Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
176. Bebek bakar


__ADS_3

"Kau dari mana Erita?" tanya Aji setelah Erita masuk ke rumahnya.


"Aku dari rumah temanku dulu kak." jawabnya ragu-ragu, ia tak berani menatap wajah Aji yang menatap tajam padanya.


"Kau tidak bisa berbohong, katakanlah kau darimana saja?" Aji mendekat dan terus memperhatikan gerak-gerik adiknya.


Erita tak berani bergerak, ia juga tak pandai berbohong, apakah ini adalah waktunya untuk mengatakan pada Aji atas semua yang sudah ia alami, tapi ia tak mau Aji dan Adi bertengkar, sudah pasti kakaknya akan mengamuk jika sampai ia tahu semuanya.


"Kau pulang diantar Adi?" tanya Aji lagi.


Erita ragu untuk menjawabnya, namun akhirnya ia harus mengaku. "Iya!" jawabnya menunduk.


"Kau menyukainya?" tanya Aji masih menatap tajam pada Erita.


Semakin bingung Erita mendengarnya, gadis itu sungguh-sungguh tidak tau harus menjawab apa.


"Jujur saja, aku hanya ingin kau jujur dan tidak takut padaku." jawab Aji mendekati Erita.


"Aku tidak menyukainya, tapi dia terus berusaha mendekatiku." jawabnya pelan, tak sanggup ia mengatakan yang sebenarnya.


"Mengapa kau ikut dan menurut jika tak suka? Ku rasa kau juga menyukainya." jelas Aji menatap wajah Erita yang masih menunduk.


Hati gadis itu menjadi kacau, tapi berusaha menutupinya.


"Aku tidak melarang, tapi aku takut jika dia hanya bermain-main denganmu. Kau masih terlalu polos Erita." Aji menasehatinya.


"Maaf Kak."


"Tidurlah." perintah Aji padanya.


Erita berlalu masuk ke dalam kamarnya, dia menjadi semakin merasa bersalah pada Aji, dia sudah berbohong.


Sejak saat hari itu, Adi lebih sopan dan menunjukkan sikap baiknya pada Erita, pria itu juga sedang bersungguh-sungguh bekerja, hingga lupa waktu, lembur dan lembur. Bahkan dia terlihat jarang pulang ke rumah, tidur dan mandi di Cafe seperti dulu saat ia masih sendiri sebelum di bantu Aji.


"Kenapa tidak pulang?" tanya Aji pada rekan kerjanya.


"Sedang ingin bekerja mencari uang tambahan untuk menikah." jawab Adi tersenyum manis seperti biasa.


"Itu bagus." jawab Adi.

__ADS_1


"Tapi wanita yang akan ku jadikan istri belum mau, aku malah di tolak berkali-kali." Adi menunduk memikirkan ucapannya sendiri, tersenyum pahit dan menarik nafas.


Aji jadi memikirkan Erita, apa yang ia maksud adalah adiknya?


"Apa aku terlalu buruk untuk menikah dan menjalani hidup bahagia bersama seorang gadis baik-baik?" tanya Adi tiba-tiba.


"Aku hanya manusia, tidak bisa menilaimu Adi." Aji memang selalu begitu, tak mau mengucapkan pendapat apalagi tentang seseorang.


"Kau ini, aku butuh penilaianmu." ucap Adi lagi.


"Kau sangat baik, hanya kau sedang kusut!" kali ini Aji bercanda.


"Benar." jawabnya singkat, dia tertawa.


Erita melewati mereka di pagi itu, melirik sekilas pada Aji yang juga melihatnya, tapi juga Adi yang melihat Erita tak berkedip hingga gadis itu berlalu tak terlihat lagi.


Rasa rindunya yang tak tertahankan pada Erita membuat Adi segera menyusul gadis itu ke dapur. Ia sudah tak peduli dengan Aji atau siapapun, yang sedang ia pikirkan adalah segera menikah dengan Erita. Kejadian sore itu benar-benar membuat Adi semakin kusut karena selalu mengingatnya.


"Erita!" panggilnya pelan, mendekat dan tersenyum.


