Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
100. Wanita yang baik


__ADS_3

Menjelang sore hari, Cafe masih ramai pengunjung meskipun tidak membeludak seperti tadi siang. Aldo sudah bersiap untuk pulang. Begitu juga David dan Ayu, David sudah memakai jasnya, menggenggam tangan kecil itu menuju mobilnya.


"Adi, kau berikan bonus hari ini untuk semua yang sudah bekerja, pulangkan pegawai yang masuk pagi lebih awal, mereka semua kelelahan." Aldo bicara sambil menunjuk para pegawai yang sebagiannya sedang duduk beristirahat.


"Baik pak, mereka senang bekerja di akhir pekan karena ramai pengunjung, selain dapat bonus terkadang mendapat tips juga." Jawab Adi.


"Baguslah, beri mereka semangat. Dan kau juga jangan lupa istirahat, jika merasa lelah kau pulang saja, tutup Cafe lebih awal." Aldo menatap wajah Adi.


"Apa tidak ada orang kepercayaan anda yang bisa membantuku bekerja, karena sayang sekali jika ditutup walau hanya satu jam lebih awal." Adi terlihat ragu-ragu.


"Itu, aku sedang mencarinya, mungkin Minggu ini sudah ada." Aldo menepuk pundak Adi, Sepertinya Adi juga sedang kelelahan, beruntung dia tidak memiliki istri, jika tidak itu juga akan menjadi masalah.


"Bos kita baik sekali." Wanita yang berkulit putih itu mendekati Adi.


"Iya." Adi menoleh sekilas.


"Istrinya sedang mengandung itu kan, yang kemarin diributkan dengan pria yang memukulnya?" Tanya gadis itu lagi.


"Wanita yang baik memang akan selalu jadi rebutan, jika ingin dilirik banyak pria baik, jadilah wanita yang baik." Adi tersenyum menatap rekan kerjanya itu, dia cantik tapi tak punya kekasih. Dulu dia adalah wanita yang pernah dekat dengan David saat masih SMA.


"Apa aku kurang baik?" Jawabnya tersenyum. "Tapi memang benar, hatiku sedang tidak baik." Ucapnya lagi.


"Kau masih mencintai kakak ku?" Adi menggodanya.


"Dia semakin tampan saja, bagai mana aku bisa berhenti memikirkannya?" Dia duduk dan terlihat pasrah.


Adi tertawa, lucu sekali melihat teman sekampungnya itu, sungguh cintanya sudah terlambat. "Sabar ya Ki, siapa tau jodohmu sedang di jalan menuju kemari." Adi semakin membuatnya merajuk.


"Sedang jalan kaki dari Merauke begitu?" Jawabnya kesal.


"Itu terlalu jauh Ki, kapan sampainya?" Adi terkekeh mendengarnya.


"Nah itu tau." Kiki meninggalkannya.


Sedangkan Aldo baru saja sampai di rumah, seperti biasa dia akan masuk dengan terburu-buru.


"Mas Al!" Sungguh teriakan itu membuatnya kesal harus berhenti melangkah.


"Ada apa bi?" Jawabnya menoleh.

__ADS_1


"Non Reva lagi di belakang." Ucapnya ragu-ragu.


Aldo berbalik menuju halaman belakang, melihat istrinya sedang menanam sayur di dalam polibag di bantu satpam di rumahnya.


"Sayang." Aldo mendekatinya, melihat tangan istrinya kotor dengan sisa tanah di jarinya.


"Mas, aku menanam sayur." Ucapnya, wajah itu tampak berseri-seri.


"Untuk apa sayang, kan bibi bisa membelinya." Aldo merengkuh tubuh gendut itu dalam pelukannya.


"Kalau beli banyak pestisidanya mas, aku butuh banyak sayur setelah melahirkan." Jawabnya polos.


"Biar bibi saja yang menanamnya sama Pak Anton." Aldo terlihat tidak suka melihat sedikit keringat sudah membasahi kening istri tercintanya.


"Tapi_"


"Besok lagi sayang." Aldo merayunya, segera mengajaknya naik keatas.


"Mas, tadi ibu menghubungiku, katanya ingin menginap disini." Reva melepas hijabnya yang sudah bau keringat.


