Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
20. Alisa


__ADS_3

"Dev..!!" Rey memanggilnya tapi tidak didengar, membuat Rey bingung sendiri. Rey penasaran dengan apa yang membuat temannya itu pergi meninggalkan ruangan ini, bukan kah seharusnya dia masuk melihat keadaan adiknya.


Rey berjalan di depan Kamar dimana Reva di rawat. Pintunya tidak di tutup sehingga Rey bisa melihat dengan jelas Aldo memegang tangan lebih tepatnya ketiga ujung jari. Aldo mengelus jari adiknya, matanya menatap Reva dengan penuh perhatian.


Rey mendekati pintu ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Cepatlah sembuh." Ucapnya terdengar lembut.


Reva hanya menatap matanya tak bicara apapun karena memang masih sangat lemah.


"Kalau kau sakit aku akan merindukan mu.." Ucapnya lagi.


"Kau juga harus bahagia, kalau kau sedih aku jadi merindukan mu." Aldo masih dengan senyumnya.


"Jika kau bahagia, aku akan semakin merindukanmu." tambahnya lagi tak henti menatap mata teduh gadisnya sambil tersenyum.


Akhirnya Reva tersenyum sedikit memejamkan matanya. "Apa ... ada pilihan?" Tanya Reva dengan suara pelan sekali.


"Untuk mu tidak ada, hanya ada itu. Aku selalu merindukanmu."


Reva sedikit tertawa meskipun lemah.


"Ternyata begitu caranya menaklukkan hati adik ku!!" Rey geleng -geleng di buatnya. Rey meninggalkan mereka dan mencari Dev di luar.


Tampak Dev duduk melamun di taman rumah sakit. Menatap langit dengan sejuta kegalauan.


"Kau baik-baik saja?" Rey menepuk pundak sahabatnya.


"Aku tak apa-apa." Jawabnya.


"Kalau masih demam lebih baik kau istirahat, aku minta kamar rawat saja untuk mu!!"


"Tidak, mungkin sebaiknya aku pulang kerumah, biarlah nanti aku minta obat dari dokter."


"Aku antar." Ucap Rey.


***


Ayu baru saja datang dan langsung masuk menemui Reva


"Dari mana?" Ucap Reva padanya.


"Aku habis mengurus pak Kirman, dia terpental karena kakak menabraknya." Ayu duduk didekat Reva.


"Bagai mana keadaannya?" Reva sangat khawatir.

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa, hanya lecet sedikit dan pinggangnya sakit. Karena sudah tua. " Ucapnya tanpa dosa.


Aldo hanya diam saja tak menyahut.


"Pantas saja kau jinak, tangan mu sedang di pegang kakakku!" Ayu kembali memasang wajah datarnya.


Reva melepaskan jarinya dari tangan Aldo, pipinya memerah tak sadar jika selama ia bicara tangannya di genggam pria di sampingnya. Entahlah, setiap di dekatnya dia merasa aman, merasa begitu sangat dicintai. Seperti di dunia ini tak ada masalah apapun hanya ada dia, dia dan dia. Padahal sebelumnya hati Reva sangat kacau hingga membuatnya kecelakaan.


"Apakah itu yang dinamakan tulang rusuk dan pemiliknya?" batin Reva, "Sepertinya aku sudah lelah dengan semua ini, jika memang Pria di sampingku ini adalah imam ku, aku mau ya Allah, aku akan terima." Reva


menatap wajah tampan di sampingnya, sepertinya damai sekali menatap wajah yang selalu memandangnya penuh cinta.


"Ada apa?" Aldo melihat kekasihnya seperti memikirkan sesuatu.


"Tidak." Ucap Reva.


"Apa kau sudah jatuh cinta padaku?" Aldo menggodanya.


Membuat Reva tersenyum.


"Kau istirahatlah. Jangan memikirkan apa pun, aku akan menjaga mu di luar." Ucapnya lagi.


"Iya." Seperti biasa. Reva menjawabnya singkat.


Aldo tersenyum lalu keluar meninggalkan Reva dan Ayu.


"Dia memang selalu begitu." Ucap Reva sambil memejamkan mata.


"Tidur lah, aku akan menjaga Kakak disini." Ucap Ayu.


"Kau juga ."


"Iya."


***


"Rey, sekali lagi maaf." Ucap Dev menyesal.


