
"Aku tidak mau!" jawabnya tak mau menatap wajah Adi.
"Aku laki-laki Erita. Jika kau mengandung anakku kau yang akan menanggung malu, bukan aku." ucapnya juga tak ingin terlihat memohon.
"Aku harap aku tidak pernah mengandung anakmu, aku tidak sudi memiliki anak dari manusia yang tidak punya hati sepertimu!" teriak Erita masih memendam amarah.
Adi tertegun, ia menatap wajah cantik Erita yang masih di selimuti amarah juga kecewa, jelas sekali gadis itu sedang terluka, ia menderita bahkan mungkin di setiap malamnya dia selalu menangis. Sungguh Adi merasa bersalah, tapi meninggalkan Erita juga bukanlah jalan terbaik, Adi menginginkannya, menginginkan hidup bersamanya dan memiliki anak dari dirinya.
"Tidak kah kau sadar sudah menghancurkan hidupku, cita-citaku, perasaanku juga semuanya! Jika kau mencintai aku seharusnya kau mendukung dan menjagaku bukan merusakku!" teriaknya lagi.
Kali ini Adi tak menjawab, menatapnya sendu dengan perasaan semakin bersalah.
"Aku tidak tau apa yang ada di otakmu itu, atau hanya mengutamakan nafsu saja sehingga tak lagi berfungsi untuk hal baik lainnya. Tidak semua wanita itu adalah penikmat perbuatan keji, tidak seperti wanita-wanitamu yang selalu pasrah ketika kau rayu dan kau sentuh, aku tidak begitu! Tidak kah kau bisa menghargai aku sedikit saja?" tangisnya kembali terdengar menyakitkan.
"Maafkan aku. Maafkan aku Erita, aku benar-benar bersalah padamu. Lalu aku harus bagaimana untuk menebusnya?" Adi menatapnya memohon dan menyesal.
Erita tak lagi menjawab dan masih melanjutkan tangisnya.
"Aku harus bagaimana Erita, katakan padaku!" Adi menatapnya dengan sendu. "Aku sangat ingin bertanggung jawab dan menikahimu, aku_"
"Aku sangat membencimu, rasanya aku lebih senang melihatmu mati daripada harus menikah denganmu." isaknya lagi, dia meluapkan semua kekesalan yang tertahan di dalam hati, di rumah harus pura-pura tak terjadi apa-apa, lalu di tempat kerja juga harus terlihat biasa saja.
Adi meraih tubuh kecil Erita dan memeluknya, meskipun gadis itu memberontak tapi tenaganya tak begitu besar, entah mungkin karena rasa putus asa yang selalu menyiksa sehingga membuatnya lemah.
"Aku benci padamu?" Erita memukul mencakar juga menggigit dada Adi, namun pria itu tak menjerit atau mengeluh. Ia tahu rasa sakit Erita jauh lebih besar dari itu.
"Pukul aku sepuas hatimu, aku rela dan tidak akan membentakmu lagi. Aku tidak akan memaksa, aku akan selalu menunggu jawabanmu hingga kau mau dan memaafkan aku. Maafkan keegoisanku, ampuni aku sayang." ucap Adi begitu dalam, tangan yang memukul itu lemah dalam tangis yang tak jua berhenti, pilunya hati terdengar ikut menusuk hati Adi yang selama ini nyaris lupa bahkan tak ingin mengingat bagaimana manisnya jatuh cinta. Semenjak bercerai, dicampakkan karena tak memiliki apa-apa, Adi menjadi seorang laki-laki kejam yang hanya mempermainkan wanita, seperti Reina dan banyak lagi yang lainnya. Adi jelas hanya mengajak mereka bermesraan seakan sedang bercanda, dia tak pernah menjanjikan pernikahan bahkan tak pernah membahasnya, hanya bersenang-senang hingga bosan dan mencampakkannya.
__ADS_1
Wajah mungil yang di penuhi air mata itu terlihat lemas tak bertenaga, hatinya jelas sedang sakit dan membuat ia tak berdaya. Adi mengusap pipi halusnya yang di penuhi air mata, melabuhkan kecupan tulus di kening Erita. Dia benar-benar jatuh cinta, merasa bersalah dan rela melakukan apa saja demi gadis yang yang sudah ia petik mahkotanya.
