Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
143. Tak ada yang kebetulan


__ADS_3

"Jika boleh jujur, aku masih sangat mencintaimu." ucapnya lirih, Dev menunduk sedih dengan mata yang mulai mengabur, pasir yang ia injak seakan menjadi satu. "Terkadang aku merasa Tuhan tidak adil karena aku tidak bisa memilikimu, tapi kembali lagi pada ketentuan yang telah Ia berikan, aku hanya diberi kesempatan untuk menjagamu, bukan memilikimu." Dev menatap wanita yang memunggunginya, tampak bahu itu dulu ia pernah sekedar merangkulnya saat berfoto saja. Jika dulu dia adalah gadis semampai dengan bahu tipis yang menggemaskan, berbeda sekarang dia adalah sosok ibu muda yang cantik dan berisi, sudah tentu karena dia pernah mengandung dan melahirkan seorang anak, anak dari Aldo suaminya.


Reva masih tak menjawab, jujur saja masih ada rasa terharu saat mendengar kata bahwa pria itu masih mencintainya, tapi hanya haru, tidak untuk membalasnya, matanya tak lepas dari dua orang yang amat ia cintai, Aldo dan Zahira.


"Reva, aku pernah bersumpah untuk tidak menikah."


"Kau bersumpah sebab kau ingin melepaskan aku mas, jika aku tidak marah dan menangis saat itu kau tak akan mengatakannya. Jika boleh jujur aku juga merasa bersalah atas ucapan mu itu, dan sekarang ku harap kau tidak mengingat sumpah yang kau ucapkan lagi. Berjanjilah padaku kau akan bahagia seperti aku saat itu berjanji akan bahagia, cobalah sepenuh hati untuk mencintainya." Reva menatap pantai di depan mereka sehingga wajahnya dapat di lihat dari samping.


Dev menatap separuh wajah itu, rasa kagumnya masih sama seperti dulu. "Apa kau ikhlas melupakan sumpahku padamu." Dev berucap pelan sekali.


"Tentu saja mas, aku ingin kau juga bahagia."


"Jika kau bilang tidak ikhlas maka aku akan mengurungkan pernikahanku." Dev menatap penuh harap, bahkan membayangkan jika Reva mengatakan tidak ikhlas, dia pasti akan senang sekali.


"Aku ikhlas mas, lupakan sumpahmu, hiduplah bersama istrimu dengan bahagia." Reva menoleh sejenak, tampak Dev sedang menatapnya dengan terluka.


Reva sedikit tersenyum seakan memberikan penjelasan bahwa ia benar-benar ikhlas.


Tapi berbeda dari sisi Dev, senyum itu menghujam begitu dalam melemahkan seluruh sendi dan saraf tubuhnya. Menghancurkan sisa-sisa harapan indah yang setiap malam ia bayangkan bersama dirinya, kini perpisahan itu begitu nyata, dia harus berulang kali kehilangan orang yang sama.


Kehilangan saat ia di vonis sakit dan tak mungkin bisa bersama.


Kehilangan saat mengatakan kenyataan dan memutuskan pertunangannya.

__ADS_1


Kehilangan saat melihat Aldo dan dia saling menatap penuh cinta.


Kehilangan saat mereka memutuskan untuk menikah.


Kehilangan lagi saat dia mengatakan sangat mencintai suaminya.


Dan sekarang benar-benar kehilangan yang akan mengakhiri segalanya.


Dev akan menikah, berharap secara perlahan wanita yang ia nikahi bisa menghapus bayangan orang di hadapannya.


"Inikah rasanya menjadi dirimu waktu itu, aku memintamu menyerah dan melupakan aku, aku membiarkanmu menangis dan pergi dengan hati yang terluka. Apa Tuhan sedang membalas rasamu atas diriku?" Dev sudah tak mampu menahan air mata, setetes butiran bening itu jatuh menyusuri pipinya.


"Tidak mas, aku tidak pernah merasa sakit hati padamu. Sungguh tak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan daun yang jatuh dari pohonnya adalah sudah ketentuan yang maha kuasa. Begitupun pertemuan dan perpisahan kita, kita bertemu untuk di jadikan pelajaran seumuran hidup, dan setelahnya lewat tanganmu aku di pertemukan dengan mas Aldo sebagai teman seumur hidup. Jangan sesali apa yang sudah kita lewati, itu semua hanyalah bagian di dalam sandiwara kehidupan ini."