"Tidak perlu merasa bersalah, aku rasa kau juga tidak ingin ini semua terjadi."


"Dan tentang Reva, kurasa dia memang menyukai temanmu itu." Sambung Rey sambil tersenyum.


"Kau melihatnya?" Dev menatap Wajah temannya.


"Iya."

__ADS_1


"Aldo juga sangat mencintainya. Aku rasa kau tau itu." Ucapnya sedih.


"Kau harus ikhlas, ini keinginan mu sendiri. Buatlah dirimu berguna untuk orang di sekeliling mu. Berhenti memikirkan yang membuatmu sedih, lagi pula Reva menurut keinginan mu, harusnya kau senang." Jelas Rey.


"Iya, aku akan mencobanya."


Tidak lama mereka sampai di rumah Dev, Rey kembali ke rumah sakit.


"Dari mana saja, aku dari tadi mencari mu!" Ucap Alisa, wajahnya cemberut.


"Aku mengantar Dev kerumahnya."


"Dari tadi pinggangku rasa nya mau patah, aku kelelahan, tapi kau malah tidak ada. Lagi pula untuk apa kau mengantarkan Dev, dia bisa pulang naik taksi, kau lupa gara-gara dia Reva jadi seperti ini." Alisa masih mengomel.


Rey tersenyum, setengah berlutut memegang tangan istrinya yang sedang duduk bersandar dengan perutnya yang besar.


"Sayang....maaf jika selama ini aku belum menjadi suami seperti yang kau inginkan." Ucapnya pelan.


"Ada apa denganmu?" Alisa heran menatap suaminya.


"Hari ini aku belajar banyak hal, aku belajar dari Dev yang mencintai adik ku dan rela melepaskannya meskipun harus melawan perasaannya sendiri. Artinya dia ingin melihat adik ku sehat dan bahagia, dan Aku belum tentu bisa melakukannya."


"Dan aku juga belajar dari pria itu," Rey menunjuk Aldo yang sedang memejamkan mata sambil duduk menyandar melipat tangan didadanya.


"Dia memperlakukan adik ku dengan manis sekali, membuat adik ku melupakan segala kesedihannya." Rey menunduk .


"Kau sudah banyak berkorban untukku, Agamamu, Ayah ibumu, Harta dan kedudukanmu, itu semua demi aku. Sedangkan aku? Apalah aku yang hanya seorang Praka, gaji ku saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanmu, bahkan nyawaku ini seperti tak ada artinya." Mata Rey mulai berkaca-kaca.


"Aku merasa belum bisa membahagiakanmu. maafkan aku, ... Terima kasih sudah mau menjadi istri ku, dan bersedia mengandung anak ku. Aku mencintai mu Dokter Alisa." Ungkapnya penuh haru.


"Aku juga sangat mencintaimu Rey, dari dulu hingga saat ini aku sangat sangat mencintai mu." Alisa menangis bahagia. Memeluk suami yang Teramat dia sayangi.


Keduanya menikmati pelukan hangat penuh cinta. Di dalam rumah tangga terkadang kita hanya mengingat apa yang kita korbankan, apa yang kita lakukan dan apa yang kita berikan, tapi kita lupa bahwa pasangan kita mungkin lebih banyak mengalah dan berkorban perasaan, sungguh egois sekali.


"Aduhh.... Rey..!!! Perut ku sakit lagi!" Alisa melonggarkan pelukannya.


"Yang mana sayang?" Rey memegang bagian depan perut istrinya.


"Seperti nya aku bukan kelelahan, tapi akan melahirkan Rey!" Alisa mulai kesulitan menahan rasa sakit.


"Baiklah, tunggu sebentar sayang." Rey berlari kecil menuju Ruangan Dokter yang berjaga malam itu. Tak lama kemudian dia datang bersama Dokter dan suster.


"Baringkan pak, kita keruangan bersalin." Ucap Dokternya. Rey pun ikut mendampingi.


Aldo terbangun dari tidur singkatnya, melihat kesana kemari, kenapa sepi sekali.

__ADS_1


Dia beranjak membuka pintu kamar dimana Reva berada, ternyata Ibu dan Ayu yang menemani kekasihnya, mereka semua sedang tertidur.


"Apa tadi aku sedang bermimpi?" Gumamnya menoleh kanan dan ke kiri.


__ADS_2