
Sepasang pengantin baru keluar dari ruangan, tangan kecil bergelayut manja di lengan yang kokoh milik suami tercintanya. Terlihat sangat serasi dan bahagia. "Mas." Panggilnya melihat pemandangan di ruang tunggu, Ayu dan pak Hartawan saling menangis melepas rindu dan meluapkan banyak penyesalan di hati masing-masing.
Aldo berganti memeluk Reva. "Biarkan saja, sebaiknya jangan di ganggu." Aldo mengajak istrinya langsung pulang.
"Sayang aku antar kerumah ya? Hari ini tidak usah ikut ke cafe, aku akan pulang lebih awal." Aldo menoleh istri yang duduk di sebelahnya.
Tak dijawab, hanya menoleh kemudian memandang lurus ke depan.
"Sayang." Aldo kembali memanggilnya meminta jawaban, tapi tetap diam hingga Aldo menghentikan mobilnya sejenak.
"Ada apa hemm.. Apa yang tadi masih kurang?" Bisik Aldo menghadap istrinya sambil membelai wajah yang tak mau tersenyum. Tentu itu membuatnya meleleh, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Aldo.
"Aku takut kau lelah sayang. Aku janji tak akan pulang terlalu malam, lagi pula sudah ada Adi sepupu David yang bekerja, aku hanya mengecek saja sebelum David datang. Kau tau sendiri David masih di kantormu." Aldo memeluknya erat sekali.
"Janji?" Ucapnya mendongak wajah tampan yang menciumnya.
"Janji." Aldo menjawab dengan pasti. Mengukir sedikit senyum di wajah yang sempat merajuk. Aldo menggenggam tangan Reva sambil kembali mengemudi. Genggaman yang begitu erat membuat hati hatinya menghangat. Seulas senyum membentuk di bibir merah pria tampan itu, "Ya tuhan. Aku sangat bahagia mendapatkan dirinya, hatinya juga cintanya. Semoga aku bisa segera membuatnya hamil agar kebahagiaan ini sempurna dan aku tak perlu takut kehilangannya." Aldo berucap di dalam hati.
Tak berapa lama mereka sudah tiba di rumah, Aldo mengantarnya masuk. Tak lupa memberikan pelukan hangat untuk istri kecilnya, barulah dia pergi untuk kembali bekerja.
"Non mau ngeteh?" BI Tuti menghampiri majikannya yang langsung duduk di ruang makan.
"Boleh bi, kebetulan lelah dan haus sekali." Jawabnya pelan, bi Tuti tersenyum mendengarnya seraya sibuk menuangkan air panas ke dalam gelas.
"Nih non tehnya." Meletakkan teh dan cemilan di atas meja.
"Makasih bibi." Reva mengaduk tehnya.
"Bibi bahagia banget deh, lihat non sama mas Al romantis gitu kaya di film-film. BI Tuti jadi Geregetan." Ucapnya dengan ekspresi ingin *******-***** sesuatu.
"Makasih ya bi, Aku sangat bahagia. Aku bahkan melupakan segala hal jika sudah dekat dengannya." Reva jadi bersemangat untuk bercerita.
__ADS_1
***
Sementara di tempat lain. "Papa harap kau menerimanya, karena hanya ini yang papa bisa berikan padamu." Pria paruh baya itu menyerahkan amplop coklat yang di siapkan David.
"Aku tidak butuh ini papa, sebaiknya tidak usah." Gadis kecil semampai itu mencoba menolak.
"Kau tidak boleh menolak, papa ingin kau hidup sama layaknya seperti Bella, kalian anak-anak papa. Papa mohon kau menerimanya." Dia mengelus tangan kecil itu, membuat pemiliknya diam menunduk.
"David, aku percayakan semua yang berurusan dengan putriku padamu." Perintahnya kemudian di angguki David.
"Kalau begitu kita pulang, ini sudah malam. Dimana tempat tinggalmu sayang?" Pak Hartawan merangkul bahu putrinya.
"Aku tinggal di rumah Kakak papa?" Membuat pak Hartawan mengangkat alisnya.
"Di rumah Reva pak, aku tau rumahnya" David menyela sambil membukakan pintu untuk bosnya, lalu untuk kekasihnya.
"Sepertinya kau sudah tau banyak hal tentang putriku?" Pria itu memicingkan matanya menatap David yang mulai melajukan mobil.