"Jangan menangis." bisik Adi pelan dan lembut. "Aku berjanji tidak memaksamu lagi, aku akan sabar menunggumu." Adi merayunya dan mengelus kepala yang menyandar lemas, akhirnya gadis yang kelelahan menangis itu dapat di peluknya juga.
Lama mereka hanya berdiam, Adi juga ikut terdiam. Tak berani mengajaknya bicara, bahkan bergerakpun dia enggan karena takut Erita kembali menjauh dari dirinya. Hingga matahari hampir bersembunyi, cahaya jingga menampakkan keindahannya. Adi memberanikan diri untuk bicara karena bahu pria itu sudah terasa nyeri karena menahan tubuh Erita yang tak juga bergerak.
"Lihatlah sore ini begitu indah, bagaimana jika kita berkeliling sebentar agar membuat mood menjadi lebih baik." ajaknya pelan, tangan besarnya mengusap pelan bahu Erita.
Erita tak menjawab, hanya merubah posisinya menyandar dan sedikit menjauh dari Adi.
Adi tersenyum sedikit, gadis itu sudah mulai luluh meskipun belum sepenuhnya. Dapat di lihat dari gerak-geriknya yang tak lagi marah dan melawan dengan ucapan Adi.
Adi mulai melajukan mobilnya menuju arah berlawanan dengan jalan pulang, pria itu terus saja menoleh dan memperhatikan gadis kecil itu walaupun tak ada timbal balik darinya. Hingga tak berapa lama mobil Adi berhenti di sebuah toko perhiasan, pria itu turun dan mengajak Erita ikut dengannya.
Tangan kecilnya di raih dan di genggaman oleh Adi, pria itu senang sekali dapat berjalan berdua dengan Erita.
"Aku tidak butuh ini semua." jawab Erita tetap berdiri dan tak melirik apapun juga.
"Kau butuh sayang, kau wanita." ucap Adi pelan, ia ingat dulu istrinya pernah minta di belikan perhiasan tapi ia tak memiliki uang, hingga membuat istrinya selingkuh dan tak menolehnya lagi.
Erita menatap Adi dengan malas.
"Aku pilihkan ya?" tanya pria itu, tapi tak butuh jawaban ia langsung memilih yang menurutnya paling pas dan bagus untuk Erita.
"Berapa?" tanya Adi pada gadis belia penjaga toko.
"Seratus Dua puluh Lima Kak." jawabnya ramah.
__ADS_1
Adi mengeluarkan kartu kredit dan membayarnya.
"Terima kasih." penjaga toko itu mengembalikan card dan kertas pada Adi, namun pria itu sedang menjatuhkan sesuatu dan mengambilnya. sehingga Erita terpaksa mengambil card dan sebuah kertas tanda lunas.
"Note : Seratus Dua Puluh Lima Juta."
"Hah!" Erita menatap tak percaya.
"Ada apa sayang?" Adi segera mengajak Erita pergi.
"Untuk apa kau membelinya?" Erita menyerahkan card dan kertas itu pada Adi.
"Aku membelinya untukmu, bukan untuk apa!" jawab Adi kali ini merangkul bahu Erita.
"Sudah ku bilang aku tak butuh itu." jawab Erita sudah duduk di dalam mobil.
"Aku tidak menanyakan butuh atau tidak, aku ingin memberikannya padamu, ini!" Adi meraih tangan Erita dan memberikannya.
"Aku tidak mau!" ucap Erita kesal.
"Kalau kau tidak mau kau buang saja nanti setelah aku tak melihatnya. Sekarang kau bawalah pulang dan buang setelah aku pulang." pinta Adi, menatap Erita dengan tatapan tulus.
Akhirnya Erita menyerah, gadis itu tak lagi protes hingga mereka tiba di depan rumah Erita.
"Aku mencintaimu Erita, ucap Adi tulus sebelum membiarkan gadis itu turun.
"Aku tidak!" jawab Erita tak peduli, namun membuat Adi tertawa dan menyukai semua sikap Erita.
__ADS_1