo kita pulang." Erita mengajak anak kecil itu, wajah tampan dengan senyum manis seperti ayahnya selalu membuat Erita menyayanginya.
Mereka pulang berjalan kaki, jarak yang hanya sekitar lima puluh meter itu membuat mereka bisa menikmati suasana redup di senja yang indah. Seindah hati Dev menyaksikan putranya bahagia dengan tawa dan canda meskipun bukan dengan ibunya, atau istrinya. Tapi untuk menikah lagi, rasanya sudah tak mungkin. Dengan sejuta kekurangan yang ia miliki, dengan segudang dosa dan kesalahan yang sudah tak bisa ditutupi, mana mungkin ada wanita baik-baik yang bisa menerima dirinya.
Apalagi Erita, dia gadis baik sama seperti Reva, bahkan caranya juga hampir menyamai Reva. Terkadang pertemuan itu datang di waktu yang tidak tepat, bahkan perpisahan terjadi di waktu yang salah. Paling tidak dekat dengan Erita bisa mengurangi kekhawatirannya saat Dimitri tinggal di rumah. Wanita baik itu terlahir dari keluarga baik-baik, sayangnya dia tak cukup baik untuk mendapatkan salah satu dari mereka yang baik.
"Erita!"
Aji sudah berdiri di depan pintu menatap pada adiknya yang baru saja pulang bersama Dimitri, namun yang membuat Aji heran bukan itu, melainkan ada Dev di belakang mereka. Mereka berjalan bersama seperti keluarga, ya! seperti keluarga.
"Kakak!" jawabnya tersenyum, namun terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Darimana Erita?" tanya Aji lembut.
"Dari taman belakang kak, bersama Dimitri." jawabnya, dia sedang menjelaskan keadaan, namun dapat di lihat pria di belakangnya sangat tidak keberatan dengan suasana seperti itu.
"Oh." Aji menjawab singkat, membiarkan adiknya berlaku masuk rumah tanpa berpamitan pada Dimitri, mungkin ia takut mendapat teguran dari Aji.
"Maaf, tadi mereka berjalan berdua, dan aku menyusul karena takut Dimitri meminta sesuatu berlebihan pada Erita." Dev seolah mengerti akan apa yang sedang di pikirkan Aji terhadap adiknya.
"Tidak apa-apa kak, aku hanya menunggunya sedikit lama, tadi aku pulang cepat dari semalam aku belum istirahat." Aji berbicara sopan.
"Apa rekan mu itu masih bekerja?" tanya Dev mendekati Aji.
"Masih kak, dia dapat peringatan dari kak Aldo juga kak David. Aku jadi merasa bersalah, tapi dia juga salah." jawabnya, dia sedang berpikir dengan raut wajah bingung.
"Kau tak perlu merasa bersalah, aku bahkan datang langsung ke rumahnya dan mendapati mereka sedang berdua." Dev tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak bermaksud membongkar semuanya, tapi aku juga tak sampai hati jika tidak memberitahunya." ucapnya masih dilema.
"Jangan kau pikirkan lagi, semua sudah berlalu."
"Benar kak." jawab Aji menarik nafas.
"Kita sholat dulu, Dimitri pasti sudah menunggu." Dev menuju rumahnya, begitu juga Aji masuk kedalam rumah.
"Mau makan atau sholat dulu kak?" tanya Erita.
"Sholat dulu saja." jawab Aji langsung bergegas mandi.
Hingga selesai makan malam, dua saudara itu masih duduk di meja makan dan menyandar seperti biasa.
"Erita, apa kau menyukai ayah Dimitri?" tanya Aji menatap serius wajah adiknya.
"Tidak kak, tadi aku benar-benar bersama Dimitri, dan dia menyusul." jawab Erita pelan.
"Jangan terburu-buru menyukai seseorang, apalagi kita orang baru di sini, kita tidak tahu apa dan siapa, mengapa dan kenapa dia bisa berpisah dengan istrinya. Walaupun kakak tahu penyebabnya tapi kedalamnya kakak tidak tahu." jelas Aji menasehati Erita.
"Aku mengerti kak." Erita mengangguk patuh, gadis penurut dan baik hati.
__ADS_1