
David meletakkan dagunya di atas bahu kecil itu, membuat wajah cantik itu menoleh hingga ujung hidung mereka beradu, nafas wangi nan halus itu menyelusup menguasai aliran darahnya. David semakin tak kuasa menahan hasrat yang sudah sudah menari menguasai otak nya. Nafas hangat itu semakin memburu berulang-ulang menghisap aroma lembut yang membangunkan kelelakian seorang David. Perlahan David mendekatkan bibirnya, kembali mengecap manisnya madu yang hanya dia pemiliknya, menghisap sari bunga yang terasa manis menghanyutkan.
Sejenak David membuka matanya, melihat dari dekat wajah cantik itu sudah terpancing gelora asmara, David tersenyum dan mengulang aktifitas yang sama, kali ini tangan kokoh itu bergerak mencari tempat yang akan semakin membuat gadis itu lupa segalanya, menyelip dan mengusap begitu lincah semakin membuat mabuk gadis yang sedang mereguk rasa.
"David, apa kau sudah terbiasa?" Pertanyaan konyol itu membuat David terkekeh geli, tapi menjadi semakin gemas setelahnya.
"Aku ini pria dewasa sayang, hal seperti ini tak perlu belajar bagiku, bahkan aku bisa yang lebih dari ini." David setengah berbisik di telinganya, tak melepas tangannya yang masih sibuk bermain, kembali menautkan ciumannya.
Melihat gadisnya sudah semakin tak terkendali dan semakin hanyut, David tak mau menunda, membawanya di ranjang yang luas, empuk dan hangat ingin segera menyelesaikan tugas negara yang wajib di laksanakan. Semakin menyusuri jalan yang berliku, tak ketinggalan meninggalkan jejak-jejak cinta yang semakin membakar gadisnya. Cukup lama hingga membuat gadis itu merengek meminta yang lebih untuk di selesaikan.
Dengan semangat empat lima David tak akan menolak, justru rengekan itu sudah memanggilnya lebih jauh. Wajah cantik yang meminta itu sungguh semakin membuatnya menggila, permainan yang lembut dan hati-hati sedang mereka nikmati. David berhenti sejenak melihat sesuatu di bawah sana, senyum tipis mengembang melihat bercak merah sudah mengotori seprei ranjang berwarna putih itu, sungguh dia sedang merasa di atas awan memiliki gadis perawan yang rasanya sangat memabukkan. Permainan lembut itu kini sudah berubah sedikit kasar hingga akhirnya selesai dengan durasi yang cukup lama.
"Terima kasih sayang." David mengecup kening putih bersih itu, sungguh hatinya sedang sangat bahagia.
"Aku lelah." Ayu memeluk lengan David dan memejamkan mata, David tersenyum dan mengusap kepala istrinya, menyibak anak rambut yang berantakan bercampur keringat. Sungguh indah malam panjang itu mereka nikmati.
David tak juga terlelap, masih menyaksikan pemandangan yang indah, wajah damai yang sedang istirahat lelah karena ulahnya. Ingin rasanya mengulang kembali pertempuran panas yang baru saja usai, tapi David tidak tega membangunkan kekasih, hingga akhirnya ia ikut terlelap menyelam ke dalam mimpi.
Padi hari, tubuh yang lelah itu seakan enggan beranjak, sedikit mata sipit itu terbuka, tapi kemudian kembali merapat. Berbeda dengan David yang sedari beberapa menit yang lalu sudah terbangun lebih dulu, sungguh dia menikmati wajah tanpa polesan itu dengan senyum-senyum sendiri.
Hingga Ayu sadar dia sedang di perhatikan. "Kau sudah bangun?" Ucapnya matanya langsung terbuka lebar.
"Sudah dari tadi sayang, aku menunggumu membuka mata." David tersenyum dengan menunjuk sudut mata Ayu.
"Aku masih dingin." Ayu berbalik dengan menarik selimut semakin rapat di lehernya.
__ADS_1
"Aku akan menghangatkanmu." David membuka selimutnya dengan paksa, mengulang kembali pergulatan yang memabukan.
