Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
83. Laki-laki tak berguna


__ADS_3

Sabtu yang dinanti, seluruh keluarga sudah berkumpul dan berpakaian rapi hanya tinggal menunggu keluarga calon pengantin pria untuk segera tiba.


Ayu sudah di rias dengan cantik dan anggun, make up yang natural namun terlihat mewah berpadu padan dengan gaun putih panjang dengan sulaman benang emas dan butir mutiara ungu. Senyumnya mengembang dengan tarikan nafas yang lega.


"Assalamualaikum warahmatullah." Terdengar salam nan hikmat penuh keberkahan dari pihak keluarga David memasuki ruangan besar di rumah itu.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab salam dan sorai bahagia dari tuan rumah yang sudah menanti, semua orang terlihat lega.


Sesaat lalu semua bersiap dengan posisi kedua calon pengantin sudah berhadapan dengan penghulu, Ayu terlihat sangat gugup menautkan kedua tangannya yang terasa dingin dan kaku. Hatinya tak tenang jantungnya berdegup kencang, ini adalah langkahnya menuju kehidupan baru.


"Saudara David Abdillah, apakah saudara sudah mengenal saudari Ayu Larasati secara keseluruhan, keluarga, silsilah juga perihal pribadi yang lain?" Penghulu yang tampil berwibawa itu bertanya tegas.


"Sudah pak, saya sudah tau semua hal dari calon istri saya." David menjawab serius.


"Bagaimana dengan keluarga saudara David?" Tanyanya lagi.


"Kami sudah tau dan sangat menerima." Ayah David menjawab pasti dan terlihat berwibawa, tentulah hal itu perlu di pertanyakan, mengingat Ayu adalah anak yang lahir dari hubungan tanpa ikatan pernikahan atau di sebut gadis tak bernasab. Tak jarang kita jumpai seorang gadis tak bernasab menerima hujatan atau di sebut (anak haram) atau mungkin di tolak oleh keluarga pengantin pria saat mengetahui hal itu ketika akad di laksanakan, tapi sebagian tidak mempermasalahkan. Sungguh mereka tidak bersalah, jika boleh jujur mereka tak ingin di lahirkan dengan menyandang status demikian.


"Baiklah, saya selaku wali nikah dari saudari Ayu Larasati berharap akad nikah ini berjalan lancar sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan." Ucapnya mengakhiri tanya jawab.


"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan engkau David Abdillah bin Muhammad Yusuf dengan Ayu Larasati binti Marina Syafitri, dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas di bayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Larasati binti Marina Syafitri dengan mas kawin tersebut di bayar_"

__ADS_1


"Tunggu!" Suara berat itu menghentikan akad yang di ucapkan David dan semua orang menoleh terkejut.


"Aku yang akan menikahkan putriku." Ucapnya mendekat.


"Ayah." David menyapanya, membuat Ayu semakin terkejut, matanya memerah dengan nafas yang sudah memburu tak beraturan., pria itu adalah orang yang sangat di bencinya sampai sekarang.


"Untuk apa kau datang kemari?" Ayu berdiri menatap tajam pada lelaki paruh baya itu, laki-laki itu terlihat kurus dan pucat sekali.


"Aku akan menikahkanmu, kau putriku!" Lirihnya.


"Kau bukan Ayahku!" Jawabnya dingin dan di penuhi amarah.


"Aku ayahmu Ayu, maafkan ayah karena tak menganggapmu selama ini, aku bersalah." Ucapnya memelas.


"Maafkan ayah nak, aku memang salah, izinkan aku menebus kesalahanku, izinkan aku menikahkanmu." Pria itu memohon, air matanya sudah turun.


"Kau menangis? Menangis darah sekalipun kau tidak akan bisa menikahkan aku, karena aku bukan anakmu. Anakmu sudah mati karena ulahmu sendiri, dia bunuh diri karena tidak tahan menghadapi rentenir penagih hutang yang mengincar tubuhnya. Dia tidak tahan melihat ibu selalu tersiksa, dia tidak tahan hidup begitu menderita." Ayu menangis pilu disaksikan semua orang dan tak ada yang berani berbicara. Termasuk pria tua itu dia tak mampu berkata, dia menangis sedih menunduk menyesal dengan tubuh kurus dan pucat sekali.


