Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
91. Bahagia


__ADS_3

Hari Sabtu itu Aldo dan Rey sengaja janjian untuk datang ke perkebunan milik mereka, meskipun di rawat dan di kelola oleh orang yang mereka percayai, tapi hasil panen mereka berbeda-beda, sebagian segera di jual dan sebagian yang di kelola Aldo akan di bawa ke Cafe untuk di gunakan sebagai bahan minuman, tentu sebagai ciri khas Cafe mereka.


"Ini uang istrimu." Rey memberikan uang cash pada Aldo.


"Berikan saja pada ibu kak, Kopi yang ku pegang saja sudah cukup. Lagi pula dia banyak sumber penghasilan yang lain, aku sedang membantunya di perusahaan, kami sedang kebanjiran projek baru." Aldo tak mengambil uangnya.


"Tapi kau belum memberitahunya?" Rey masih memegang uangnya.


"Dia tak akan keberatan, aku yakin sekali." Aldo meyakinkan.


"Baiklah, jika itu yang kau mau, nanti aku akan berikan." Rey memang akan kembali ke rumah ibu, mengingat Alisa masih di sana.


"Itu berat sekali, yakin kau akan membawanya?" Rey melihat karung yang lumayan besar dengan jumlah yang banyak.


"Aku rasa tidak, nanti akan ada yang mengambilnya." Aldo menghitung jumlahnya.


"Kalau begitu kita pulang, hari sudah siang dan Alisa sudah meneleponku." Rey melihat ponselnya ada dua panggilan terlewatkan.


"Ku kira hanya aku yang mengalami bucin akut." Aldo menggoda kakak iparnya.


"Aku juga, tapi ku sembunyikan. Istriku itu tidak suka di rayu, dia suka diperlakukan lembut dan membuatnya nyaman." Rey bercerita sambil berjalan menuju mobil.


"Semua wanita kurasa menyukai itu. Tapi sungguh aku beruntung memiliki adikmu, dia benar-benar membuatku tidak bisa jauh." Aldo melihat ke depan dan tersenyum.


"Aku senang kau selalu membuat adikku bahagia. Teruslah begitu, aku akan membantumu berbaikan dengan Dev. Tidak baik jika berselisih dengan temanmu sendiri, dia temanku juga." Rey menoleh adik iparnya.


"Aku tau kak, tapi sungguh aku tak mendapat celah untuk berbaikan dengannya, hari itu dia benar-benar marah padaku." Aldo bercerita seolah kembali ke hari dimana mereka berselisih.


"Aku tau, kalau aku ada di sana aku juga akan marah." Rey meliriknya, berdiri sejenak di depan mobil mereka.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud begitu, aku sangat takut Reva menderita, dia kedinginan di dalam sana dengan perut yang besar, dia mengeluh setiap hari punggungnya pegal, dia sedang mengandung anakku." Aldo menunduk.


"Ya, semua sudah berlalu." Rey masuk ke dalam mobil lebih dulu kemudian diikuti Aldo duduk di sebelahnya.


"Kita langsung pulang atau makan dulu?" Aldo takut kakak iparnya kelaparan seperti waktu dulu.


"Kita pulang saja, lagi pula aku makan dahulu sebelum pergi." Rey yang mengemudi kali ini.


"Nanti malam kami berkumpul di Cafe, kakak datang saja mereka teman-teman ku ada Anggara juga." Aldo memberitahu.


"Oh, aku pasti datang, aku bahkan belum bertemu dengannya sejak Reva di bebaskan." Rey terlihat bersemangat, tapi kemudian dia terlihat berpikir. "Rasanya aku akan mengajak Dev juga." Rey menoleh.


"Boleh juga." Aldo mengangguk-angguk.


Sementara di rumah, Reva sedang bosan menunggu sendirian, dia duduk menonton di ruang keluarga. Tangannya tak bisa diam memegang remote control TV, tampak gelisah berbalik ke sana sini.


"Mas Aldo lama sekali bi." Ucapnya gelisah.


"Baru juga berapa jam non, kan jauh! Ni makan kentang goreng dulu biar ga bosan." Bi Tuti meletakkan piring lebar itu di atas meja.


