
Cahaya matahari pagi menyelusup kedalam kamar bernuansa putih. Sepasang mata yang cantik dengan bulu mata yang lentik mengerjap perlahan terbuka. Terpampang jelas wajah tampan yang sedang tersenyum menatapnya dengan segudang cinta.
"Selamat pagi sayang." Begitu ucapannya selalu terdengar merdu.
"Selamat pagi mas." Reva mengangkat tangan kecilnya menyelusupkan di bahu yang kokoh dan hangat. Tapi mengurungkan dan memperhatikan tangannya, bahunya, juga area yang lain tentunya.
"Mas, kau membuat tanda sebanyak ini." Ucapnya, dengan mata yang melebar melihat seluruh tubuhnya begitu banyak stempel kepemilikan.
"Tentu saja." Aldo terkekeh geli melihat tingkah istrinya.
"Apa bibirmu tidak lelah." Matanya menatap heran dengan bibir sedikit terbuka sangat menggemaskan.
"Tidak. Hanya semalam aku sangat sibuk." Jawabnya memeluk dan menciumi pipinya dengan gemas sekali. Reva menikmati sentuhan hangat yang memanjakannya.
"Ini keterlaluan mas." Ucapnya kemudian, ia bersembunyi di dalam pelukan.
"Kau yang memintanya sayang." Bisiknya lagi menggelitik di telinga istrinya. Reva mengeratkan pelukannya malu sekali menatap wajah yang menyusuri seluruh tubuhnya tadi malam.
Tentu saja Aldo tidak akan melepaskan kesempatan saat tubuh polos istrinya menyentuh di dada, membangkitkan sesuatu di bawah sana. Mengunci tubuh kecil di bawah pelukannya dan mengulang permainan panas hingga berulang-ulang, tak pernah bosan hingga matahari sudah beranjak dari posisinya. Reva terkulai lemas menikmati puncak yang entah berapa kali, tapi berbeda dengan suami tampannya, masih tetap bersemangat dengan mata bening penuh cinta selalu setia memandang wajahnya, mencium dan memanjakannya.
"Kau pasti sangat lelah sayang, aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Aldo beranjak menuju kamar mandi meninggalkan istri kecilnya yang masih menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut.
Tak butuh waktu lama ia keluar dengan wajah yang fresh dan sejuk. Aldo sudah mandi terlebih dahulu, lalu mengajak istrinya untuk beranjak dari kasur.
"Mas!" Ucapnya dengan sedikit meringis. Aldo langsung menggendongnya ke kamar mandi dan menungguinya dengan sabar.
Baru setelahnya Reva mengganti baju yang panjang seperti hari biasanya untuk menutupi jejak-jejak cinta yang di buat suaminya. "Aku lapar mas." Tatapannya memohon.
"Mau makan di sini atau di bawah sayang?" Aldo mendekat mengelus pinggang istrinya.
"Di bawah saja mas, aku benar-benar lapar dan ingin makan yang banyak." Ucapan yang membuat geli suaminya, pertempuran yang panjang dan berulang-ulang membuat gadis kecil itu kelaparan. Aldo segera menggandeng dengan mesra, bahkan di saat makan Reva tidak boleh jauh darinya.
Reva menyandar di sofa ruang tamu. Sungguh ia kekenyangan hingga malas untuk naik keatas. Aldo benar-benar tidak melepaskan istrinya, di saat dudukpun Aldo memintanya menyandar di bahu dan memeluknya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya. Aldo mengantar istri kecilnya berangkat ke kantor terlebih dahulu, tak lupa ciuman hangat sebagai penyemangat untuk melakukan aktivitas hari ini. "Aku mencintaimu." Ucapnya sebelum melepaskan istrinya masuk kedalam, mengukir senyum bahagia di wajah cantik yang selalu dirindukannya. Aldo melajukan mobilnya menuju kantor Hartawan, pelan tapi pasti dengan hati yang berbunga-bunga dia sudah sampai di kantornya.
"Selamat pagi pak Aldo, anda di minta Bu Amelia ke ruangannya!" Asisten baru itu memberitahu, hanya di anggukinya.
"Selamat pagi Nyonya, ada apa kiranya anda memanggil saya." Aldo berbicara dengan masih berdiri.
"Duduklah." Ucapnya dengan sikap yang selalu arogan. Aldo mengangguk dan menurutinya.