"Kau tau, aku harus hidup di jalanan, bekerja apa saja untuk makan dan sekolah yang begitu menyedihkan, aku kekurangan dalam segala hal, aku bekerja hingga malam, terkadang harus berkelahi karena kehidupan di luar sana sangatlah kejam. Apa kau melihatnya? Apa kau pernah mengerti aku menderita? Bahkan kau tidak pernah menyentuhku dari saat aku dilahirkan. Kerjamu hanya bersenang-senang mabuk dan judi saja. Seharusnya yang mati itu bukanlah kakak ku, tapi kau yang sudah sangat tidak berguna!" Ayu meluapkan semua kepedihan yang dia alami, yang selalu dia tutupi, dan selalu berusaha terlihat baik-baik saja. "Pergilah, aku tidak mau melihatmu." Ayu terduduk lemah." Tangisnya masih tak bisa berhenti.


"Aku menjadi begitu karena ibumu tidak mencintai aku nak." Jawabnya dengan tangis yang terputus-putus.


"Lalu apa arti kelahiran kakakku, bukankah dia anakmu?" Ayu menjadi geram. "Kau juga memukuli ibuku, kau sangat kejam tidak pantas di panggil Ayah." Ayu menatapnya penuh amarah, matanya tajam dan menakutkan, membuat pria itu semakin menunduk.

__ADS_1


"Dan hari ini kau sudah menghancurkan hari pernikahanku, kau membuatku malu." Ayu meninggalkan ruang tamu, dia berlari keluar di susul David. Sedangkan di dalam ruangan orang-orang menjadi riuh dengan berbagai cerita dan pertanyaan.


"Pak, mohon bersabar ya, tunggu sebentar lagi pernikahan ini akan tetap di lanjutkan." Aldo meminta penghulu yang masih terkejut itu untuk bersabar.


"Baik pak." Ucapnya, beruntung penghulu itu mengerti.


"Kalau begitu silahkan menikmati hidangan terlebih dahulu, setelahnya kita lanjutkan acara inti, semoga ini semua baik-baik saja.


Di luar rumah ibu, David masih menahan Ayu untuk tidak meninggalkan rumah. Dia berusaha untuk menenangkan hati calon istrinya.


"Dari mana pria itu tau aku disini? Aku yakin kaulah yang memberitahunya." Ayu memarahi David sambil menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak sengaja bertabrakan dengannya di jalan, ponselku jatuh dia melihat fotomu dan bertanya. Aku tak mungkin berbohong dan ternyata dia sedang sakit, dia baru saja keluar dari rumah sakit. Kau tahu, dia sakit kangker paru-paru sayang." David memegang tangan ayu dan berusaha meyakinkannya.


"Lalu apa? stelah sekarat dia mencariku?" Ayu masih menangis dan kesal.


"Tidak begitu, bukankah menolong orang yang sakit juga mendapat pahala, dia butuh banyak uang untuk berobat, apa salahnya kita bantu sayang." David merayunya.


"Aku tidak mau, biarkan saja dia mati." Ayu meluapkan amarahnya.


"Sayang kalau membiarkan dia mati itu dosa." Ucap David mengusap pundaknya. "Kita lanjutkan akadnya ya! Bukankah ini sudah kita tunggu-tunggu sejak lama, apa harus di tunda lagi?" David merangkul Ayu dan mengajaknya duduk di pinggiran taman kecil rumah ibu.


Ayu sudah sedikit tenang, dia hanya sesenggukan dan tidak menjawab.

__ADS_1


"Bayangkan setelah ini kita akan selalu bersama, biarkan pria itu menyaksikan pernikahan kita. Itu tidak akan mengganggu." David tak melepaskan pelukanya.


__ADS_2