
Tiba di rumah Aldo, kedua mobil itu parkir di halaman, Rey ikut masuk kedalam rumah karena dia juga lelah dan butuh duduk sebentar.
"Mana istrimu?" Rey melihat rumah sepi sekali.
"Dia sudah tidur kak, tadi aku pulang terlebih dahulu." Aldo duduk menyandar dengan kepala menengadah ke atas.
"Lain kali kau tidak usah mengajak istrimu jika akan bertemu dengan Dev." Rey mengingat kejadian saat di Cafe.
"Aku tidak mungkin meninggalkan istriku jika dia ingin ikut, lagi pula tidak ada pertemuan lagi, aku sudah muak dengan dirinya." Aldo merasa kesal.
Rey diam tak menjawab, hingga beberapa saat kedua orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Ucap Rey kemudian.
"Aku rasa tidak jauh beda dengan yang kakak pikirkan." Aldo menatap wajah kakak iparnya.
Rey tertawa kecil, "Aku jadi bingung sendiri." Ungkapnya.
"Aku malas memikirkannya." Aldo mengambil rokok di atas meja lalu menyalakannya.
"Kau merokok?" Rey menatapnya dengan heran, karena baru kali ini dia melihat adik iparnya merokok.
"Jika sedang jenuh." Jawabnya mulai menghisap rokok.
"Aku juga begitu, rasanya malam ini juga membuatku jenuh." Rey mengambil rokok dan ikut menyalakan juga.
"Mas." Suara Reva terdengar memanggilnya dari atas, wanita itu perlahan menuruni tangga.
"Sayang kau bangun." Aldo segera mematikan rokoknya dengan terburu-buru.
"Sejak kapan kau merokok?" Reva menatapnya penuh selidik, bergantian dengan Rey yang masih terlihat santai menghisap rokoknya.
"Hanya iseng melihat kakak meletakkan rokoknya." Aldo berkilah.
"Kenapa kakak di sini?" Reva menatap tajam Rey juga.
"Aku hanya mampir, ini juga akan segera pulang." Rey beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Bukankah tadi akan menginap?" Aldo mencoba menghentikan Rey yang ingin segera kabur.
"Alisa akan heboh jika aku tidak pulang." Rey segera berlalu tanpa menoleh. Dia sudah bisa menebak yang akan terjadi, wanita hamil itu akan marah dan merajuk. Kasihan sekali adik iparnya itu, di luar habis berkelahi di rumah juga di marahi istri.
"Sayang Ayo tidur lagi." Aldo merangkul dan merayunya.
"Mas!" Suara itu terdengar marah.
"Iya sayang." Aldo memeluknya sambil mengajaknya naik ke atas, masuk ke dalam kamar dengan tak henti mencium dan mengecup pipinya dengan mesra. Tak memberi waktu untuk bicara hingga istrinya lupa dan tertidur lelah.
Tapi berbeda di tempat lain, pria itu kembali duduk sendiri di taman yang tak begitu jauh dari rumahnya, taman tempat ia sering berjanji temu dengan wanita yang saat ini sedang mengacaukan hatinya. Dulu itu pertemuan singkatpun akan menjadi prioritasnya jauh berbalik saat ini dia duduk sendiri dengan hati yang kesal dan marah.
"Kau datang lagi?" Wanita yang pernah mengajaknya mengobrol waktu itu datang mendekat.
"Pergilah, aku sedang ingin sendiri." Dev malas melihat wajahnya.
"Aku juga sedang ingin sendiri, kau saja yang terlalu percaya diri dengan kehadiranku di sini." Wanita itu duduk di pinggiran pot bunga besar tak jauh darinya.
Hening.
"Mau kemana?" Dev melihat sekilas.
"Pulang." Jawab gadis itu singkat, melanjutkan langkahnya.
"Kau pulang kemana?" Dev terlihat sedikit penasaran.
"Aku menginap di hotel itu, dua hari lagi aku akan kembali." Jawabnya menoleh.
"Kembali ke mana?" Dev melanjutkan pertanyaannya.
"Di pelosok yang butuh waktu beberapa jam dari sini." Jawabnya tersenyum.