Tak terasa hingga matahari sudah mengintip di sela tirai jendela yang masih tertutup rapat, David beranjak lebih dulu, membiarkan istrinya kembali tertidur lelap. Mandi dan mengganti pakaiannya segera hingga memesan makanan online dia lakukan, sudah tentu gadis yang sedang tidur itu akan bangun dengan kelaparan. David meninggalkannya sebentar turun kebawah mengambil air dan menunggu makanan pesanannya segera tiba.
Menggeliat indah, tubuh yang lelah itu masih dalam balutan selimut, membuka mata dan melihat sekelilingnya tak ada siapapun. Sejenak dia terdiam, hingga akhirnya pintu kamar terbuka.
"Sayang kau sudah bangun?" David datang dengan membawa minuman juga makanan ke kamarnya.
"David kenapa di bawa ke sini, apa tidak lebih baik makan di bawah saja?" Ayu menatapnya sambil tengkurap dengan selimut membalut seluruh tubuhnya.
"Agar kita tak perlu keluar dari kamar ini." Ucap David, meletakkan makanannya laku mendekati Ayu. "Ayo mandi!" David mencoba menarik selimut yang di pakai Ayu.
"Tapi rasanya lelah sekali." Ayu malas beranjak.
"Bagaimana aku mandi jika begini?" tak bisa bergerak.
"Apa perlu di mandikan olehku?" David tersenyum nakal.
"Tidak, aku bisa sendiri. Tapi tolong buka selimutnya." Ucap Ayu sedikit manja.
"Baiklah." David melepas selimut itu perlahan, "Habis ini kita makan, kau pasti sudah lapar." Ucapnya menatap wajah yang sedikit meringis berendam di air hangat.
"Aku memang sangat lapar, cacing di perutku sudah mengamuk." Ayu masih menyandar di bahu David, yang dengan setia menemaninya mandi. Sungguh pria yang romantis!
Tak henti senyum bahagia merekah di wajah pria tampan itu, gadis cantik nan dingin sudah berubah hangat dan manja. Terlebih lagi dengan aktivitas semalam, semakin membuat jantung David berdag-dig-dug ria. Bahagianya memiliki gadis yang tak tersentuh siapapun, hanya David saja, hanya dia saja yang memilikinya.
__ADS_1
"David ambilkan handukku?" Tanpa malu-malu Ayu meminta David mengambilkan handuknya.
"Baiklah sayang, tunggu sebentar." David beranjak keluar mengambil handuk milik istrinya, lalu kembali masuk.
"Kau menghadap sana!" Ayu meminta David berbalik.
"Untuk apa?" David tidak mau, malah David tersenyum dan melingkarkan handuk dari belakang. "Ayo!" David mangajaknya berdiri dari air hangat yang masih dinikmatinya.
"Rasanya memang lebih baik." Ayu berjalan memegang tangan David.
"Tentu saja, setelahnya kita akan mengulang kembali." David meliriknya.
Ayu hanya bisa diam mengerucutkan bibirnya, tak ada alasan untuk menolak yang penting saat ini dia sudah sangat lapar. Harus segera menghabiskan makanan yang di beli David.
"Habiskan saja sayang, kau butuh energi yang banyak." David berkata serius.
"Kau sangat sopan diawal pertemuan, tapi sangat mesum setelah menikah." Ayu terus menyuapkan makanannya.
"Aku sudah sangat ingin punya anak darimu, jujur saja aku iri melihat kakakmu itu sudah mengandung." David menatap wajah Ayu.
"Itu butuh proses, mana ada baru dua hari menikah langsung mengandung!" Ayu sedikit meninggikan suaranya.
"Prosesnya harus di buat cepat, agar hasilnya tidak mengecewakan." David menggodanya, membuat istrinya merengut tentu membuatnya semakin terlihat lucu.
"Terserah kau saja." Ayu tak mau berdebat, membuat David tersenyum senang. Sudah tentu hari-harinya akan di habiskan berdua, saling mencintai , menyayangi dan menjaga. Cinta setelah menikah akan terasa lebih nikmat dan indah, karena tak ada batasan di dalamnya.
__ADS_1