Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
177. Heran


__ADS_3

Sebenarnya Erita tidak suka mengandung anaknya, ia malas menjawab Adi.


Hingga beberapa saat setelahnya, mereka sudah selesai makan dan menghabiskan semua, terlebih lagi Erita, gadis itu sudah kekenyangan tak mau lagi bicara hanya menyadar saja.


Adi membeli jeruk dan beberapa buah lainnya untuk Erita, ia takut yang di ucapkan pelayanan Restoran tadi benar bahwa ibu hamil muda akan mual setelah makan.


"Mau jeruk, atau anggur, atau yang mana sayang?" tanya Adi melayani Erita dengan sepenuh hati.


"Tidak." jawab Erita tak mau melihat buah yang di beli Adi.


"Baiklah, kita pulang atau mau membeli sesuatu?" tanya pria itu lagi, hatinya sedang berbunga-bunga mendengar kemungkinan Erita mengandung anaknya.


"Pulang saja, aku mau tidur." jawab Erita mulai merasa berat membuka mata.


"Baiklah, kau tidur di mobil juga tak apa-apa sayang, aku akan menggendongmu nanti." Adi tersenyum menggodanya.


"Jangan macam-macam!" Erita menatap tajam pada Adi.


"Aku sudah pernah melakukannya, apa lagi yang kau takutkan?" Adi mendekatkan wajahnya dan mengingatkan kembali.


"Tapi tetap saja_"


"Aku sudah merasakan semuanya." Adi tersenyum nakal, membuat gadis itu semakin kesal. "Tapi yang ini belum ku rasakan." Adi menunjuk bibir Erita yang sedang mengerucut.


"Harusnya kau tidak menyentuh yang lebih berharga." Erita kembali menunjukkan kekesalannya, tapi terlihat berbeda kali ini, ucapan itu sedikit berani dan ada nada manja di dalamnya.


"Aku sedang tergila-gila padamu, hingga apapun caranya akan ku lakukan untuk mendapatkanmu." Adi merayunya lagi.


Erita diam dan malas menatapnya, gadis itu kembali kesal. Adi memeluknya erat dan mencium pucuk kepala Erita dengan penuh kasih sayang, menghadirkan rasa nyaman dan hangat untuk wanita yang dia yakini sedang berbadan dua.


"Sudah, aku ingin istirahat." Erita menyingkirkan tangan Adi, walau tak lagi melawan sekuat tenaga.


"Aku mencintaimu Erita." lagi ucapan itu ia ulangi.


"Aku tidak." dengan jawaban yang sama.


"Tak masalah, kau tetap milikku." jawab Adi tersenyum.


"Ish." Erita membuang pandangannya.


"Aku sudah memilikimu." ucap Adi lagi membuat wajah Erita memerah.


"Bisa diam tidak? Cepatlah menyetir aku ingin pulang!" teriaknya.

__ADS_1


"Ia sayang, jangan marah-marah, itu membuat aku ingin mengulanginya." jawab Adi menyalakan mesin dan melirik sekilas.


"Jangan coba-coba, aku akan memukulmu dengan sepatu jika kita mengulanginya." Erita mengangkat sepatu miliknya.


"Sepatumu sudah lama sayang, itu talinya sedikit mengelupas." Adi begitu memperhatikan semuanya.


"Aku belum sempat membeli yang baru, aku sibuk." jawabnya memejamkan matanya lagi.


"Kau beli online saja, aku akan mengirim uang ke rekening mu." Adi menoleh sekilas dengan tangannya sibuk memutar kemudi.


"Aku tidak butuh kiriman uang darimu." jawab Erita malas.


"Aku tidak peduli kau butuh atau tidak, anakku akan butuh uang untuk makan yang banyak, dan membeli apapun yang ibunya suka." Adi tak mau di tolak.


"Aku tidak butuh apapun?" teriak Erita lagi.


"Iya." jawabnya mengalah, tak di sangka mencintai Erita adalah hal yang sangat indah. Jangankan menyesal, malah ia bersyukur sudah merenggut kesucian Erita.


"Aku rasa kalian sedang memiliki hubungan serius?" Dev sengaja duduk di depan rumahnya dan berkata menyindir dua orang yang baru saja turun dari mobilnya.


"Tentu saja, kami akan segera menikah." jawab Adi tersenyum menang.


