
"Ada apa?" Rey terkejut tiba-tiba Aldo berhenti.
"Tidak kak, hanya merasa jantungku berdetak keras sekali." Wajahnya tegang dan juga heran.
"Mungkin hanya perasaanmu saja, minumlah dulu." Rey menunjuk air mineral yang di selipkan di mobilnya.
Aldo mengambil botol dan minum beberapa teguk, sejenak lalu kembali mengemudikan mobilnya.
Hingga tiga puluh menit berlalu Aldo masih merasa tidak tenang dan tidak nyambung diajak mengobrol. Ponselnya berbunyi membuat Aldo menepikan mobilnya sejenak.
"Hallo."
"Kau ada dimana?" Suara David terdengar tegang sekali.
"Aku bersama kak Rey masih di jalan." Jawabnya datar.
"Sebaiknya kau kembali, Reva dan Ayu kecelakaan. Sekarang mereka berdua ada di rumah Sakit."
Tangannya bergetar meletakkan ponselnya sembarangan di depan, menyalakan mesin dengan terburu-buru.
"Ada apa?" Rey ikut tegang melihat wajah Aldo memucat.
"Reva kecelakaan kak." Aldo menjawab tanpa melihat.
"Aku saja yang menyetir." Rey mengambil alih kemudi, wajah Aldo semakin terlihat cemas menyandar beralih ke samping.
Dua jam sudah berlalu, tentu itu sangat lama bagi Aldo. Hingga tiba di rumah sakit dia langsung berlari mencari keberadaan istrinya.
"David dimana istriku." Tanyanya sangat cemas sekali, rambutnya sudah acak-acakan karena berlari.
"Disana." David menunjuk ruang rawat. Aldo berjalan cepat menuju pintu yang di maksud.
Berkali-kali Aldo menelan ludah yang terasa mengganjal. Matanya berkaca-kaca menatap istrinya berbaring memejamkan mata.
"Sayang." Aldo memegang tangan yang halus itu. Sepertinya dia belum sadar.
"Pak, anda keluarganya?" Dokter wanita itu masuk.
"Saya suaminya, bagai mana istri dan anak saya dok." Tanyanya bergetar.
"Istri dan kandungannya baik-baik saja pak, dia hanya terkejut karena jatuh terpental. Tidak ada luka atau cidera serius, beruntung istri anda jatuh di tempat yang banyak rumputnya." Dokter muda itu menjelaskan dengan tersenyum menenangkan.
"Tapi dia belum sadar?" Aldo masih sangat cemas.
__ADS_1
"Mudah-mudahan sebentar lagi pak, harap sabar ya, istri anda tidak apa-apa." Ucapnya lagi, Aldo sedikit tenang.
Sementara di luar, Rey tak kalah cemas sedang menemui David.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Rey melihat wajah David yang sangat tegang.
"Mereka kecelakaan tak jauh dari proyek hotel Anggara. Ayu terseret dan luka parah, tangannya patah kepalanya berdarah banyak sekali." David tampak ngeri membayangkannya.
"Bagai mana Reva?" Tanya Rey lagi.
"Reva tidak luka, hanya pingsan. Dokter bilang efek terkejut." Jelasnya.
Lalu Aldo juga sudah keluar mendekati Rey dan David.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rey sangat khawatir.
"Belum sadar kak. Tapi dokter bilang dia baik-baik saja." Aldo masih berdiri sambil menoleh pintu yang baru saja dia tutup.
"Ada yang lebih menakutkan dari pada kecelakaan ini." Ucap David tiba-tiba, membuat Aldo dan Rey menolehnya.
"Orang yang menabraknya adalah pak Hartawan, dan dia Meninggal." Ucap David tampak putus asa.
Aldo terduduk lemas mendengarnya, Sudah pasti ini akan menjadi masalah besar. "Dimana pak Hartawan sekarang?"
Tak lama kemudian datang wanita arogan dengan menangis terisak. Wanita itu berjalan cepat di iringi bahawannya menuju ruangan jenazah. David yang melihat itu langsung berdiri berbeda dengan Aldo dia malah pergi masuk ke ruangan istrinya di rawat.
Aldo menatap istrinya dari dekat sekali, mengelus kepala dan mencium keningnya. "Bangunlah sayang, aku merindukan senyummu." Ucapnya lirih di telinga istrinya. Aldo juga mengelus perut yang tampak naik turun karena nafas yang masih teratur, Aldo juga menciumnya lama sekali.