"Siapa namamu?" Dev menatap gadis itu dari wajah hingga kaki, tubuh yang berisi berbalut gaun selutut berwarna merah hati.
"Rena." Jawabnya masih dengan wajah tenang, seulas senyum penuh arti tergambar di bibirnya, tak ada ke khawatiran berkenalan dengan orang baru.
__ADS_1
"Baiklah, nomor ponselmu." Pinta Dev lagi, semakin membuat wanita itu kegirangan. Segera mengetik nomor di ponsel yang sudah di sodorkan Dev padanya.
Wanita itu berlalu dengan hati yang berbunga-bunga, masuk ke hotel tempat dia menginap dan tentu tidur santai sambil menunggu ponselnya berdering. Dev hanya menatapnya tersenyum sinis, menyimpan ponselnya kembali dan beranjak meninggalkan taman.
***
"David apa mereka tidak akan ribut?" Ayu masih penasaran setelah sampai di rumah keduanya membicarakan Reva dan Aldo.
"Tidak, kau percaya saja pada mereka." David baru saja keluar dari kamar mandi membersihkan diri.
"Aku hanya khawatir, kasihan juga kakak iparku itu sampai kena pukul." Ayu masih berpikir.
"Kau tidak tau saja jika dia sedang berkelahi, lawan satu akan sangat enteng baginya. Bersyukur jika hanya pingsan, kebanyakan harus dirawat di rumah sakit cukup lama." David tertawa.
"Benarkah? Tapi memang terlihat dari caranya, matanya itu bisa membaca situasi, tingkahnya juga terlihat cerdik." Ayu menyandar, punggungnya pegal tak bertemu kasur dari sore tadi.
"Yang penting dia setia pada kakakmu itu, dia tidak akan macam-macam. Pacaran saja dia tak pernah." Ucap David lagi.
"Berbeda dengan dirimu, mantan pacarmu saja kau bawa kemari!" Ayu menyerang David dengan kata-kata, mata sipit itu terlihat tajam.
"Dia bukan pacarku, hanya teman mengobrol saja." David menjelaskannya pada Ayu.
"Itu katamu, laki-laki kalau berbicara di depan istri, katanya mantan bukanlah berarti, tidak sedekat itu, tidak istimewa, bukan apa-apa, dan tak ada yang lebih istimewa dari istrinya. Padahal kenyataannya dia pernah patah hati karena mantannya. Itu terdengar sudah biasa!" Ayu mendekatkan wajahnya dengan suara yang lebih tinggi.
"Kau paham sekali?" David menatap heran pada istrinya.
"Dasar buaya darat. Pergi dari tempat tidurku, aku tidak mau tidur denganmu." Ayu melempar bantal pada David dengan kesal sekali.
"Sayang jangan begitu aku benar-benar tidak berpacaran dengannya, dia hanya teman dan iya dia memang menyukaiku." David mencoba membujuk Ayu, berharap dia tak mengusirnya dari kasur, sungguh itu sangat berbahaya.
"Aku tidak peduli, mau teman atau mantan aku tetap tidak suka." Ayu menyingkirkan tangan David, menarik selimut dan segera menutup seluruh tubuhnya.
"Sayang jangan begitu." David masih memohon, mencoba menarik selimut yang di pakai Ayu, tapi mendapat penolakan lagi, hingga beberapa kali ia mencoba merayu, tapi malang Ayu tak bergeming. Hingga larut malam akhirnya David tidur dengan meringkuk memandangi istrinya tak berani menyentuh.
Rugi sekali malam Minggu yang panjang itu harus terlewatkan dengan pertengkaran kecil, malam yang selalu di habiskan David dengan penuh kemesraan bersama Ayu kini berubah menjadi malam yang beku, tidur meringkuk bahkan selimutnya habis di pakai Ayu. "Ini gara-gara Adi." David bergumam sendiri.
__ADS_1
Ayu mengintip dari selimut yang sedikit terbuka, bibirnya tertarik tersenyum menyaksikan suaminya tidur dengan wajah gusar dan terlihat menyedihkan. Sungguh di dalam hatinya dia ingin tertawa, sekali-kali memberinya pelajaran agar dia tahu rasa.