"Tidak apa-apa sayang, apalagi nanti setelah dekat hari lahiranmu ibu harus lebih banyak menghabiskan waktu di sini." Aldo membuka jasnya juga.


"Apa?" Aldo jadi penasaran, ikut duduk di samping istrinya.


"Entahlah mas, aku belum tahu." Reva menunduk, tangannya bertaut dia sedang khawatir.


Aldo menggenggam tangan lentik itu, dengan satu tangan memeluknya. Mencoba menenangkan hati istrinya, sungguh dia takut kejadian yang lalu kembali terulang karena hatinya terlalu cemas.


"Nanti kita tanyakan ibu, kau tidak usah khawatir sayang. Ada aku yang selalu bersamamu, aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu juga pada keluarga kita." Aldo meyakinkan dan menghiburnya.


"Iya mas." Jawabnya pelan.


"Ayo kita mandi, istriku asem sekali." Aldo menggodanya istrinya, sedikit mendekatkan hidungnya di leher yang di tutup rambut itu.


"Benarkah?" Reva meraih kerah bajunya, mendekatkan ke hidung yang mancung itu lalu ia tersenyum. "Mas mengerjaiku." Ucapnya manja.


"Aku hanya rindu padamu, ayo kita mandi sayang." Aldo meraih tangan yang masih kotor itu, tentu saja dia tak akan menolak.


Beberapa saat kemudian mereka sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan sejuk. Rambut panjang itu tergerai basah sekali.

__ADS_1


"Sini biar aku yang mengeringkan rambutmu." Aldo memegang hair dryer dan mengeringkan rambut istrinya dengan sabar.


"Sudah mas." Reva memegangi rambutnya yang dia rasa sudah cukup kering.


Aldo tersenyum manis melihat bayangan istrinya di dalam kaca, wanita yang perutnya semakin membesar itu begitu membuat Aldo bahagia. Wajah polos tak banyak tingkah, sangat menurut dan begitu manja membuat pikiran Aldo kacau jika berada jauh darinya.


"Non." Suara bibi di luar kamar terdengar sedang memanggil.


"Sepertinya ibu sudah sampai mas." Reva berdiri segera mengganti pakaiannya dengan dress yang panjang dan segera turun menemui ibu.


"Ibu." Reva menyapanya dan langsung memeluk ibu.


"Sayang, maaf ibu mengganggu kalian." Ibu melihat Aldo juga sedang mendekat selalu mendampingi anak gadis kesayangan ibu.


"Tidak Bu, kami tidak merasa terganggu." Reva menenangkan ibu yang terlihat gugup.


"Justru aku sedang berpikir untuk meminta ibu tinggal di sini, Reva sedang hamil besar Bu." Aldo ikut menimpali.


"Apa ibu baik-baik saja?" Tanya Reva pelan sekali.


"Sebenarnya ibu sedang memikirkan kakakmu. Tadi dia bilang akan ke London dalam waktu dekat, orang tua Alisa sedang ada di sana. Ibu takut terjadi sesuatu dengan kakakmu, juga dengan pernikahan mereka." Ungkap ibu, dia terlihat tegang dan sedih.


"Kenapa ibu khawatir?" Aldo bingung mendengar ungkapan ibu.


"Orang tua Alisa masih belum memberikan restu. Mereka hanya menginginkan Alisa dan Ayra, tapi tidak dengan Rey." Kali ini ibu menangis.


Aldo terkejut mendengarnya, sungguh dia tidak pernah mengira bahwa pernikahan kakak iparnya yang terlihat sangat bahagia itu ternyata masih memiliki masalah yang belum usai. Selama ini Rey tidak pernah bercerita tentang orang tua Alisa yang belum menerimanya.


"Apa yang membuat orang tua kak Alisa tidak suka dengan kakak bu?" Aldo penasaran.


"Salah satunya karena Alisa berpindah Agama karena Rey, dan masih banyak lagi." Jawab ibu dengan terisak sedih.


"Jika kakak butuh bantuanku, aku akan siap menemaninya." Aldo merasa iba.


"Tidak nak, Reva butuh dirimu." Ibu menghapus air mata yang terus mengalir itu.


"Bagai mana dengan kak Alisa Bu?" Reva masih memeluk ibu.


"Dia juga sangat takut, dia tidak mau berpisah dengan kakak mu."

__ADS_1


__ADS_2