"Aku sudah tau tentang pernikahanmu. Dan itu membuat putriku terluka." Berkata dengan tenang. Aldo masih menyimak. "Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali?" ucapnya lagi dengan mata yang menyipit.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti atau mengecewakan siapapun. Aku hanya sedang menjalani kehidupan yang tenang bersama istriku." Aldo menjawabnya.
"Apa kau tidak tertarik dengan tawaranku tempo hari?" Tanyanya.
"Maaf nyonya, aku sudah menikah. Tolong mengertilah. Akan lebih baik jika Bella menikah dengan orang yang mencintainya, bukan aku." Jawabnya tegas.
"Aku hanya tidak suka ditolak." Ucapnya terdengar kejam.
"Aku akan tetap menolak, jadi ku mohon padamu, bayarkan uang istriku." Aldo sangat serius.
"Kalau aku menolak?" Ucapnya berbalik.
"Oppa!" Gadis itu menatap wajah tampan yang baru saja membuka pintu. Aldo mendengus kesal tak menghiraukan, lalu masuk keruangannya.
"Oppa, tunggu!" Bella mengejar hingga keruangan Aldo.
"Ada apa Bella, aku sedang pusing." Aldo memijat keningnya tanpa melihat Bella.
"Aku hanya ingin bicara denganmu." Ucapnya lembut memandang penuh harap.
"Bicaralah."
"Apa kau membenciku?" Tanyanya ragu-ragu.
"Tidak, aku tidak membencimu Bella." Aldo menatapnya.
__ADS_1
"Oppa, aku tau kau tidak mencintai aku. tapi tidak kah kau menyayangiku sedikit saja?" Bella berkata dengan suaranya yang halus dan sendu.
"Bella, aku sudah menikah."
"Aku tau oppa, aku tidak akan menghancurkan pernikahanmu, aku sadar hatimu bukanlah milikku. Aku sudah mencoba melupakanmu, melupakan masa-masa dimana kau selalu menjagaku, tapi tidak bisa. Aku sangat mencintaimu Oppa, bahkan di saat aku masih duduk di bangku SMP." Ungkapnya dengan nada yang sedih.
"Kau masih kecil Bella, tak seharusnya kau mengatakan hal ini, kau perempuan." Aldo mencoba menasehatinya.
"Tidak oppa, aku sudah dewasa." Matanya mulai basah. "Aku sudah sangat faham dengan perasaan ini. Aku tidak bisa melupakanmu, aku sangat tersiksa karena mu." Suaranya sangat lirih.
"Lalu aku harus apa Bella, kau tau aku sangat mencintai istriku."
"Aku tau. Tapi sungguh aku tidak mau kehilangan perhatianmu. Menikahlah denganku oppa." Dia memohon.
"Itu tidak mungkin."
"Aku mau menjadi istri keduamu, aku tidak masalah kau memberiku sedikit waktu. Atau jika kau mau, aku siap menjadi simpananmu. Aku akan menyembunyikan diri dari istrimu. Aku tak apa.." Suaranya bergetar, dengan wajah yang memelas.
"Bella, aku--" Aldo jadi tak tau harus berkata apa. "Pulanglah Bella, tenangkan dirimu. Kau berharga, tidak pantas mengatakan hal itu. Aku mohon, pulanglah." Aldo berkata dengan pelan, berusaha menekan kekacauan yang ada dalam pikirannya.
"Aku harap kau memikirkannya." Ucapnya pelan sekali, menatap penuh harap kemudian melangkah keluar.
Aldo sudah sangat kacau pagi ini, "Apa sebaiknya aku mengundurkan diri?" Dia mengusap wajahnya menyandar dengan putus asa.
"David, Aku ingin bicara denganmu." Aldo mematikan teleponnya.
"Ada apa?" David duduk di hadapan Aldo di kantin tempat biasa mereka bicara.
"Aku akan mengundurkan diri." Ucapnya serius.
"Kalau begitu aku juga ikut." David tak kalah serius.
"Kau tetap disini, lagi pula kau masih aman tak ada masalah denganmu." Jelasnya, sambil mengaduk kopi.
"Kata siapa? setelah kau tidak ada semua pekerjaan akan di lempar padaku, dan akan meluapkan kekesalannya. Lagi pula cafe kita cukup berjalan dengan lancar, apalagi?" David sangat yakin kali ini.
__ADS_1
"Besok?" Aldo bertanya singkat.
"Besok setelah gajian." David tertawa senang. Aldo jadi ikut tertawa kecil dibuatnya.