***
Aldo menaiki tangga menuju kamarnya. Tak peduli seberapa lelah dia bekerja selalu pulang dengan hati yang bahagia ingin segera bertemu membawa senyum hangat untuk belahan jiwa. Dia membuka pintunya perlahan, tampak seorang wanita sedang menonton dan menyandar di tempat tidur.
"Belum tidur?" Tanyanya mencium kening istrinya.
"Belum mas, aku menunggumu." Jawabnya. meraih tangan Aldo dan menciumnya.
"Aku bawakan jagung bakar untukmu sayang." Aldo menunjukan bag yang di bawanya.
Reva tersenyum senang mendengarnya. "Makasih mas." dia beranjak membuka bagnya, dan langsung menggigit jagung bakar itu terlihat sangat nikmat sekali.
Aldo mengelus kepalanya, lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Sayang, lusa aku harus keluar kota untuk mencari pemasok kopi untuk cafe kita!" Ungkapnya setelah selesai berganti baju.
"Kopi?" Reva bertanya sambil mengunyah.
"Iya, di sini mahal sekali. Aku akan ke luar kota untuk mencari pemasok yang cocok." Aldo duduk di samping istrinya.
"Kenapa harus mencari jauh-jauh mas, Kau hubungi kak Rey saja. Keluarga kami memiliki banyak aset perkebunan, Kopi, Cengkeh, Karet, Durian, Merica, Petai dan Jengkol saja ada mas!" Reva tertawa menyebutkan jenis yang terakhir.
"Benarkah, Itu banyak sekali. Siapa yang mengelolanya?" Tanyanya, dia ikut makan jagung bakar bersama istrinya.
"Pamanku, jika kau mau kau bisa mengambil alih sebagiannya mas dari pada kau membeli ditempat yang jauh. Jika punya sendiri kualitasnya bisa kau atur sendiri." Jelasnya lagi. Aldo mengangguk-angguk. "Jadi sebenarnya aku lebih suka kau berhenti bekerja dengan pak Hartawan." Reva mengucapkannya pelan sekali.
Aldo jadi menoleh mendengarnya. "Apa karena Bella sayang?" Aldo meletakkan jagung lalu meraih bahu istrinya.
"Iya." Jawabnya singkat.
Aldo memeluknya erat sekali."Baiklah, jika kau tak suka aku akan melepaskan pekerjaanku." Dia mencium pucuk kepala istrinya. "Asalkan kau benar-benar mencintaiku." sambungnya lagi.
"Tentu saja mas. Kau tau diluar sana banyak wanita yang sedang berjuang untuk mendapatkan cinta seorang lelaki, bahkan seorang istri harus berlelah-lelah menarik perhatian seorang suami. Mereka melakukan itu karena mereka tak yakin akan cinta suaminya. Sedangkan aku sudah mendapatkannya mas, hanya tinggal menerimanya saja. Dan aku harap cintamu itu tidak berubah."
"Tidak mungkin berubah sayang, tak ada alasan untuk itu." Itu terdengar pasti.
"Laki-laki akan di uji dalam banyak fase, salah satunya setelah istrinya melahirkan. Tubuhnya akan berubah dan tidak cantik lagi, jangankan berdandan makanpun tak sempat kenyang. Sangat lelah mengurus anak-anak. Apa kau siap dengan hal itu?" Tak seperti biasanya, Reva bicara banyak malam ini.
"Aku sudah sangat siap sayang. Bahkan aku ingin cepat-cepat punya anak darimu. Jujur saja aku berdoa semoga bulan depan aku sudah mendapatkannya." Aldo menciumi pipi mulus kesukaannya.
"Buru-buru sekali Doamu itu mas, aku bahkan belum puas menikmati waktu berdua." Reva bercanda sambil mendongak manja.
"Kalau begitu aku akan memuaskanmu. Sebanyak yang kau mau sayang" Bisiknya tepat di telinga istrinya.
"Kamu mesum mas." Reva Tersenyum memeluk suaminya erat sekali.
__ADS_1
"Hanya padamu. Karena kau milikku sayang, hanya milikku." Begitulah ungkapan egois itu selalu ia katakan. Dan itu sangat berhasil merayu dan memainkan hatinya seperti tujuan awal " Membuatmu jatuh cinta hingga merengek tak mau jauh dariku." Ucapnya di dalam hati.