"Enak bi." Reva kembali mengambil saos dan mulai menikmati kentang goreng.


"Siapa dulu yang bikin." Ucap bibi bangga. "Mau buah ga non?" Bibi menawarkan, dia akan kembali ke dapur mengambil air putih untuk Reva.


"Boleh bi, sama bumbu rujaknya masih ada bi?" Reva melihat bi Tuti.


"Ada, kalo yang itu selalu ada." Jawabnya tersenyum bangga.


Tak butuh waktu lama wanita Empat puluhan itu sudah membawa makanan yang di minta majikannya. Dia selalu bisa di andalkan untuk menemani dan menghiburnya. Hingga satu jam dia di sibukkan dengan makanan dan ocehan bibi yang tak ada habisnya dan akhirnya dia tertidur di sofa.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum melihat majikannya sudah terlelap dengan perut yang sudah kenyang. Menyelimutinya sebatas dada dan memastikan posisinya nyaman. Hingga sore hari Aldo pulang seperti biasa ia masuk dengan langkah yang sangat cepat.


Namun langkahnya berhenti menyaksikan istri tercintanya tidur nyenyak di sofa. Aldo mendekat, menatap wajah yang lebih berisi itu dengan penuh kasih sayang. Sejenak lalu meninggalkannya mandi terlebih dahulu. Mandi kilat yang biasa dia lakukan jika ingin segera bersama Reva, tak perlu lama dia sudah kembali duduk di dekat istrinya. Dengan kopi hangat yang di sediakan bi Tuti, Aldo duduk menyandar menghabiskan kentang goreng sisa istrinya.


"Mas." Reva terbangun dan langsung menatap pria di ujung kakinya dengan heran.


"Sudah bangun sayang." Aldo membantunya menyandar, memeluknya hangat dan mengecup keningnya juga pipinya.


"Apa sudah lama?" Tanyanya lagi, tangan itu memeluk tak mau jauh.


"Belum sayang, bahkan aku belum makan." Aldo membiarkan istrinya bermanja.


"Kita makan bersama mas?" Aku juga ingin makan bersamamu." Wajah cantik itu menengadah seperti bunga yang mekar mendapatkan hujan, Aldo menyukai itu bahkan ingin selalu seperti itu. Sungguh hatinya terasa hangat dan bahagia melihat wajah yang selalu meminta untuk di manjanya.


"Tapi rasanya laparku sudah hilang, aku sedang ingin memakanmu." Aldo menggodanya, sedikit mencubit hidung kecil yang meruncing itu, terlihat sangat menggemaskan.


"Aku akan selalu siap menjadi santapanmu." Reva membalas candaannya, mengukir tawa di wajah tampan yang selalu ada di hatinya, tak mampu jauh walaupun sebentar saja.


"Benarkah, apa sekarang saja?" Aldo mengeratkan pelukannya, mengadu keningnya hingga menyatu. Wangi nafas itu selalu membuatnya tak menentu.


"Aku mau yang lama." Reva mengatakannya setengah berbisik, mata indah itu terlihat berkedip.


"Tentu saja sayang." Aldo memeluknya semakin gemas, sore hari yang cerah, badan letih tak merasa lelah, sungguh hanya bercanda dengannya sudah membuat bahagia. Tangan yang tak lupa mengusap di mana calon anaknya berada, indahnya lagi yang di dalam sana juga ikut merasa sedang bercanda. Berkali-kali si kecil yang belum punya nama itu menunjukkan kepiawaiannya, berkali-kali membuat ibunya meringis karena tendangan kecil yang di buatnya.


"Dia kuat sekali?" Aldo terheran merasainya.


"Iya, rasanya ngilu mas, seperti sedang di tarik." Reva sedikit meringis, semakin Aldo mengusap bagian itu semakin sering pula tendangan kecil itu di perlihatkan.


"Sayang sudah ya, nanti kalau sudah besar, kita main bersama." Aldo bicara pada yang ada di dalam sana. "Kasihan ibu nak, sampai meringis begitu." Aldo kembali menempelkan pipinya.

__ADS_1


__ADS_2