Mata yang terpejam itu sedikit mengernyit, tarikan nafasnya lebih dalam perlahan dia membuka mata. Pemandangan indah sekali melihat suami tercinta memeluknya erat dan membenamkan wajah tampannya diantara dada dan perut, dia selalu menyayangi sepanjang waktu. Reva mencoba mengangkat tangannya dan mengelus rambut yang halus itu, yang menurutnya menarik dan seksi berpadu dengan wajah yang terlihat menyeringai hangat setiap kali bersamanya.
"Sayang kau sudah sadar." Aldo menggenggam jari kecil yang mencoba meraih rambutnya.
"Mas." lirihnya.
"Iya sayang, apa ada yang sakit?" tanya Aldo cemas. Reva menggeleng pelan.
"Kenapa kau pergi tanpa memberitahu ku. Jika kau ingin pergi aku bisa membatalkan perjalanan ku." Aldo meluapkan kekhawatirannya.
"Maaf mas." Jawabannya pelan, air matanya sudah jatuh lebih dulu.
"Aku sangat takut sayang, takut kehilanganmu. Kau tau aku sungguh tidak mampu jika itu terjadi." Ungkapnya sambil meremas jari tangan yang lembut itu.
"Apa Ayu baik-baik saja mas?" wajahnya terlihat khawatir.
__ADS_1
"Ayu belum sadar sayang. Ada David menjaganya."
"Aku ingin melihatnya." Reva ingin bangun dari tidurnya.
"Nanti saja, setelah kau benar-benar pulih." Aldo menahannya dan kembali memeluknya hangat.
"Aldo, aku ingin bicara." Rey memanggil adik iparnya keluar. Sekilas dia melihat adiknya sudah sadar, tapi wajah Rey sangat tegang sekali.
"Kau tunggu sebentar ya, aku tak akan lama." Aldo mengelus kepalanya lalu keluar mengikuti Rey.
"Ada apa kak?" Aldo tampak penasaran.
"Pihak Hartawan menuntut istrimu dan ayu, mereka meminta polisi menahan Reva dan Ayu." Rey menunjuk polisi yang sedang berdiri di pojok ruangan.
Aldo terbelalak tak percaya, tubuhnya lemas seketika. Tentu saja saat pertama kali mendengar tentang Hartawan perasaan Aldo sudah tidak enak. Terbukti kini hal yang menakutkan akan terjadi, Aldo bergegas masuk menemui istrinya.
"Sayang, bagai mana kejadiannya hingga kau kecelakaan?" Aldo bertanya tergesa-gesa.
"Kami sedang berhenti mas, aku bahkan belum sempat menutup pintu saat akan kembali pulang." Reva menjelaskan.
"Kenapa kau bisa berhenti di tempat kejadian itu?" Aldo masih penasaran.
"Aku membeli pisang, ada kakek tua menjual pisang disana?" Jawabnya jujur.
"Baikah." Aldo kembali keluar meninggalkan Reva yang masih bingung.
"Kak, mereka dalam posisi berhenti, mobil pak Hartawan yang menabrak bukan Reva dan Ayu. Kenapa jadi di tahan?" Aldo tidak terima.
"Tidak tau, mungkin untuk dimintai keterangan." Rey menjelaskan meskipun wajahnya tak kalah cemas.
"Aku akan menemui pengacara temanku." Aldo meninggalkan Rey tanpa meminta persetujuan.
"Mereka tidak terima atas kematian pak Hartawan." David mendekati Rey yang tampak bingung sekali.
"Lalu bagaimana?" Rey kehabisan kata-kata.
"Pak Hartawan itu ayah kandung Ayu kak, Mereka akan semakin menyulitkan keadaan. Aku yakin itu pasti mereka lakukan." Jelas David menutup wajahnya.
Tapi tidak ada hubungannya dengan adikku?" Rey kesal dengan apa yang terjadi.
David menoleh Rey sejenak. "Anak pak Hartawan juga menginginkan adik iparmu, itu alasan Aldo mengundurkan diri." Jelas David lagi.
Sudah pasti membuat Rey semakin khawatir. Artinya mereka semua dalam keadaan tidak baik-baik saja terlebih lagi adiknya, dia sedang mengandung dan harus di tahan.
__ADS_1