"Apa?" kali ini Aji yang keluar dan mendengarkan ucapan Adi teman kerjanya.


Adi mendekati temannya dengan berani, "Aku ingin bicara denganmu." ucap Adi serius.


Aji masih terkejut dan sekilas melihat adiknya yang hanya menunduk, tapi kemudian mereka masuk dan berbicara di dalam rumah.


Dev terdiam dengan mulut sedikit terbuka, ia sama sekali tak menyangka gadis yang baik seperti Erita pada akhirnya di dapatkan oleh laki-laki brengsek seperti Adi. Ingin sekali ia marah dan meninju wajah pria itu, tapi sungguh ia tak punya hak dan, mungkin sudah jodohnya. Dev duduk dan menghembuskan nafas pasrah.


Sementara di dalam Aji masih tak membuka suara, belum habis terkejut pria lugu itu kali ini semakin di buat terkejut menyaksikan adiknya duduk di sofa panjang, dan Adi langsung mendekatinya, di hadapannya?


"Aku datang sekaligus mengantarkan Erita pulang, aku ingin melamarnya." ucap Adi tanpa ragu-ragu.


"Erita!" Aji memanggil adiknya.


"Aku sedang memikirkannya." jawab Erita.


Ketiganya terdiam sesaat, sibuk dengan berbagai pikiran masing-masing.


"Ku harap, kau memberikan restu padaku." Adi kembali bicara. "Aku tahu aku bukan laki-laki yang baik, bahkan sangat buruk. Tapi aku akan berubah, aku tidak mungkin selamanya seperti itu." ucap Adi lagi bersungguh-sungguh.


"Aku tidak bisa memutuskan apa-apa, semuanya tergantung Erita, dan jika dia sudah siap, kau datang ke kampung halamanku, ke rumah ayah ku." jawab Aji tegas.

__ADS_1


"Aku setuju, dan sekarang tinggal menunggu jawabanmu." ucapnya lembut menoleh Erita dan tersenyum, meskipun yang di lihat hanya menunduk saja.


"Aku akan mengabarimu besok siang." jawab gadis itu dengan suara khas dirinya.


"Iya, aku akan menunggumu." jawab Adi lembut sekali.


Aji hanya memperhatikan dan mendengar saja, sepertinya dia memang benar-benar jatuh cinta pada Erita. Pria mesum itu tak pernah selembut itu dengan wanita selama ini, Aji tentu tahu bagaimana sikapnya yang hanya bermain-main saja.


"Pulanglah!" Erita sedikit memerintah Adi untuk segera pergi, wajah cemberutnya terlihat lucu.


"Aku haus." jawab Adi ingin mengulur waktu.


"Aku lelah." Erita menjawab kesal.


"Baiklah." Adi tersenyum mengalah. "Aku pulang dulu, besok sore aku akan datang lagi." ucapnya pada calon kakak ipar sekaligus teman kerjanya itu.


Aji hanya mengangguk, dia memang tak banyak bicara, sikapnya selalu sopan kepada siapa saja.


Erita beranjak dari duduknya ingin segera ke kamar, setelah suara deru mobil itu menjauh.


"Kau serius ingin menikah dengannya?" tanya Aji menghentikan langkah Erita.


"Aku masih mempertimbangkan lamarannya." jawab Erita.


"Jika masih ada yang lain, mengapa harus dia?" Aji masih tak percaya.


"Entahlah Kak." jawabnya melangkah ke kamar.


Aji jadi bingung sendiri dengan adiknya, mengapa gadis itu terlihat kusut.


"Aji!"


Suara seseorang memanggilnya di pintu.


"Iya." Aji keluar karena ia tahu Dev tak ingin masuk ke dalam.


"Serius mereka akan menikah?" tanya Dev sudah tak sabar.


"Benar, tapi Erita masih memikirkan lamarannya." Aji duduk di depan rumah bersama Dev.


"Padahal aku berharap adikmu mendapatkan pria yang lebih baik." Dev terlihat sedih, entah karena Erita akan menikah dengan Adi atau karena ia juga tak rela, mungkin saja kedua-duanya.


"Aku bingung padahal selama ini Erita sama sekali tidak suka padanya, bisa di bilang takut. Tapi ku lihat Adi sangat menurut pada Erita, bahkan adikku berani memerintahkannya."

__ADS_1


__ADS_2