"Sakit hanya ujian mas! Kau memang sakit, tapi tidakkah kau tahu harusnya kau bersyukur mengetahui sakitmu, artinya kau masih punya waktu untuk mempersiapkan diri sebelum pergi. Tak tentu sehat atau sakit, yang sehat bisa saja meninggal lebih dulu, dan yang sakit bisa saja tinggal di dunia lebih lama. Umur tak menjadi ukuran, bahkan kita masih hidup di dunia ini semua sebab ada alasan, kau masih ada di sini karena tugasmu belum selesai, juga aku masih hidup di dunia ini sebab tugasku belum selesai. Tapi nanti jika tugas kita sudah selesai, Allah akan memanggil kita sesuai urutan. Jadi apa yang harus kau khawatirkan mas, kita hanya sedang berperan sesuai janji sebelum kita dilahirkan, nikmati saja hidup yang tersisa dan lakukan yang terbaik." Reva kembali tersenyum memberikan keyakinan.


Tatapan sendunya masih terlihat, menarik nafas dan mencoba ikhlas, sungguh ia sedang memikirkan ucapan wanita cantik itu.


"Pergilah mas, nikahi dia dengan layak, hargai dan hormati dia seperti dulu kau begitu menghormati ku sebagai wanita istimewa. Itu indah sekali dan tidak pernah ku lupakan, kau laki-laki yang sangat menjagaku." Reva sedikit menolehnya, seakan menjelaskan ini adalah pertemuan terakhir untuk membahas semua masa lalu.


Dev begitu bahagia melihat wajah itu menoleh sehingga dapat melihat jelas setiap Senti wajah ayunya, mata teduhnya, hidung meruncing dengan bibir yang selalu terlihat menggoda. Namun itu semakin membuat sesak nafasnya, sungguh berkhayal tentang istri orang hanyalah membuat dosanya semakin menumpuk. Tentu mata Dev akan tetap menikmatinya sejenak hingga ia sadar jika memang sudah waktunya untuk pergi.


"Aku akan menikah secepatnya, ku harap ini adalah awal bahagia untuk kita semua." jawab Dev sudah kembali menguasai perasaannya.

__ADS_1


"Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu mas." suara lembut itu terdengar menusuk terbawa angin hingga ke dalam telinga.


"Terima kasih."


Terdengar suara pergerakan pria itu beranjak, ia melangkah menjauh dari Reva yang sudah kembali berdiri menyamping tak mau menghadapnya. Langkah yang sudah beberapa itu berhenti sejenak, hatinya seakan masih tertinggal dan membuat ia menoleh.


Tak ada yang kebetulan memang, Reva juga sedang menoleh dengan hijabnya berayun lepas dihembus angin pantai yang membuatnya seperti bidadari. Iya, seperti bidadari.....


Namun di sampingnya, Aldo sedang tersenyum dengan satu tangan memeluk begitu erat.


Dev membalas senyumnya dan berlalu pergi dengan sesak di dada masih terasa. Mobilnya melaju berbalik arah, ia akan pergi menemui Reina dan akan menikah secepatnya.


"Sudah selesai?" Aldo berbisik.


Reva mengangguk dan melingkarkan dua tangannya di bahu Aldo, senyumnya mengembang dengan mata menatap penuh cinta.


"Ku pikir kau akan ikut dengannya." Aldo bercanda namun itu adalah isi hati dan kekhawatiran.


"Aku sudah tidak bisa jauh darimu mas, sehari saja aku tidak bersamamu aku gelisah dan rindu." ucapnya dengan mesra.


"Kau sedang merayuku?" Aldo membalas pelukan itu, melingkarkan tangannya di pinggang dan menyatukan kening mereka.


"Itu kenyataan yang sudah berhasil kau ciptakan setelah satu tahun kau bersamaku." Reva masih tak menyerah dengan rayuannya.

__ADS_1


"Stop sayang, rayu aku di rumah saja. Di sini tak ada penginapan dan aku takut tidak mampu menahannya, akan terlihat aneh jika mobil kita bergoyang di tengah pasir yang luas ini."


__ADS_2