"Aku harus bekerja." jawab Erita halus, dia tak lagi marah-marah, tapi tetap tidak suka jika terlihat terlalu dekat.


Erita tak lagi menjawab, tangannya sibuk menyiapkan piring di meja besar itu.


"Nanti sore kita jalan-jalan, apa kau mau?" tanya Adi serba salah, ia selalu saja gugup jika bicara dengan Erita.


"Aku tidak tahu." jawab Erita tidak menoleh.


"Aku ingin makan bebek panggang, sudah dua hari aku memikirkannya." Adi bercerita seakan itu adalah makanan yang sangat enak.


Erita berhenti sejenak, wajah imutnya tampak berpikir.


"Apa tempatnya jauh?" tanya gadis itu menoleh.


"Tidak juga, jika kita memutar sekitar empat puluh menit, tapi jika lewat jalan raya tiga puluh lima menit jika tidak macet." jawab pria itu senang sekali.


"Itu jauh." Erita kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Kita pergi jam Dua." Adi masih berusaha membujuknya.

__ADS_1


Erita kembali berpikir, dia juga ingin sekali makan bebek panggang dengan bumbu pedas manis, dan seketika air liurnya ingin keluar.


"Aku mau." jawabnya cepat.


Adi bernafas lega, jawaban itu membuatnya sangat bahagia.


Satu bulan sudah Adi berjuang menaklukkan hati Erita semenjak hari itu, dan sore ini dia akan mengulangi lamarannya, dia tak akan menyerah. Adi menunggunya di depan Cafe seperti biasa, dia begitu senang karena gadis itu naik dan duduk sendiri di dalam mobilnya, tanpa di paksa atau di bujuk olehnya.


Tiba di Restoran besar bernuansa klasik itu, bangunan sudah berumur namun kualitas dan keramaiannya masih tak berkurang. Adi segera mengajak Erita masuk dan memesan bebek panggang yang mereka inginkan.


"Mau minum apa sayang." tanya Adi begitu mesra.


"Jus lemon tanpa gula, atau gulanya sedikit saja." jawab Erita semakin menyenangkan hati Adi.


"Sedang mengidam ya mbak?" tanya pegawai itu dengan tersenyum ramah mencatat pesanannya.


"Hah?" Erita menatap heran.


"Biasanya jus lemon tanpa gula itu pesanan ibu-ibu hamil muda yang sering mual setelah makan." jelasnya lagi dengan tersenyum, lalu undur diri membawa catatan.


Erita masih melongo menatap punggung pelayan Restoran itu, lalu berganti menatap Adi. Tangan kecilnya memegang perut dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Apa yang membuatmu takut, bukankah aku di sini, masih mengejarmu, mengharapkan mu dengan sabar." Adi meraih tangan Erita dan menggenggamnya.


"Kau jahat sekali." ucapnya pelan, air matanya tak terbendung lagi.


"Jangan menangis, aku bahkan tak bisa tidur nyenyak karena terlalu menginginkan anak itu." Adi meyakinkannya, mendekat dan ikut meraba perut yang masih rata.


"Aku_" ucapnya dalam isak tangis.


"Kita harus menikah dan menjadi keluarga seutuhnya. Aku tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu, aku hanya akan menjadi suami dan ayah untuk anak kita." rayunya lembut sekali.


"Aku rasa aku benar-benar hamil, aku tidak mendapat tamu bulanan Minggu ini." jawabnya terdengar sedih.


"Iya, aku tahu sayang, aku tak pernah melepaskan mu. Mulai sekarang jangan menolakku lagi, aku akan melamarmu secara baik-baik." pinta Adi membelai wajah Erita.


Erita tak menjawab, entah mengapa belaian pria itu menjadi hangat dan nyaman saat ini, hatinya ingin selalu merasakannya.


"Makan yang banyak ya." Adi mendekatkan hidangan bebek dan sambal hijau menggoda ke hadapan Erita,benar saja gadis itu melupakan air matanya dan mulai meraih paha bebek dengan segera.

__ADS_1


"Kau benar-benar hamil sayang." ucap Adi dengan senyum bangga.


__ADS_2